Dari Rumah hingga Restoran, Jakarta Timur Kejar Pengurangan 865 Ton Sampah per Hari

Pemerintah Kota Jakarta Timur mengangkut 25 ton sampah sisa banjir di Kramat Jati, Jumat (27/3/2026). Foto: Pemerintah Kota Jakarta Timur

KabarJakarta.com — Pagi hari di Jakarta Timur selalu dimulai dengan aktivitas warga. Ada yang berangkat bekerja, mengantar anak ke sekolah, membuka toko, hingga menyiapkan dagangan. Di balik rutinitas itu, ada satu persoalan yang terus mengikuti: sampah.

Setiap hari, ribuan ton sampah dihasilkan dari rumah tangga, tempat usaha, hingga berbagai aktivitas masyarakat. Pemerintah Kota Jakarta Timur kini berupaya mengubah kebiasaan tersebut dengan mendorong pengurangan sampah sejak dari sumbernya.

Hasilnya mulai terlihat. Timbulan sampah di Jakarta Timur berhasil ditekan hingga sekitar 865,57 ton per hari dibandingkan dengan angka tertinggi pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Wali Kota Jakarta Timur Munjirin mengungkapkan, rata-rata timbulan sampah pada periode Mei hingga Juli 2025 berada di kisaran 1.900 sampai 2.400 ton per hari. Sementara pada periode Mei-Juli 2026, rata-ratanya turun menjadi 1.371,43 ton per hari.

Angka tersebut menunjukkan adanya perubahan dalam pengelolaan sampah di wilayah Jakarta Timur. Jika dibandingkan dengan angka tertinggi pada periode Mei-Juli 2025 yang mencapai 2.400 ton per hari, pengurangan yang terjadi mencapai 865,57 ton setiap hari.

“Penanganan sampah di Jaktim menunjukkan tren positif, dengan mencatatkan penurunan timbulan sampah hingga 865,57 ton per hari,” kata Munjirin di Jakarta, Senin (31/8).

Bagi Pemerintah Kota Jakarta Timur, capaian itu bukan sekadar persoalan angka. Pengurangan tersebut menjadi tanda bahwa upaya mengubah pola pengelolaan sampah mulai memberikan hasil.

Salah satu kuncinya adalah pemilahan sampah dari rumah.

Berdasarkan data Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur, sebanyak 702.150 warga atau 175.537 kepala keluarga (KK) kini telah aktif memilah sampah dari rumah masing-masing.

Kebiasaan sederhana seperti memisahkan sampah organik dan anorganik dinilai dapat memberikan dampak besar apabila dilakukan secara konsisten oleh masyarakat dalam jumlah besar.

Munjirin mengapresiasi jajaran kecamatan dan kelurahan yang selama ini ikut mendorong pengurangan sampah di wilayah masing-masing.

“Saya apresiasi seluruh jajaran kecamatan dan kelurahan, yang sudah berjuang bersama melakukan pengurangan sampah di wilayah Jakarta Timur,” paparnya.

Namun, capaian tersebut belum dianggap cukup. Pemerintah kota ingin pemilahan sampah menjadi kebiasaan yang dilakukan seluruh warga, bukan hanya sebagian masyarakat yang sudah lebih dulu menerapkannya.

Karena itu, Munjirin meminta sosialisasi terus dilakukan hingga ke tingkat masyarakat. Menurut dia, pengelolaan sampah tidak seharusnya berhenti pada pengangkutan dari rumah atau tempat usaha untuk kemudian dibawa ke tempat pembuangan akhir.

“Saya harapkan, sosialisasi terus dilakukan sehingga seluruh warga Jaktim dapat melakukan pemilahan sampah dari rumah masing-masing,” ucapnya.

Restoran tak boleh lepas tangan

Persoalan sampah bukan hanya berada di kawasan permukiman. Aktivitas usaha, termasuk restoran, juga menghasilkan sampah dalam jumlah yang tidak sedikit.

Munjirin meminta Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur tidak hanya menyasar rumah tangga dalam program pemilahan sampah. Pelaku usaha juga harus diberikan pemahaman dan didorong untuk menjalankan kewajiban tersebut.

Ia bahkan masih menemukan restoran yang belum optimal melakukan pemilahan sampah. “Saya masih melihat ada restoran yang belum melakukan kegiatan pilah sampah,” terang Munjirin.

Karena itu, ia meminta Sudin LH Jakarta Timur bersama kepala satuan pelaksana (kasatpel) di tingkat kecamatan dan kelurahan memperkuat sosialisasi kepada pelaku usaha.

Langkah tersebut penting agar pengurangan sampah tidak hanya bergantung pada kesadaran warga di rumah. Dunia usaha juga perlu ikut bertanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan.

Bukan sekadar mengangkut

Selain mendorong pemilahan, Pemkot Jakarta Timur juga ingin memperkuat pengawasan terhadap perilaku membuang sampah sembarangan.

Munjirin mendorong pemerataan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap warga yang kedapatan membuang sampah sembarangan. Menurut dia, keberadaan petugas di lokasi tertentu dapat memberikan efek jera.

“Saya yakin jika adanya penjagaan seperti itu, membuat warga yang ingin membuang sampah, karena adanya petugas menjadi takut. Harapannya, di kemudian hari tidak melakukan hal yang sama kembali,” ujarnya.

Upaya tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan menambah armada pengangkut atau memperluas tempat pembuangan. Perubahan juga harus dimulai dari perilaku.

Dari rumah, warga memilah sampah. Dari restoran dan tempat usaha, pelaku usaha melakukan hal serupa. Di ruang publik, masyarakat tidak membuang sampah sembarangan.

Jika kebiasaan itu semakin luas, angka pengurangan sampah bukan hanya menjadi statistik pemerintah. Ia menjadi gambaran perubahan perilaku masyarakat dalam memperlakukan sampah.

Jakarta Timur kini memiliki modal awal berupa ratusan ribu warga yang sudah memilah sampah dari rumah. Tantangannya adalah memperluas kebiasaan tersebut hingga menjadi budaya bersama.

Dengan begitu, target mengurangi timbulan sampah tidak berhenti pada pencapaian 865 ton per hari. Lebih jauh, upaya tersebut diharapkan membentuk sistem pengelolaan sampah yang dimulai dari sumbernya dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *