Mobil Mamografi Hadir di Jakarta Barat, Perempuan Diajak Tak Takut Deteksi Kanker Payudara

Dokumentasi - Sebanyak 50 orang pengurus dan kader PKK Jakarta Barat mengikuti kegiatan Sosialisasi Deteksi Dini Kanker Payudara, pemeriksaan payudara klinis (Sadanis) dan Pemeriksaan Mamografi, di Ruang Wijaya Kusuma, Kantor Wali Kota, Kamis (6/8). Foto: Pemkot Jakbar

KabarJakarta.com – Suasana di kompleks Kantor Wali Kota Administrasi Jakarta Barat tampak berbeda. Sebuah mobil mamografi keliling menjadi bagian penting dalam layanan kesehatan yang ditujukan bagi perempuan.

Melalui layanan ini, masyarakat mendapat kesempatan untuk memeriksakan kondisi payudara sekaligus memperoleh edukasi mengenai pentingnya deteksi dini kanker payudara. Kegiatan tersebut digelar organisasi kemasyarakatan Pita Putih Indonesia (PPI) bekerja sama dengan Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), serta Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Jakarta Barat.

Ketua Umum PPI Giwo Rubianto Wiyogo menjelaskan pemeriksaan dini merupakan salah satu langkah penting untuk melindungi perempuan dari risiko kanker payudara. Menurut dia, kesehatan seorang ibu memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan keluarga.

“Ibu merupakan jantung rumah tangga. Saat ia sakit, dampaknya tidak berhenti pada dirinya sendiri, melainkan menimbulkan dampak luas,” kata Giwo dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (19/8).

Ia menjelaskan, gangguan kesehatan pada perempuan tidak hanya menjadi persoalan pribadi. Ketika seorang ibu harus menjalani pengobatan dalam waktu panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi aktivitas keluarga, ekonomi rumah tangga, hingga produktivitas sehari-hari.

“Masalah kesehatan ibu berdampak langsung pada keseharian keluarga, stabilitas ekonomi, hingga produktivitas rumah tangga. Bahkan, risiko kematian ibu turut mengancam tumbuh kembang dan masa depan anak-anak yang ditinggalkan,” ujarnya.

Giwo menyebut layanan pemeriksaan tersebut hadir di tengah masih tingginya kasus kanker payudara di Indonesia. Berdasarkan data Globocan 2022 yang disampaikan PPI, jumlah kasus kanker payudara di Indonesia telah mencapai lebih dari 66 ribu kasus.

Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah masih banyak perempuan yang baru mengetahui penyakitnya setelah memasuki stadium lanjut. Kondisi itu membuat proses pengobatan menjadi lebih rumit dan peluang keberhasilan penanganan dapat semakin menurun.

Karena itu, PPI mendorong perempuan untuk tidak menunggu munculnya keluhan berat sebelum memeriksakan diri. Deteksi dini dapat dilakukan secara mandiri maupun melalui pemeriksaan medis.

Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya menjalani pemeriksaan menggunakan mobil mamografi. Mereka juga mendapatkan edukasi mengenai Periksa Payudara Sendiri (SADARI) dari Tim Edukasi YKPI.

Setelah itu, peserta dapat mengikuti pemeriksaan klinis atau Periksa Payudara Secara Klinis (SADANIS) yang dilakukan tim bidan dari IBI Cabang Jakarta Barat. Pemeriksaan kemudian dilengkapi pemindaian menggunakan teknologi sinar-X yang tersedia di dalam unit mobil mamografi keliling YKPI.

Bagi PPI, rangkaian layanan tersebut diharapkan dapat membuat deteksi dini menjadi lebih mudah dijangkau masyarakat. Edukasi juga dinilai penting agar perempuan memiliki pengetahuan untuk mengenali perubahan pada payudara dan memahami kapan harus mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

Giwo berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan sosial sesaat. Ia ingin model layanan serupa dapat diterapkan secara berkelanjutan di daerah lain sehingga semakin banyak perempuan memperoleh akses pemeriksaan.

“Harapannya, kegiatan kami tidak hanya berhenti sebagai bakti sosial sesaat, tetapi juga bisa menjadi contoh aksi nyata yang terus berlanjut di berbagai daerah lain,” katanya.

Ia menambahkan, peningkatan kesadaran mengenai kesehatan reproduksi dan deteksi kanker perlu dilakukan secara konsisten. Dengan semakin banyak perempuan yang melakukan pemeriksaan secara rutin, keterlambatan penanganan kanker payudara diharapkan dapat ditekan.

Upaya tersebut pada akhirnya bukan hanya untuk menjaga kesehatan perempuan, tetapi juga mempertahankan ketahanan keluarga. Sebab, ketika ibu tetap sehat, aktivitas keluarga, pengasuhan anak, dan kehidupan ekonomi rumah tangga dapat berjalan lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *