Kabar JakartaNews With Data

Bahaya Dokteroid dan Dampaknya

Dokter Ilegal

  • Rubrik : Gaya Hidup
  • Penulis : Muhammad Fajar Nur
  • Terbit : 2 pekan, 4 hari lalu
Bahaya Dokteroid dan Dampaknya
Ilustrasi.(Ist)

KabarMakassar.com --- Perkembangan teknologi diikuti kemajuan pendidikan masih belum dapat menyelesaikan maraknya permasalahan yang muncul akibat kehadiran Dokteroid.

Dokteroid merupakan istilah bagi seseorang yang bukan dokter namun bertindak sebagaimana dokter sesungguhnya seperti melakukan praktik kesehatan sebagai seorang dokter.

Walau telah diatur dalam Undang-undang nomor 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran dan ditegaskan dalam pasal 29 terkait praktik dokter, Praktik Dokteroid masih dapat ditemukan di masyarakat.

Dr dr Armyn Nurdin M.Sc, Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Alauddin, Kota Makassar mengatakan sangat mudah dalam melihat apakah sebuah praktik kesehatan dilakukan oleh Dokteroid atau Dokter Asli.

"Dalam pasal 29 dinyatakan bahwa setiap dokter yang akan melakukan praktik kedokteran wajib memiliki surat tanda registrasi dokter yg diterbitkan oleh konsil kedokteran indonesia, didalam ayat 3 dinyatakan syaratnya adalah memiliki ijazah dokter, memiliki surat pernyataan telah mengucapkan sumpah dokter, memiliki sertifikat kompetensi dan mematuhi etika profesi," ungkap Armyn saat diwawancarai oleh Tim Redaksi KabarMakassar.com, Minggu 4 Februari 2018.

Armyn menambahkan dalam mengidentifikasi Dokteroid, masyarakat dapat meminta Surat Izin Praktik Dokter yang diterbitkan oleh Dinas Kesehatan, Surat Tanda Registrasi dan Ijazah dokter kepada dokter yang bertugas.

"Dapat juga dilihat di papan praktik dokter. Kalau tidak memiliki papan praktik dokter, ya masyarakat jangan berobat kesitu," tambahnya.

Sepanjang 2017 banyak dilaporkan tentang Dokteroid ini. Seperti contoh pada bulan Mei 2017 diringkus dokter kecantikan palsu yang berpraktik di toilet di sebuah mal di Jakarta Pusat hingga kasus "Jeng ana" yang pada bulan Juni 2017 memberikan pendapat medis serta melakukan pemeriksaan-pemeriksaan medis padahal tidak memiliki kompetensi sebagai tenaga medis.

Armyn menjelaskan banyaknya kasus Dokteroid didukung karena nafsu seseorang untuk mendapatkan uang atau keuntungan material dari masyarakat yang mudah tertipu dan diperburuk dengan kondisi stakeholder penting seperti pemerintah dan Media Massa yang "Melegalkan" kehadiran Dokteroid.

"Telah di "legalkan" dalam tanda petik adalah karena media TV misalnya menjadikan Dokteroid sebagai narasumber, berarti TV mengakui atau membenarkan kelakukan dokteroid dan membuat masyarakat mempercayai dokteroid,  hal ini banyak terjadi. Ini berarti TV menyebarluaskan pembodohan pada masyarakat di bidang kedokteran," ungkapnya.

Armyn menjelaskan, akibat kehadiran Dokteroid ditengah masyarakat dapat mempengaruhi kondisi medis masyarakat hingga kinerja masyarakat untuk lebih produktif.

"Yang dapat terjadi adalah

  1. Efek samping dari obat yg dikonsumsi, bisa berakibat fatal.
  2. Pasien terlambat  memperoleh pengobatan dokter karena berharap sembuh oleh pengobatan dokteroid. Banyak pasien yang dalam keadaaan parah baru berobat kedokter misal kanker sudah dalam stadium empat baru berobat kedokter karena tertahan oleh dokteroid.
  3. Banyak pasien yang tidak berobat kedokter karena mempercayai  dokteroid, akibatnya banyak masyarakat kita yang tidak produktif karena sakit menahun.  
  4. Produktifitas perusahaan akan berkurang disebabkan oleh SDM atau karyawan yang sakit menahun karena berobat kedokteroid," tambah Dekan Fakultas Kedokteran tersebut.

Jumlah Dokteroid yang datanya telah dihimpun dan telah dilakukan penindakan baik oleh Dinas Kesehatan atau aparat penegak hukum sepanjang 2017 sekitar 15 kasus dengan kasus terbaru yang berhasil diungkap oleh POLRI adalah penjualan surat sakit palsu. 

Diharapkan agar masyarakat lebih teliti dalam melihat kehadiran orang-orang yang memberikan saran dan melakukan segala bentuk tindakan medis namun tidak mempunyai bukti yang valid terkait status profesionalnya sebagai tenaga medis yang diakui.