Kabar JakartaNews With Data

Tahun Ini, 3,3 Juta Hektar Hutan Telah Disertifikasi

  • Rubrik : Peristiwa
  • Penulis : Firman
  • Terbit : Terbit 7/3/18
Tahun Ini, 3,3 Juta Hektar Hutan Telah Disertifikasi
(Ki-ka) Jesse Kuijper (The Borneo Initiative Board member), Iman Santosa (Vice Chairman APHI), kata Tuti Prahastuti (Ditjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan), Ida Bagus Putera Parthama (Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari - Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI), Rulita Wijayaningdyah (Chairperson FSC International Board of Director)

KabarJakarta.com, Jakarta-- Peningkatan profil hijau sektor kehutanan Indonesia di pasar internasional perlu dilakukan secara kolektif. Sama halnya dengan kemitraan kami dengan organisasi lain dalam sertifikasi hutan. "kami juga perlu bergabung sebagai organisasi dalam platform bersama untuk mempromosikan ekspor industri kayu bersertifikasi ini," kata Direktur Program The Borneo Initiative Wim Ellenbroek

Dia menjelaskan dengan slogan  produk kayu bersertifikasi Indonesia berkelanjutan dengan kualitas dijamin. Hal ini mencerminkan potensi produksi hutan Indonesia yang besar, yang didukung kualitas dan keandalan industri kayu Indonesia.

"Hutan produksi kita menghasilkan kayu yang legal dan berkualitas tinggi setiap tahun," jelas Iman Santosa, Vice Chairman APHI. Dengan kemajuan dalam pengelolaan hutan lestari dan sertifikasi hutan, lanjutnya hutan produksi ini dapat menjadi tulang punggung kebijakan ekonomi hijau di tingkat propinsi.

Produk hutan bersertifikat dan kegiatan sertifikasi PHL sejalan dengan upaya pemerintah untuk memperbaiki dan memperkuat akses dan ekspor ke pasar luar negeri. "Meskipun kami memandang masih adanya kebutuhan untuk memperbaiki konteks operasional dalam hal pajak, peraturan ekspor dan fasilitas infrastruktur," tuturnya

Dia mengaku pihaknya juga sedang melakukan proses untuk meningkatkan upaya promosi pasar dan akses pasar melalui kerja sama antara APHI dan PNORS di Indonesia untuk mengembangkan Sistem Pertukaran Karbon di Indonesia (Indonesian Timber Exchange System). 

"Kami melihat negara lain lebih aktif mempromosikan industri kehutanan mereka. Kami menyambut baik inisiatif acara ini sebagai upaya kerjasama untuk mempromosikan ekspor produk kayu Indonesia yang lebih baik," ujarnya

Pencapaian sebesar 3,3 juta hektar are hutan yang disertifikasi pada awal tahun 2018 adalah bukti bahwa hutan yang dikelola dengan baik dapat diimplementasikan di Indonesia dengan usaha penuh dari pemegang konsesi hutan dan dukungan dari para pemangku kepentingan.

Hal ini sesuai dengan Rencana Strategis Global FSC 2015-2020 (https://ic.fsc.org/en/what-is-fsc/fsc-global-strategic-plan-2015-2020) sebagai katalisator utama dalam penguatan komitmen pengelolaan hutan dan transformasi pasar yang lebih baik, menggeser tren hutan global untuk pemanfaatan berkelanjutan, konservasi, serta pemulihan untuk mencapai komitmen ‘Hutan Untuk Semua Selamanya’. 

“Seraya luas hutan bersertifikat meningkat secara bertahap, transformasi pasar hasil hutan bersertifikat harus diformulasikan untuk meningkatkan volume dan manfaat pasar bagi produsen di Indonesia. FSC mengharapkan acara ini menjadi titik awal bagi banyak pihak dalam merumuskan transformasi pemasaran hutan,” kata Hartono Prabowo, Perwakilan Nasional FSC di Indonesia.

"Pertumbuhan ekspor merupakan prioritas Pemerintah Indonesia dan kami mendukung setiap inisiatif yang membantu memenuhi target kami, yaitu 11% pertumbuhan ekspor secara keseluruhan," kata Tuti Prahastuti, Ditjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan. 

Saat ini ekspor produk kayu tidak masuk dalam segmen utama komoditas ekspor, namun kami menyadari fakta bahwa hutan yang menghasilkan kayu untuk produk ini mewakili sebagian besar wilayah nasional kami, dan penting untuk penyediaan lapangan kerja, konservasi keanekaragaman hayati.

Penggunaan yang bijak dari setiap pihak dapat membantu mengurangi emisi karbon dan sebaliknya, hutan ini dapat menyimpan karbon dalam jumlah besar dan juga berkontribusi pada target mitigasi perubahan iklim nasional pemerintah Indonesia. 

Dengan adanya sertifikasi pengelolaan hutan lestari yang dipromosikan dalam acara perdagangan ini, kami berharap hal ini menjadi platform terbaik bagi produsen dan pembeli dalam mencari produk kayu yang bukan hanya terbaik namun juga resmi untuk menciptakan keunggulan kompetitif bagi produk kayu Indonesia.