KabarJakarta.com — Inflasi Jakarta pada September 2026 mencerminkan satu pola yang berulang: tekanan harga datang dari kebutuhan dasar sehari-hari. Data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta menunjukkan inflasi tahunan mencapai 2,71 persen, dengan pendorong utama tetap berada di sektor pangan. Namun, bulan ini ada tambahan faktor tak biasa—masker kesehatan—yang ikut menekan harga akibat dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, menegaskan bahwa daging ayam ras masih menjadi komoditas paling konsisten memicu inflasi. “Daging ayam ras telah selalu memicu inflasi di DKI Jakarta,” ujarnya di Jakarta, Kamis (1/10). Pada September 2026, komoditas ini kembali mencatatkan andil terbesar terhadap inflasi bulanan.
Pangan penyumbang inflasi tertinggi
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi tertinggi pada September 2026, dengan inflasi sebesar 0,46 persen dan andil 0,08 persen. Di dalamnya, daging ayam ras memegang peran dominan.
Harga rata-rata daging ayam ras tercatat Rp45.306 per kilogram. Kenaikan harga telah mendorong inflasi sebesar 4,61 persen, dengan kontribusi terhadap inflasi umum sebesar 0,06 persen. Angka ini menegaskan posisi ayam sebagai komoditas sensitif yang langsung berdampak pada daya beli masyarakat.
Selain ayam, cabai rawit juga menjadi faktor signifikan. Harga cabai rawit melonjak hingga rata-rata Rp70.446 per kilogram, mendorong inflasi sebesar 17,11 persen dengan andil 0,02 persen. Lonjakan ini mencerminkan karakteristik komoditas hortikultura yang rentan terhadap gangguan pasokan.
Beras, sebagai makanan pokok, juga tidak luput dari tekanan. Harga rata-rata mencapai Rp16.596 per kilogram—level tertinggi dalam tiga tahun terakhir di Jakarta. Meski andilnya terhadap inflasi bulanan relatif kecil, yakni 0,01 persen, kenaikan harga beras tetap menjadi sinyal penting karena berdampak luas terhadap konsumsi rumah tangga.
“Peningkatan harga rata-rata beras yang masih tinggi pada 3 tahun terakhir ini, telah mendorong inflasi sebesar 0,62 persen. Pada gilirannya memberi andil inflasi sebesar 0,01 persen,” tutur Kadarmanto.
Kadarmanto mengaitkan kenaikan harga pangan ini dengan faktor musim. “Kita memang masih berada di suasana kekeringan, di musim kering yang terjadi di mana-mana. Dan ini berdampak terhadap inflasi di DKI Jakarta,” katanya. Kekeringan mempersempit pasokan, sementara permintaan tetap stabil, sehingga harga terdorong naik.
Masker faktor tak terduga
Yang membedakan inflasi September 2026 dari bulan-bulan sebelumnya adalah munculnya komoditas non-pangan sebagai pendorong signifikan, yakni masker kesehatan.
BPS mencatat inflasi masker mencapai 5,83 persen dalam satu bulan, dengan kontribusi terhadap inflasi sebesar 0,02 persen. Secara keseluruhan, kelompok kesehatan mengalami inflasi 0,63 persen dan menjadi penyumbang terbesar kedua setelah kelompok pangan.
Lonjakan itu dipicu oleh erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebarkan abu vulkanik hingga ke wilayah Jakarta. Kondisi tersebut mendorong peningkatan permintaan masker secara mendadak. Harga masker bahkan dilaporkan naik dua hingga 10 kali lipat di pasaran.
“Kita sudah mengalami dampak dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Masyarakat disarankan untuk memakai masker,” ujar Kadarmanto. Fenomena itu menunjukkan bagaimana faktor eksternal—dalam hal ini bencana alam—dapat secara cepat mengubah struktur inflasi, bahkan pada sektor yang sebelumnya stabil.
inflasi Jakarta 2,71 persen
Secara tahunan, inflasi Jakarta sebesar 2,71 persen masih relatif terkendali dan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,28 persen. Namun, struktur penyumbangnya menunjukkan ketergantungan tinggi pada komoditas pangan.
“Secara tahunan, khusus September 2026, inflasi di DKI mencapai 2,71 persen. Caranya, kita bandingkan harga di September 2026 terhadap September tahun lalu,” kata Kadarmanto.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi tahunan sebesar 3,71 persen dengan andil 0,73 persen—terbesar di antara seluruh kelompok pengeluaran. Daging ayam ras kembali menjadi kontributor utama dengan andil 0,19 persen, disusul beras sebesar 0,20 persen dan minyak goreng sebesar 0,09 persen.
“Adapun komoditas yang memberikan inflasi terbesar, yaitu daging ayam ras dengan andil 0,19 persen,” ujar Kadarmanto.
Selain pangan, sektor transportasi juga mencatat inflasi cukup tinggi, yakni 4,65 persen dengan kontribusi 0,63 persen. Faktor utamanya adalah kenaikan harga bensin yang memiliki dampak berantai terhadap biaya distribusi barang.
“Kalau ini, utamanya disumbang oleh komoditas bensin dengan andil 0,46 persen,” katanya.
Dampak ke ekonomi dan masyarakat
Kenaikan harga pangan memiliki dampak langsung terhadap daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan menengah ke bawah. Komoditas seperti ayam, beras, dan cabai merupakan kebutuhan harian, sehingga kenaikan kecil sekalipun terasa signifikan.
Inflasi pangan, kata Kadarmanto, telah berpotensi meningkatkan biaya produksi sektor usaha kecil, khususnya kuliner. Pedagang harus memilih antara menaikkan harga jual atau menekan margin keuntungan.
Di sisi lain, lonjakan harga masker menunjukkan risiko tambahan bagi masyarakat dalam situasi darurat. “Kebutuhan kesehatan yang mendesak, dengan cepat berubah menjadi tekanan ekonomi, jika pasokan tidak stabil,” jelasnya
Secara makro, inflasi yang masih di bawah angka nasional memberi ruang bagi stabilitas ekonomi Jakarta. Namun, komposisi inflasi yang didominasi faktor volatil seperti pangan dan kejadian eksternal menunjukkan kerentanan yang perlu diantisipasi.
Respons dan tantangan Pemda
Menghadapi pola inflasi seperti ini, pemerintah daerah dituntut lebih adaptif, terutama dalam menjaga stabilitas pasokan pangan. Langkah yang lazim dilakukan antara lain operasi pasar, penguatan distribusi, serta koordinasi dengan daerah pemasok.
Untuk komoditas seperti ayam dan beras, intervensi biasanya dilakukan melalui pengendalian rantai pasok dan menjaga stok di pasar. Sementara untuk komoditas hortikultura seperti cabai, tantangan utama ada pada produksi yang sangat bergantung pada cuaca.
Kasus masker membuka pelajaran penting tentang pentingnya kesiapan logistik untuk kebutuhan darurat. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan stok strategis agar lonjakan permintaan tidak langsung berujung pada lonjakan harga.
Selain itu, koordinasi lintas sektor menjadi kunci. Inflasi tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga terkait dengan faktor lingkungan, kesehatan, dan energi. Kenaikan harga bensin, misalnya, berdampak luas pada distribusi pangan.
Pola yang berulang
Data BPS menunjukkan bahwa dalam 3 (tiga) tahun terakhir, inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau cenderung berfluktuasi. Inflasi tertinggi terjadi pada Februari 2026 sebesar 2,23 persen, sementara deflasi terdalam terjadi pada Januari 2026 sebesar 1,57 persen.
Pola ini menegaskan bahwa inflasi Jakarta sangat dipengaruhi oleh faktor musiman dan volatilitas harga pangan. Komoditas seperti daging ayam ras, cabai rawit, beras, telur ayam ras, dan sawi putih terus muncul sebagai penyumbang utama.
Dengan kata lain, tantangan inflasi Jakarta bukan hanya menjaga angka tetap rendah, tetapi juga memastikan stabilitas harga pada komoditas yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Inflasi September 2026 menjadi cerminan jelas: ketika pangan terganggu dan faktor eksternal muncul, tekanan harga tidak bisa dihindari. Pertanyaannya bukan lagi apakah inflasi akan terjadi, tetapi seberapa siap pemerintah dan pasar mengelolanya agar dampaknya tidak meluas.
