Jalan Kewartawanan Sang Jubir

Jalan Kewartawanan Sang Jubir
Fadjroel Rachman.

Opini - Pernyataan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang diduga menyebut Agama sebagai musuh besar Pancasila. Menjadi tajuk Indonesia Lawyers Club (ILC) Senin, (17/2/2020) malam. Juru bicara presiden Fajroel Rachman turut diundang sebagai salah satu narasumber.

Saya memperhatikan bagaimana Bung Fadjroel menjawab berbagai pertanyaan Karni Ilyas, host acara. Sosok aktivis yang awalnya saya kenal melalui antologi pusinya Sejarah Lari Tergesa, masih seperti dulu.

Ia tetaplah cerminan aktivis masa reformasi yang setia pada semangat perjuangan dan menyenangi dialog tentang keindonesiaan. Setelah kembali hadir di ILC usai absen enam tahun. Dalam diskusi yang dihadiri tokoh nasional malam itu, ia menguasai tema pembicaraan.

Pertama-tama dia menolak anggapan bahwa Pancasila menjadi musuh agama. Ia enggan pula menyalahkan sang guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, judul berita dari pernyataan Yudian Wahyudi disebutnya telah lepas dari konteks dan tidak sesuai dengan badan berita.

Ia kemudian melancarkan kritiknya pada media. Media yang mengejar click bait semata katanya, sangat berbahaya.

Jika media hanya mengejar jumlah klik maka akan kehilangan tujuan mulia dari peran pers sebagai pilar demokrasi. Meski dia pernah menjadi wartawan dia menolak untuk menganggap media sebagai lembaga suci, baginya hal itu menjadi self critic juga untuk dia sebagai jubir dan mantan wartawan.

Memang benar, yang dikatakan Bung fadjroel bahwa media yang mengejar klik semata cenderung berbahaya, sebab menimbulkan syak wasangka dan kabar burung.

Selain itu mengabaikan salah satu elemen Jurnalistik yang paling penting yaitu: verifikasi. Elemen yang oleh Bill Kovach diharuskan kepada wartawan untuk selalu dilakukan, mengklarifikasi statement yang meragukan jurnalis itu sendiri.

Sejauh ingatan saya, ada sejumlah prinsip dalam jurnalisme, yang sepatutnya menjadi pegangan setiap jurnalis. Seiring perjalanan waktu, terbukti prinsip-prinsip itu tetap bertahan. Menopang semangat wartawan sebagai profesi yang mulia.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam bukunya The Elements of Journalism, What Newspeople Should Know and the Public Should Expect (New York: Crown Publishers, 2011), merumuskan prinsip-prinsip itu dalam Sembilan Elemen Jurnalisme yang kemudian berkembang menjadi 10.

Keduanya mengawali 10 elemen tersebut pada prinsip kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran, loyalitas jurnalis pada warga, esensi jurnalisme adalah verifikasi, jurnalis harus independen dari pihak yang diliput, jurnalis harus menjadi pemantau independen pada kekuasaan, jurnalisme harus sediakan forum kritikan, membuat hal yang penting itu menarik dan relevan, jurnalis harus proporsional memberitakan, dan terakhir jurnalis wajib mengikuti nurani mereka. Di kemudian hari Bill Kovach dan Tom Rosenstiel menambahkan elemen ke-10 yaitu warga juga memiliki hak dan tanggungjawab dalam berita. 

Ekstra Hati-hati

Memang tak bisa dipungkiri. Di tengah persaingan ratusan media agar bertengger di halaman pertama google dan datangnya era disrupsi. Para pejabat negara atau Juru Bicara (Jubir) presiden sekalipun harus ekstra hati-hati dalam memberikan statement.

Saya sepakat dengan perkataan Bung Fadjroel bahwa kasus pernyataan kepala BPIP merupakan self critic. Bagi wartawan maupun pejabat negara. Agar pejabat tidak membuka ruang multi tafsir saat memberikan statement.

Mereka harus menjernihkan pembicaraan dengan wartawan, agar pemahaman berdua sesuai dengan apa yang dimaksud dan konteks pembicaraan tidak melenceng jauh dari judul berita.

Sebagai juru bicara presiden, Bung Fadjroel tampak memahami bagaimana pola kerja media dan wartawan. Sebab ternyata dia adalah bagian dari revolusi tubuh wartawan Indonesia. Dia terlibat pada pendirian Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) pada 7 Agustus 1994 di Bogor, Jawa Barat dan mendirikan sekaligus ditunjuk sebagai ketua majalah Ganesha ITB saat berkuliah.

Jadi, bisa dibilang dunia kewartawanan tak pernah jauh dari Bung Fadjroel. Setamat kuliah misalnya, demi menghidupkan bara api perjuangan aktivisme, ia memutuskan bergabung sebagai presenter acara talkshow di radio dan televisi: JakNews FM, RRI, TVRI, Indosiar, SunTV, JakTV.

Selama sembilan tahun dia bertahan sebagai wartawan di media besar itu. Hingga suatu ketika dia berhenti dan banting stir untuk berkuliah lagi.

Berhenti sebagai presenter Tv, ternyata tak membuat dia lepas dari dunia ini. Di awal tahun 2000 ia masih muncul di layar kaca sebagai narasumber ekonomi-politik-hukum di stasiun Tv RCTI, SCTV, MetroTV, NetTV, GlobalTV, KompasTV. Bahkan narasumber tetap politik-hukum di awal-awal program ILC dimulai.

Sebagai sosok yang lekat dalam masa pergerakan mahasiswa reformasi 1998, hubungan spesialnya dengan wartawan dan dunia media tidak pernah terputus.

Apalagi kini sebagai juru bicara presiden, ia akan selalu aktif bertemu teman-teman wartawan. Ia sangat yakin bahwa media adalah elemen penting dalam pembangunan demokrasi. 

Bravo Bung Fadjroel!

 

Penulis adalah A. Dani

Wartawan dan penggiat media sosial.

Penulis : -

Editor : Redaksi

AJI