Langsung ke konten
Sosok

Usia 60 Tahun, Testo Gumilar Kembali Bekerja Lewat Program Padat Karya

Redaksi
Testo Gumilar, warga Cibubur, Jakarta Timur membuktikan bahwa kesempatan untuk kembali bekerja dan tetap produktif tidak mengenal batas usia. Foto: Dinas LH DKI
Testo Gumilar, warga Cibubur, Jakarta Timur membuktikan bahwa kesempatan untuk kembali bekerja dan tetap produktif tidak mengenal batas usia. Foto: Dinas LH DKI

KabarJakarta.com — Kesempatan untuk kembali bekerja tidak selalu datang dengan mudah, terlebih bagi mereka yang telah memasuki usia lanjut. Persaingan dengan tenaga kerja yang lebih muda kerap menimbulkan keraguan. Namun, pengalaman Testo Gumilar membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk tetap produktif dan berkontribusi bagi lingkungan.

Warga Cibubur, Jakarta Timur, berusia 60 tahun itu sempat pesimistis ketika mengikuti seleksi Program Padat Karya yang diselenggarakan Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta. Melihat banyak peserta berusia lebih muda, Testo sempat mempertanyakan peluangnya untuk kembali mendapatkan pekerjaan.

Keraguan itu akhirnya terjawab. Testo dinyatakan lolos seleksi dan kini bekerja sebagai petugas pemilah sampah di Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan.

"Awalnya saya pesimis bisa diterima, karena melihat banyaknya anak muda yang ikut. Saya berpikir, di usia 60 tahun, apakah masih ada kesempatan? Alhamdulillah, melalui program ini, saya diberi kesempatan tanpa melihat usia," ujar Testo di Jakarta, Jumat (6/11).

Bagi Testo, pekerjaan tersebut bukan sekadar kesempatan memperoleh penghasilan. Aktivitas itu sekaligus menjadi jalan untuk meneruskan kepeduliannya terhadap persoalan lingkungan yang sudah mulai ditekuninya sejak beberapa tahun terakhir.

Testo Gumilar dinyatakan lolos seleksi Program Padat Karya DLH DKI Jakarta. Ia akan bertugas sebagai petugas pemilah sampah di Sudin Lingkungan Hidup Jakarta Selatan. Foto: Dinas LH DKI

Berawal dari Bank Sampah

Ketertarikan Testo terhadap pengelolaan sampah tumbuh melalui keterlibatannya dalam kegiatan Bank Sampah Asri Berseri di RW 11, Kelurahan Cibubur. Sejak 2024, ia aktif mengikuti kegiatan bank sampah bersama warga setempat.

Dari aktivitas tersebut, Testo mulai memahami bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan membuang limbah ke tempat penampungan. Ada proses pemilahan dan pengelolaan yang perlu dilakukan agar sampah dapat dimanfaatkan kembali dan tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan.

Keterlibatannya yang konsisten membuat warga kemudian mempercayainya menjadi ketua bank sampah. Tanggung jawab tersebut semakin memperkuat pemahamannya mengenai pentingnya membangun kebiasaan mengelola sampah dari lingkungan terkecil, yakni rumah tangga.

Pengalaman itu pula yang menjadi bekal ketika Testo mengikuti seleksi Program Padat Karya. Pekerjaan sebagai pemilah sampah terasa sesuai dengan pengetahuan dan aktivitas yang selama ini dijalaninya.

Ia pun melihat kesempatan tersebut sebagai ruang untuk memperluas kontribusi. Jika sebelumnya pengetahuan mengenai sampah lebih banyak diterapkan bersama warga di lingkungan tempat tinggalnya, kini ia dapat terlibat langsung dalam kegiatan pengelolaan sampah di tingkat kota.

Program Padat Karya yang dijalankan DLH menjadi bagian dari upaya Pemprov DKI Jakarta untuk membuka kesempatan kerja dengan upah harian bagi warga. Foto: Dinas LH DKI

Penghasilan untuk kebutuhan keluarga

Di balik semangatnya mengurus lingkungan, ada alasan lain yang membuat kesempatan bekerja kembali begitu berarti bagi Testo: tanggung jawab terhadap keluarga.

Setelah tidak lagi bekerja, ia tetap berupaya mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Istrinya merupakan ibu rumah tangga, sedangkan anaknya telah menyelesaikan pendidikan dan kini masih mencari pekerjaan.

Kondisi tersebut membuat Testo merasa perlu tetap produktif. Baginya, usia yang semakin bertambah bukan alasan untuk berhenti berusaha selama masih memiliki kemampuan untuk bekerja.

Dukungan keluarga turut menguatkan keputusannya mengikuti program tersebut. Penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan sebagai petugas pemilah sampah nantinya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan, membayar tagihan listrik, serta mencukupi keperluan sehari-hari.

"Alhamdulillah, keluarga sangat mendukung. Karena saya sudah tidak bekerja, sementara kebutuhan rumah tangga harus tetap dipenuhi. Dapur juga harus ngebul. Jadi, saya ingin mendapatkan penghasilan yang halal, sekaligus sesuai dengan passion saya di bidang lingkungan," ungkapnya.

Bagi sebagian orang, pekerjaan dengan upah harian mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi Testo, penghasilan tersebut memiliki arti penting karena dapat membantu menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga sekaligus memberinya kesempatan untuk tetap aktif.

Manfaat program padat karya tumbuh melalui pengetahuan yang dibawa para peserta ke lingkungan tempat tinggal, termasuk cara memilah dan mengolah sampah. Foto: Dinas LH DKI

Membawa pengetahuan ke lingkungan

Testo berharap kesempatan yang diperolehnya tidak berhenti pada manfaat ekonomi bagi dirinya sendiri. Ia ingin pengalaman selama mengikuti Program Padat Karya dapat dibagikan kepada masyarakat, terutama warga yang belum memahami pentingnya memilah dan mengolah sampah.

Menurut dia, kebiasaan mengelola sampah perlu dibangun mulai dari rumah. Masyarakat tidak harus menunggu adanya fasilitas besar untuk mulai melakukan pemilahan. Perubahan dapat dimulai dengan memisahkan sampah berdasarkan jenisnya sebelum dibuang atau disalurkan ke bank sampah.

Ia juga berharap semakin banyak warga mendapatkan kesempatan mengikuti program serupa. Terutama mereka yang masih ingin bekerja, tetapi menghadapi keterbatasan kesempatan karena faktor usia maupun kondisi ekonomi.

"Pesan saya, jangan terlalu cepat putus asa. Di Pemda DKI, ada program-program yang bisa dimanfaatkan, salah satunya program Padat Karya ini. Alhamdulillah, ada perhatian dari Dinas LH bagi warga yang ingin tetap beraktivitas dan membantu ekonomi keluarga," tuturnya.

Program Padat Karya yang dijalankan Dinas Lingkungan Hidup menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung untuk membuka kesempatan kerja sekaligus membantu perekonomian masyarakat.

Melalui kegiatan pengelolaan sampah, peserta memperoleh pekerjaan dengan sistem upah harian. Mereka juga terlibat langsung dalam mendukung penanganan sampah perkotaan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menjelaskan program tersebut dirancang untuk mempertemukan kebutuhan masyarakat terhadap lapangan pekerjaan dengan kebutuhan pengelolaan lingkungan.

Selain memperoleh penghasilan, peserta diharapkan mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang bisa diterapkan setelah kembali ke lingkungan tempat tinggal masing-masing.

"Kami harap, pengalaman yang diperoleh para peserta selama mengikuti program ini, akan menumbuhkan kepedulian dan kebiasaan baik dalam mengelola sampah,” katanya.

Bagi Testo, program tersebut telah membuka kembali pintu kesempatan yang sempat diragukannya. Di usia 60 tahun, ia membuktikan bahwa produktivitas tidak semata-mata ditentukan oleh umur, tetapi juga kemauan untuk terus belajar, bekerja, dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua