Ketika Rute Berubah di Tengah Jalan, Penumpang Transjakarta Harus Cari Jalan Pulang

Ditlantas Polda Metro Jaya melalui akun X @TMCPoldaMetro menyampaikan pada pukul 14.56 WIB terjadi pengalihan arus lalu lintas di Jalan Sudirman/Semanggi arah Bundaran HI karena ada kegiatan aksi penyampaian pendapat. Arus lalu lintas dialihkan melalui Jalan Gatot Subroto arah Kuningan. Foto: PT_Transjakarta

KabarJakarta.com – Bagi sebagian warga Jakarta, perjalanan dengan bus Transjakarta biasanya sudah menjadi rutinitas yang nyaris otomatis. Naik dari halte yang sama, melewati jalan yang sama, lalu turun di titik yang sudah dikenal. Namun, rutinitas itu berubah pada Jumat (28/8) ketika aksi unjuk rasa di sekitar Gedung DPR/MPR membuat sejumlah perjalanan bus harus berhenti atau berbelok dari jalur biasanya.

Penumpang yang hendak melintasi kawasan tersebut harus bersiap menghadapi perjalanan yang berbeda. Ada bus yang tidak beroperasi, ada yang dialihkan, dan ada pula yang hanya menempuh sebagian rute.

Perubahan itu dilakukan PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) karena situasi lalu lintas di sekitar lokasi aksi masih dinamis.

“Sehubungan dengan dinamika kondisi di lapangan, Transjakarta melakukan sejumlah penyesuaian layanan operasional,” kata Ayu Wardhani, Kepala Departemen Hubungan Masyarakat dan CSR Transjakarta, di Jakarta, Jumat (28/8).

Bagi pengguna transportasi umum, perubahan rute bukan sekadar persoalan berganti jalur. Ketika satu layanan berhenti, penumpang harus menghitung ulang perjalanan. Titik transit bisa berubah, waktu tempuh bertambah, bahkan moda transportasi yang digunakan untuk mencapai tujuan bisa ikut berganti.

Sejumlah layanan Transjakarta pun dihentikan sementara. Pada layanan Bus Rapid Transit (BRT), rute 3F Kalideres-Gelora Bung Karno tidak beroperasi untuk sementara.

Hal serupa terjadi pada beberapa Angkutan Umum Integrasi, yakni rute 1B Stasiun Palmerah-Tosari, 1F Stasiun Palmerah-Bund Senayan, 8C Pasar Kebayoran-Tanah Abang, 8N Kebayoran-Petamburan melalui Asia Afrika, dan 9E Kebayoran Lama-Jelambar.

Layanan Transjabodetabek SH2 yang menghubungkan Blok M dengan Bandara Soekarno-Hatta juga dihentikan sementara. Bagi warga yang terbiasa menggunakan rute-rute tersebut, perubahan ini membuat perjalanan hari itu harus disusun ulang.

Tidak semua bus berhenti beroperasi. Sebagian tetap melayani penumpang, tetapi melalui jalur berbeda. Rute BRT 9 Pinang Ranti-Pluit, misalnya, tidak melayani perjalanan dari Halte Gerbang Pemuda hingga Kota Bambu.

Rute 9A PGC 1-Latumenten juga mengalami pengalihan. Penyesuaian serupa diterapkan pada rute 1W Blok M-Ancol.

Dari kawasan penyangga Jakarta, sejumlah layanan Transjabodetabek ikut terkena dampak. Rute P11 Bogor-Blok M, S21 Alam Sutera-Blok M, T11 Poris Plawad-Petamburan, dan T31 PIK 2-Blok M mengalami pengalihan rute.

Mikrotrans yang menjadi penghubung perjalanan jarak pendek juga tidak luput dari penyesuaian. Rute JAK.11 Tanah Abang-Kebayoran dan JAK.12 Tanah Abang-Kebayoran melalui Kampung Baru dialihkan.

Sementara JAK.14 Tanah Abang-Meruya tidak melayani pemberhentian dari BS Sekolah Tarsisius 2 hingga Jalan KS Tubun 2.

Rute JAK 54 Grogol-Benhil bahkan mengalami perpendekan. Pemberhentian mulai BS Slipi Petamburan 1 hingga SMPB 40 tidak dilayani.

Di tengah situasi seperti ini, satu hal menjadi penting bagi penumpang: informasi. Warga yang biasanya cukup melihat jadwal dan langsung berangkat kini perlu memastikan lebih dulu apakah bus yang hendak dinaiki masih melayani perjalanan seperti biasa.

Transjakarta meminta pelanggan mengikuti perkembangan kondisi layanan melalui kanal resminya.

“Seluruh pelanggan diimbau agar terus memantau pembaruan informasi operasional terkini, secara berkala, melalui aplikasi TJ: Transjakarta, maupun media sosial resmi Transjakarta,” ujar Ayu.

Bagi Jakarta yang bergerak hampir tanpa jeda, perubahan kecil dalam jaringan transportasi bisa terasa besar bagi mereka yang sedang mengejar jam masuk kerja, menghadiri pertemuan, menjemput keluarga, atau sekadar ingin pulang tepat waktu.

Hari itu, perjalanan dengan Transjakarta bukan hanya soal naik dan turun bus. Penumpang juga harus membaca situasi, mencari alternatif, dan bersiap jika rute yang biasanya membawa mereka pulang ternyata berubah di tengah jalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *