JIF Summit 2026: Saat Jakarta Mencari Investasi yang Tak Sekadar Besar, tetapi Berdampak

PMPTSP Provinsi DKI Jakarta memulai rangkaian Jakarta Investment Festival (JIF) Summit 2026 di Grand Ballroom, Shangri-La Jakarta, Kamis (27/8). Foto; PMPTSP DKI Jakarta

KabarJakarta.com — Jakarta sedang mencari cara baru untuk menjaga laju pertumbuhan ekonominya di tengah perubahan besar menuju kota global. Bukan hanya soal berapa banyak modal yang masuk, tetapi juga tentang apa yang dihasilkan investasi tersebut bagi warga dan masa depan kota.

Semangat itu terasa dalam Jakarta Investment Festival (JIF) Summit 2026 yang digelar Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Provinsi DKI Jakarta di Grand Ballroom, Shangri-La Jakarta, Kamis (27/8).

Berlangsung selama dua hari, 27–28 Agustus 2026, forum itu mempertemukan pemerintah, investor, pelaku usaha, akademisi, lembaga keuangan, hingga mitra pembangunan. Mereka membicarakan berbagai peluang investasi sekaligus arah pembangunan Jakarta di tengah transformasi kota yang semakin kompleks.

Kepala Dinas PMPTSP Provinsi DKI Jakarta, Heru Hermawanto, menjelaskan JIF Summit tidak sekadar menjadi ajang untuk memamerkan potensi investasi Jakarta. Forum tersebut dirancang sebagai ruang untuk mempertemukan berbagai pihak yang memiliki kepentingan dan peran dalam pembangunan kota.

“JIF Summit 2026 bukan sekadar forum untuk memperkenalkan peluang investasi di Jakarta, tetapi menjadi ruang yang mempertemukan pemerintah, investor, dunia usaha, akademisi, dan mitra pembangunan dalam membangun Jakarta ke depan,” ujar Heru, Jumat (28/8).

Bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, investasi memiliki arti lebih luas daripada sekadar angka. Modal yang masuk diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan, menggerakkan ekonomi, melahirkan inovasi, sekaligus memperkuat posisi Jakarta dalam persaingan antar kota global.

“Kami ingin investasi yang masuk ke Jakarta tidak hanya besar dari sisi nilai, namun juga berkualitas dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” jelasnya.

Investasi yang menjawab tantangan kota

Salah satu isu yang mendapat perhatian dalam JIF Summit 2026 adalah transformasi kawasan pesisir Jakarta. Kawasan ini memiliki tantangan sekaligus peluang besar yang tidak dapat diselesaikan oleh satu sektor saja.

Pengembangan kawasan pesisir membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, sektor swasta, lembaga pembiayaan, akademisi, dan mitra internasional. Investasi diharapkan dapat menjadi salah satu penggerak perubahan, tetapi tetap harus diarahkan agar sejalan dengan kebutuhan kota dan masyarakat.

“Pembangunan Jakarta sebagai kota global butuhkan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, lembaga keuangan, akademisi, termasuk mitra internasional,” ucap Heru.

Dari forum tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ingin mendorong agar pembicaraan mengenai investasi tidak berhenti di ruang seminar. Diskusi, presentasi proyek, hingga pertemuan bisnis diharapkan menghasilkan komunikasi lanjutan dan peluang kerja sama yang lebih konkret.

Heru berharap JIF Summit dapat menjadi pintu awal menuju realisasi berbagai proyek investasi.

“Sejumlah peluang yang dipertemukan dalam forum ini, diharapkan memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, inovasi, dan peningkatan daya saing Jakarta,” katanya.

Empat panggung dengan beragam peluang

Kepala Unit Pengelola Jakarta Investment Centre (UP JIC) DPMPTSP Provinsi DKI Jakarta, Ezrin Kartika, menjelaskan JIF Summit 2026 dirancang dengan konsep yang cukup beragam. Pada hari pertama, kegiatan berlangsung secara paralel melalui 4 (empat) panggung, yakni Main Stage, Paviliun 1 bertema Future Proof City, Paviliun 2 Minds to Market, dan Paviliun 3 Capital that Connects.

Konsep tersebut membuat pembahasan investasi tidak hanya berputar pada angka dan kebijakan. Berbagai isu yang berkaitan dengan masa depan kota, inovasi, pembiayaan, hingga peluang bisnis ikut dibawa ke dalam forum.

“JIF Summit dirancang sebagai platform yang mempertemukan investor dengan peluang investasi secara lebih terarah. Karena itu, kami tidak hanya menghadirkan diskusi, namun juga memperkenalkan proyek dan potensi konkret yang dapat ditindaklanjuti,” ungkap Ezrin.

Salah satu agenda utama di Main Stage mengangkat tema The Road Ahead for Jakarta’s Coastal Transformation. Tema tersebut menjadi pintu masuk untuk membahas masa depan kawasan pesisir Jakarta dan kebutuhan kolaborasi dalam pengembangannya.

Forum juga memperkenalkan sejumlah proyek strategis Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jakarta. Proyek yang dipresentasikan antara lain berkaitan dengan pengelolaan air limbah, smart warehouse, transportasi, pariwisata, hingga sektor bisnis dan gaya hidup.

“Presentasi proyek BUMD jadi salah satu bagian penting dalam JIF Summit, karena investor dapat melihat langsung berbagai peluang yang sedang dikembangkan Jakarta. Mulai dari infrastruktur, utilitas, transportasi, hingga sektor pariwisata dan gaya hidup,” tutur Ezrin.

Dari ide menuju kerja sama

JIF Summit juga membuka ruang bagi sektor teknologi dan inovasi. Startup Pitching Session digelar melalui kolaborasi dengan Pijar Foundation dan UK Indonesia Tech Hub. Ada pula sesi Investalk bersama PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) dan BPJS Ketenagakerjaan.

Perspektif kepemimpinan perempuan turut mendapat ruang melalui Fireside Chat Women in Leadership: Perspectives for Jakarta’s Future, hasil kolaborasi dengan British Embassy, BritCham Indonesia, dan Pijar Foundation. Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia Dyah Roro Esti dijadwalkan memberikan keynote speech dalam agenda tersebut.

Sementara itu, akademisi dan lembaga keuangan juga terlibat melalui berbagai diskusi. Di antaranya riset dan investasi bersama LPEM FEB UI, Strategic Incentive Alignment in Capital Fundraising bersama SBM ITB, kuliah umum Universitas Prasetiya Mulya, pembahasan transaksi mata uang lokal bersama Bank Indonesia, serta diskusi bersama CIMB Niaga.

Sektor kreatif juga tidak luput dari perhatian. Jakarta Film Commission mengangkat tema Building the Stage: Unlocking Opportunities in Jakarta’s Film Infrastructure untuk membahas peluang pengembangan infrastruktur perfilman di Jakarta.

Banyaknya pihak yang terlibat menunjukkan bahwa investasi Jakarta tidak berdiri sendiri. Ada kebutuhan untuk menghubungkan modal, pengetahuan, teknologi, kebijakan, dan kebutuhan masyarakat dalam satu ekosistem.

“Kami ingin JIF Summit menjadi tempat pertemuan yang produktif. Selain diskusi, kami memberi ruang bagi investor, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan untuk membangun komunikasi, termasuk menjajaki peluang kerja sama secara langsung,” jelas Ezrin.

JIF Summit 2026 kemudian dilanjutkan dengan Opening Ceremony yang dijadwalkan dihadiri Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani, Gubernur Jakarta Pramono Anung Wibowo, serta Kepala DPMPTSP DKI Jakarta Heru Hermawanto.

Agenda berikutnya mencakup Plenary Discussion bertajuk Advancing Today, Securing Tomorrow, roundtable session, presentasi proyek strategis BUMD, hingga Networking Reception & MoU Signing.

Pada akhirnya, keberhasilan JIF Summit bukan hanya diukur dari ramainya forum atau banyaknya investor yang hadir. Ukuran yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah pertemuan selesai: apakah komunikasi berubah menjadi kerja sama, apakah proyek benar-benar berjalan, dan apakah investasi tersebut mampu memberi manfaat bagi warga Jakarta.

Di titik itulah ambisi Jakarta sebagai kota global diuji—bukan sekadar menjadi tempat datangnya modal, tetapi menjadi kota yang mampu mengubah investasi menjadi kesempatan, inovasi, dan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *