KabarJakarta.com — Malam di Jakarta, Malang, Bandung dan Carita terasa berbeda pada Jumat (11/9). Namun, dari empat tempat itu, doa yang sama dipanjatkan: agar lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang kontak di perairan Selat Sunda segera ditemukan dalam keadaan selamat.
Sejak Senin (7/9), kabar tentang hilangnya rombongan tersebut menjadi perhatian banyak kalangan. Mereka berada di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau untuk menjalankan tugas jurnalistik ketika komunikasi dengan kapal terputus.
Di tengah pencarian yang memasuki hari keempat, dukungan tidak hanya datang dari Tim SAR Gabungan. Sesama jurnalis, keluarga, pemerintah daerah, hingga masyarakat ikut bergerak dengan cara masing-masing.
Ada yang turun langsung mendampingi keluarga, ada yang menggelar doa bersama, dan ada pula yang terus mengingatkan pentingnya keselamatan dalam menjalankan tugas jurnalistik.
Doa dari Bundaran HI
Di Jakarta Pusat, Pewarta Foto Indonesia (PFI) menggelar doa bersama di kawasan Bundaran Hotel Indonesia. Kegiatan tersebut menjadi bentuk dukungan moral bagi lima jurnalis yang masih dalam pencarian serta keluarga yang terus menunggu kepastian.
Ketua Umum PFI Pusat Dwi Pambudo menjelaskan, doa menjadi salah satu bentuk ikhtiar yang bisa dilakukan para jurnalis untuk memberikan kekuatan kepada rekan-rekan mereka dan keluarga.
“Malam ini, doa bersama dari Pewarta Foto Indonesia (PFI) untuk kawan-kawan kami yang meliput di Gunung Anak Krakatau. Harapannya, semoga kawan-kawan kami selamat, sehat, dan bisa kembali ke keluarga,” kata Dwi di Jakarta, Jumat (11/9).
Pria yang akrab disapa Dido itu menyebut doa bersama dihadiri sejumlah perwakilan keluarga dan insan pers dari berbagai media.
PFI juga terus melakukan pendampingan kepada keluarga melalui perwakilan organisasi maupun perusahaan media tempat para jurnalis bekerja.
Dido meminta seluruh insan pers dan masyarakat berhati-hati dalam menerima maupun menyebarkan informasi mengenai proses pencarian. Menurutnya, kondisi keluarga yang sedang menunggu kabar harus menjadi pertimbangan utama.
“Kami membutuhkan doa, dukungan moral, dan optimisme dari publik,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Basarnas, TNI, Polri, pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta seluruh unsur yang terlibat dalam operasi pencarian.
Terus disebut dalam doa
Harapan yang sama juga terdengar dari Kota Malang. Puluhan insan pers berkumpul di Alun-Alun Merdeka untuk mendoakan keselamatan para jurnalis dan kru kapal.
Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Malang Raya, Hilda Daningtyas, menjelaskan belum adanya kabar mengenai keberadaan mereka membuat keluarga berada dalam situasi yang berat.
“Belum ada kabar sampai hari ini. Saya dapat merasakan betapa sedihnya pihak keluarga,” kata Hilda.
Lima jurnalis yang masih dicari adalah Arie Basuki dari Merdeka, M Bagus Khoirunnas dari Perum LKBN ANTARA, Yudistiro Pranoto dari INEWS, Firdaus Wajidi dari Andolu Agency, dan Donal Husni yang merupakan wartawan lepas.
Selain mereka, tiga kru kapal juga masih dalam pencarian. Mereka adalah Warta selaku kapten kapal, Surakman sebagai anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu.
Nama-nama tersebut menjadi bagian dari doa yang dipanjatkan para jurnalis di Malang. Sejumlah peserta bahkan membawa poster bertuliskan “Cepat Pulang Kawan” serta poster yang mencantumkan nama para jurnalis dan kru kapal.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat yang hadir bersama sejumlah pejabat pemerintah daerah turut menyampaikan harapan agar seluruh korban segera ditemukan.
“Kami ikut juga mendoakan, semoga segera ditemukan dalam kondisi baik,” ucap Wahyu.
Dari Bandung, lilin untuk menjaga harapan
Solidaritas juga muncul di Bandung. Puluhan jurnalis berkumpul di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Jumat malam. Kegiatan itu diinisiasi PFI Bandung bersama IJTI Jawa Barat dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung. Selain doa bersama, para peserta menyalakan lilin sebagai simbol harapan.
Ketua PFI Bandung Raisan Al Farisi menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bentuk solidaritas sekaligus ikhtiar bersama agar seluruh jurnalis dan awak kapal segera ditemukan. Tema yang dipilih adalah “Menyalakan Harapan”.
Harapan itu kemudian diwujudkan melalui doa dan aksi teatrikal yang dibawakan seniman pantomim Wanggi Hoediyatno. Pesan yang ingin disampaikan sederhana: selama pencarian masih berlangsung, harapan untuk menemukan mereka tetap harus dijaga.
“Harapan kita PFI, IJTI, AJI, semoga pencarian hari ini dan besok bisa membuahkan hasil yang baik. Kami di Bandung mendoakan mereka agar segera ditemukan dengan selamat,” kata Raisan.
Carita menunggu warganya
Di Carita, Pandeglang, suasana harap-harap cemas terasa lebih dekat. Salah satu orang yang masih dicari, Heriyanto, diketahui merupakan warga Desa Sukarame.
Warga Desa Sukarame menggelar pengajian dan doa bersama di Dermaga Marina Carita, Jumat malam. Lokasi tersebut juga menjadi salah satu Pos SAR Gabungan dalam operasi pencarian.
Ketua RT 20/005 Desa Sukarame, Adhari Alis, mengungkapkan masyarakat terus mengikuti perkembangan pencarian. Warga juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah dan seluruh unsur SAR yang masih berupaya menemukan para korban.
“Kami ucapkan terima kasih kepada Gubernur Banten, Tim SAR Gabungan, TNI, Polri dan relawan yang telah fokus mencari saudara kami, Heriyanto, yang kesehariannya kami panggil Bonsai,” ujar Adhari.
Bagi warga, doa bukan sekadar kegiatan seremonial. Sejak malam pertama mendengar kabar hilangnya rombongan kapal, masyarakat telah rutin mendoakan mereka di musala masing-masing.
Salah seorang warga Kampung Shanghiang, Desa Sukarame, Sarifudin (72), mengatakan warga terus menanti kabar mengenai keselamatan para korban.
“Kami selalu menantikan saudara-saudara kami yang sedang dalam pencarian. Setiap malam, dari malam Rabu, di mushola masing-masing kami menggelar doa bersama. Sudah 3 malam selalu berdoa,” katanya.
Kapolsek Carita Supandi juga mengajak masyarakat mendoakan keselamatan para jurnalis dan kru kapal sekaligus kesehatan seluruh personel yang terlibat dalam operasi pencarian.
Keselamatan pelajaran berharga
Di laut, operasi pencarian terus berlangsung. Pada hari keempat, Basarnas mengerahkan total 13 kapal, di antaranya KRI Kerambit 627, KN SAR Tetuka, KP Hayabusa, KN SAR Basudewa, KRI Leuser 924, KAL Anyer, KP Sanjaya, dan RIB 02 Banten.
Di darat, keluarga dan rekan-rekan para korban masih menunggu satu hal yang paling diharapkan: kabar bahwa mereka ditemukan.
Bagi PFI, peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa tugas jurnalistik di wilayah bencana memiliki risiko besar. Karena itu, pengalaman tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat edukasi dan mitigasi kebencanaan bagi jurnalis.
Kolaborasi antara media, pemerintah, TNI, Polri, Basarnas, dan berbagai lembaga juga dinilai penting untuk memastikan keselamatan jurnalis ketika bekerja di wilayah berisiko.
“Semoga bangsa ini lebih tanggap terhadap bencana, lebih siap dalam mitigasi. Dan pengalaman ini jadi pembelajaran bagi seluruh jurnalis, bahwa tidak ada pemberitaan seharga nyawa,” kata Dido.
Sementara pencarian terus dilakukan, doa dari Jakarta, Malang, dan Carita bertemu pada harapan yang sama. Lima jurnalis dan tiga kru kapal bukan sekadar nama dalam daftar pencarian. Mereka adalah rekan kerja, saudara, orang tua, anak, dan bagian dari keluarga yang kini menunggu kepulangan.
Dan untuk mereka, satu kalimat masih terus menggema: cepat pulang, kawan.
