Kementan Dinilai Terlambat Beri Sinyal Oversuplai Ayam

Anjloknya harga ayam

Kementan Dinilai Terlambat Beri Sinyal Oversuplai Ayam
peternakan ayam/ilustrasi

KabarJakarta.com--Merosotnya harga ayam potong ras di kalangan peternak belakangan ini, sebenarnya bukan fenomena baru. Untuk setahun ini saja, anjloknya harga ayam potong sejatinya sudah mulai dirasakan sejak September 2018.

Fungsi Kementan pun dipertanyakan karena tidak memberi sinyal kepada Kementerian Koordinator Perekonomian terkait kondisi ini hingga berujung parah.

“Kondisi seperti ini mesti diselesaikan dengan perpres. Kemenko Perekonomian harusnya mendorong adanya perpres. Cuma selama ini kan nggak ada sinyal dari Kementan,” ucap Direktur Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka), Yeka Hendra Fatika, dalam keterangan yang diterima, Rabu (10/7).

Menurutnya, kondisi terus fluktuatifnya harga ayam tidak bisa diselesaikan hanya dari hulu ataupun hilir. Solusi yang komprehensif diperlukan lewat kebijakan setrara dengan peraturan presiden (perpres). 

Namun sebelum itu dibutuhkan pula sinyal yang jelas dari pihak yang mengetahui kondisi di hulu, yang tak lain adalah Kementerian Pertanian.

Berdasarkan pengamatannya, kondisi kerap anjloknya harga ayam dikarenakan suplai yang berlebih dibandingkan kebutuhan. Kondisi oversuplai disebabkan peternak maupun pengusaha terus membuat kandang sehingga meningkatkan suplai hingga kondisinya kini mencapai 68-70 juta per minggu. Padahal, permintaan ayam di pasaran kurang lebih hanya 60 juta ekor per minggu. 

Selain mengatur kandang ayam agar tidak terus meningkatkan suplai, Yeka menyatakan, konsumsi pun harus ditingkatkan. Soalnya konsumsi ayam per kapita cenderung stagnan di angka 12 kilogram per tahun. 

Jauh di bawah negara-negara lain. 

Kondisi oversuplai inilah yang harus diserukan Kementan kepada Kemenko Perekonomian agar semua pihak bergerak. Tujuan akhirnya, perpres yang komprehensif untuk menyelesaikan masalah harga ayam dapat terbit. 

“Diperlukan regulasi setingkat Peraturan Presiden dalam membenahi industri perunggasan,” tegasnya lagi.

Pihak-pihak yang mesti terlibat dalam masalah oversuplai ayam ini, utamanya adalah Kementerian Pertanian yang mesti memberi sinyal masalah di hulu. Peran Kementerian Kesehatan pun diharapkan guna mempromosikan konsumsi ayam terkait masalah gizi. Kemendag maupun BKPM juga harus berperan.

Sebelumnya Yeka telah mengungkapkan, masalah utama anjloknya harga ayam sampai sempat menyentuh Rp5.000 per kilogram bersumber dari oversuplai. 

“Adanya surat edaran tanggal 26 Juni 2019 untuk memotong DOC (day old chiken) artinya Kementan mengakui adanya kelebihan suplai itu,” ujarnya.

Penulis : Abdul Karim

Editor : Redaksi