KabarJakarta.com – Sebanyak 100 warga Jakarta Pusat mendapat bekal baru untuk membuka usaha sendiri melalui Pelatihan Tenaga Kerja Mandiri Aneka Kuliner yang digelar Suku Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi (Sudin Nakertransgi) Jakarta Pusat.
Pelatihan angkatan kedua itu berlangsung selama 5 (lima) hari secara serentak di dua Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), yakni RPTRA Petojo dan RPTRA Tanah Abang 3. Masing-masing lokasi diikuti 50 peserta.
Di balik kegiatan memasak yang menjadi bagian utama pelatihan, peserta lebih dulu diajak memahami bahwa membangun usaha tidak cukup hanya dengan bisa membuat makanan. Pengetahuan tentang bisnis, pemasaran hingga legalitas juga menjadi bekal penting agar usaha dapat berkembang.
Kepala Sudin Nakertransgi Jakarta Pusat Qomari Noorrizki menjelaska, peserta mendapat materi teori pada hari pertama sebelum masuk ke praktik memasak mulai hari kedua.
“Sebelum dilatih memasak, mereka dilatih dulu mengenai teori kewirausahaan, pemasaran, dan legalitas usaha, seperti sertifikat halal. Masak memasak dimulai pada hari kedua hingga penutupan,” kata Qomari di Jakarta, Jumat (14/8)
Peserta merupakan warga pemegang KTP Jakarta Pusat yang berasal dari delapan kecamatan. Mereka tidak hanya diajarkan teknik membuat makanan, tetapi juga diberikan pemahaman mengenai langkah awal menjalankan usaha secara mandiri.
Dalam sesi praktik, peserta mengolah berbagai jenis makanan yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk jualan. Beberapa di antaranya adalah olahan ayam, siomay, dan tumpeng.
Pelatihan tersebut juga memiliki sisi lain. Sudin Nakertransgi Jakarta Pusat melibatkan dua klien pemasyarakatan dalam kegiatan di RPTRA Tanah Abang 3.
Keduanya merupakan warga binaan yang telah mendapatkan pembebasan bersyarat dan kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat. Keterlibatan mereka menjadi bagian dari upaya memberikan keterampilan yang bisa digunakan untuk membangun kemandirian ekonomi.
“Mereka yang diikutsertakan adalah warga binaan, yang sudah bebas bersyarat, dan benar-benar sudah ada di tengah masyarakat,” ujar Qomari.
Menurut dia, keterampilan memasak dan pengetahuan dasar usaha diharapkan dapat menjadi modal bagi kedua klien pemasyarakatan tersebut untuk menata kehidupan setelah kembali ke lingkungan masyarakat.
Pelatihan juga tidak berhenti ketika lima hari kegiatan berakhir. Sudin Nakertransgi Jakarta Pusat menyiapkan pendampingan bagi peserta yang benar-benar melanjutkan usaha.
Peserta yang dinilai konsisten mengembangkan usahanya akan diarahkan masuk ke program kewirausahaan daerah Jakpreneur. Dengan demikian, keterampilan yang diperoleh selama pelatihan diharapkan tidak hanya menjadi pengalaman, tetapi dapat berkembang menjadi sumber penghasilan.
“Bagi peserta yang secara konsisten melanjutkan usahanya, mereka akan dihubungkan dan diintegrasikan ke dalam program kewirausahaan daerah, Jakpreneur,” tutur Qomari.
Sepanjang 2026, Sudin Nakertransgi Jakarta Pusat menargetkan 400 peserta mengikuti pelatihan tenaga kerja mandiri. Jumlah tersebut terbagi dalam dua angkatan pelatihan aneka kue dengan target 200 peserta dan dua angkatan aneka kuliner dengan target 200 peserta.
Sementara pelatihan teknis dengan waktu lebih panjang, seperti montir pendingin udara dan pembuatan surat izin mengemudi (SIM), dialihkan melalui unit Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD).
Bagi para peserta, pelatihan kuliner menjadi titik awal untuk mengubah keterampilan sederhana menjadi peluang usaha. Dari ruang publik di tengah permukiman, mereka didorong untuk membawa pulang bukan sekadar resep masakan, melainkan juga keberanian memulai usaha dan pengetahuan untuk mengelolanya.
