SKK Migas: Produksi Migas Kuartal I/2019 Capai 2,06 Juta BOEPD

Produksi minyak dan gas bumi

SKK Migas: Produksi Migas Kuartal I/2019 Capai 2,06 Juta BOEPD
Produksi migas/ilustrasi

KabarJakarta.com--Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengumumkan, angka produksi minyak dan gas (migas) Indonesia sepanjang kuartal I/2019 menembus angka 2,07 juta barel minyak ekuivalen per hari (BOEPD).

Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Wisnu Prabawa Taher menjelaskan, dari total produksi migas tersebut, sebesar 765 ribu BOPD adalah produksi minyak, sementara itu sebesar 1,31 juta BOEPD lainnya adalah produksi gas.

Sementara itu, jika dilihat dari sisi investasi migas, secara unaudited hingga kuartal I/2019 mencapai USD 2,22 miliar atau sekitar Rp 31,08 triliun. Jumlah tersebut naik 10 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2017 sebesar USD 2,01 miliar.

"Banyak kegiatan masih dalam progres, utamanya pemboran, pemeliharaan fasilitas, dan kegiatan operasi lainnya, sehingga biayanya belum dibebankan. Di Kuartal II ini di harapkan akan lebih baik figures-nya," ujar Wisnu dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (22/4).

Kemudian untuk aspek pemboran, tercatat hingga 31 Maret 2019, sudah ada 15 sumur eksplorasi dan 61 sumur eksploitasi. "Jumlah ini tentunya meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang tercatat sebanyak delapan sumur ekplorasi, dan 58 sumur eksploitasi," tuturnya.

Sebelumnya, pencapaian lifting (produksi yang siap dijual) migas selama kuartal I/2019 sebesar 1,81 juta BOEPD atau 94,6 persen dari target APBN 2019 yang sebesar 2,21 juta BOEPD.

Menurut Wisnu, capaian tersebut terdiri dari lifting minyak dan kondensat 745 ribu BOEPD atau 96,1 persen dari target APBN 2019 sebesar 775 ribu BOEPD dan lifting gas sebesar 1,07 juta BOEPD (93,8 persen dari target APBN 2019 sebesar 1,25 juta BOEPD).

Wisnu mengungkapkan ada beberapa kendala yang dihadapi dalam operasi lifting migas saat ini, kendala itu antara lain terjadinya decline rate (penurunan alami) yang lebih tinggi dari perkiraan awal pada akhir 2018.

Selain itu, lanjut Wisnu, lifting juga masih menunggu maksimalnya hasil pemboran pengembangan. Kemudian faktor lainnya yakni terjadi kemunduran jadwal pengeboran karena terkendala masalah cuaca dilepas pantai pada awal 2019, ditambah juga isu integrity fasilitas seperti kendala di perangkat fasilitas produksi, kebutuhan maintenance, dan sebagainya.

"Namun demikian masalah-masalah itu bisa segera diatasi, dan diperkirakan lifting migas akan dapat lebih optimal di kuartal II hingga akhir 2019," pungkasnya.

Penulis : Agi Aksara

Editor : Redaksi