6 Tersangka Perencana Bom Ketapel di Pelantikan Jokowi Gunakan Sandi Mirror

Bom Ketapel

6 Tersangka Perencana Bom Ketapel di Pelantikan Jokowi Gunakan Sandi Mirror
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono dalam jumpa pers di Polda Metro Jaya / Ist

KabarJakarta.com--Polda Metro Jaya menangkap enam terduga perencanaan peledakan bom 'ketapel' saat pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin di gedung MPR/DPR, Minggu (20/10). Enam orang yang ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka itu yakni SH, E, FAB, RH, HRS, dan PSM.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, para tersangka merencanakan melempar bom peluru dengan ketapel ke Gedung DPR yang menjadi lokasi pelantikan. Mereka dijerat Pasal 169 ayat 1 KUHP dan atau Pasal 187 ayat 1 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 Undang-Undang Darurat dengan ancaman hukuman lima sampai dua puluh tahun penjara.

"Tersangka SH sering komunikasi dengan tersangka AB [Abdul Basith], ada kaitannya untuk merencanakan aksi menggagalkan pelantikan dengan mendompleng unjuk rasa," ucap Argo, di Polda Metro Jaya, Senin (21/10).

Keenam tersangka itu memiliki peran yang berbeda dalam perencanaan aksi. Misalnya, tersangka SH bertugas mencari dana untuk membuat bom ketapel. Tersangka yang berprofesi sebagai mantan pengacara itu juga bertugas untuk menyediakan ketapel jenis kayu dan besi serta. Tersangka SH juga membuat grup WhatsApp yang digunakan untuk melakukan koordinasi perencanaan aksi.

Nah, keenam tersangka itu tergabung dalam sebuah grup WhastApp berinisial 'F'. Grup WhastApp yang dibentuk oleh tersangka SH itu beranggotakan 123 orang. Menurut Argo, grup WhatsApp itu dibuat untuk merencanakan aksi peledakan guna menggagalkan acara pelantikan Presiden dan Wapres terpilih.

"Yang bersangkutan (tersangka E) saat ditangkap sedang membuat peluru ketapel bersama tersangka SH," ujar Argo.

Lebih lanjut dikatakan Argo, para tersangka dalam berkomunikasi di grup WhatsApp itu menggunakan sandi khusus, yakni sandi mirror. Sandi mirror, kata Argo, mereka menulis pesan pada keyboard ponsel, namun mengganti huruf seolah-olah merupakan hasil proyeksi cermin. Misalnya, huruf A diganti huruf L, huruf Q menjadi P, huruf I menggantikan E.

"Dalam komunikasi, mereka menggunakan sandi mirror," kata Argo.

Dikatakan Argo, penggunaan sandi dalam komunikasi grup WhatsApp itu bertujuan agar hanya anggota grup saja yang paham maksud setiap percakapan di dalamnya. Para tersangka, sambung Argo, sudah cukup fasih menggunakan sandi mirror dalam berkomunikasi.

Tokoh PA 212 Eggi Sudjana sempat diperiksa polisi terkait kasus ini. Eggi diperiksa lantaran menjadi salah satu dari anggota grup WhatsApp tersebut.

"Komunikasi dengan sandi mirror agar banyak orang enggak tahu (isi percakapan). Kalau mereka sudah biasa, dan kalau ketik cepat, sudah hafal," tutur Argo.

Lebih lanjut dikatakan Argo, Grup WhatsApp 'F' itu berisi percakapan tentang informasi bohong atau hoaks. Menurut Argo, tujuan penyebaran hoaks itu untuk meyakinkan para anggota untuk membuat rencana penggagalan pelantikan presiden-wakil presiden.

"Di dalam WhatsApp grup ada beberapa (anggota grup) yang memengaruhi suatu kegiatan yang belum diyakini benar, (anggota grup) di-brainwash bahwa komunisme sedang berkembang di Indonesia," ungkap Argo.

Informasi soal komunisme itu mulai dari polisi China, Tenaga Kerja Asing (TKA) China, hingga anggapan bahwa orang China mulai menguasai pemerintahan. Doktrin itu diterima dan diyakini oleh seluruh anggota grup WhatsApp. Ironinya, para tersangka mengaku tak pernah melakukan pengecekan atas informasi yang tersebar di grup tersebut.

"Tersangka FAB bergabung dalam grup dan meyakini komunis semakin berkembang. Kita dari polisi nanya kenapa kamu enggak konfirmasi, ngecek berita asli ini dengan koran yang ada, portal-portal resmi ya, jadi mereka hanya disarankan bekalnya dari WhatsApp atau Facebook," ujar Argo.

Penulis : R. Tranggana

Editor : Redaksi