El Nino dan Cuaca Panas Tingkatkan Risiko ISPA

Dokumentasi - Dokter memeriksa kesehatan pasien bergejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Foto: ANTARA

KabarJakarta.com – Fenomena El Nino dan cuaca panas berlebihan perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit menular, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Masyarakat diminta menjaga kondisi tubuh dan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika cuaca ekstrem serta polusi udara sedang tinggi.

Hal itu diutarakan oleh Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Prof Tjandra Yoga Aditama. Masyarakat diingatkan untuk  menjaga daya tahan tubuh  karena hal itu merupakan salah satu faktor penting dalam menghadapi perubahan cuaca yang ekstrem.

Direktur Pascasarjana Universitas YARSI itu menyarankan masyarakat menerapkan pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi, rutin melakukan aktivitas fisik, serta mencukupi waktu istirahat.

“Status kesehatan dan daya tahan tubuh yang baik akan membentengi dari berbagai kemungkinan penyakit, termasuk ISPA,” kata Tjandra di Jakarta, Minggu (9/8).

Selain menjaga pola hidup, masyarakat juga perlu memastikan kebutuhan cairan tubuh terpenuhi. Menurut Tjandra, cuaca panas dapat menyebabkan dehidrasi yang tidak hanya berdampak pada kondisi tubuh secara umum, namun juga dapat memengaruhi saluran pernapasan.

“Cuaca panas akan menimbulkan dehidrasi, termasuk dampaknya terhadap saluran napas, yang kemudian bisa meningkatkan risiko terkena ISPA,” ujarnya.

Karena itu, masyarakat dianjurkan memperbanyak minum air, terutama saat beraktivitas dalam kondisi panas. Langkah tersebut penting agar membantu tubuh tetap terhidrasi dan menjaga kondisi fisik selama menghadapi cuaca ekstrem.

Tjandra juga mengingatkan masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika suhu udara sangat tinggi dan kualitas udara sedang buruk. Kondisi tersebut akan meningkatkan paparan terhadap berbagai faktor yang berpotensi mengganggu kesehatan pernapasan.

Jika muncul gejala seperti batuk, sakit dada, atau demam, masyarakat diminta tidak mengabaikannya. Penanganan dapat disesuaikan dengan tingkat keparahan keluhan.

“Kalau ringan, bisa ditangani sendiri dengan obat untuk menghilangkan gejala. Kalau perlu istirahat. Kalau keluhan tidak membaik, segera berkonsultasi pada petugas kesehatan,” terang Tjandra.

Ia juga meminta masyarakat ikut menjaga kualitas udara dengan tidak menambah sumber polusi di lingkungan sekitar. Kebiasaan merokok, menggunakan sepeda motor yang mengeluarkan asap hitam, hingga membakar sampah sebaiknya dihindari.

Menurut Tjandra, upaya menjaga kesehatan pernapasan tidak hanya menjadi tanggung jawab individu. Pemerintah juga perlu menyiapkan langkah antisipasi agar peningkatan kasus ISPA bisa tertangani dengan cepat apabila terjadi.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, khususnya, diminta memastikan layanan kesehatan tersedia di berbagai tingkatan dan mudah dijangkau masyarakat. Fasilitas kesehatan perlu didukung sarana diagnostik serta ketersediaan obat yang memadai.

“Kalau ada kasus yang memerlukan rawat inap, maka tentu perlu disiapkan rumah sakit untuk penanganannya,” imbuh Tjandra.

Kesiapan fasilitas kesehatan menjadi penting di tengah ancaman cuaca panas dan polusi udara. Hanya dengan pelayanan yang mudah diakses, masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan bisa segera memperoleh pemeriksaan dan penanganan.

Di tingkat masyarakat, pencegahan tetap menjadi langkah utama. Menjaga daya tahan tubuh, cukup minum, beristirahat, menghindari asap rokok dan polusi, serta segera memeriksakan diri ketika keluhan tidak membaik menjadi langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko ISPA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *