Lapas Narkotika Jakarta Perkuat Pembinaan Warga Binaan dengan Pendidikan dan Konseling

Lapas Narkotika Kelas IIA Jakarta melalukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) bersama Patriot Garda Indonesia terkait pelaksanaan pembinaan kepribadian, kerohanian Kristen, kesehatan mental, dan kesehatan jasmani bagi warga binaan di Jakarta Timur, Rabu (2/9/2026). Foto: Lapas Narkotika Kelas II A Jakarta

KabarJakarta.com — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas II A Jakarta terus memperkuat program pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP). Pembinaan tidak hanya diarahkan untuk membantu warga binaan menjalani masa pidana, tetapi juga mempersiapkan mereka agar mampu kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.

Upaya tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai pihak. Salah satunya melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Lapas Narkotika Jakarta dan Patriot Garda Indonesia terkait pelaksanaan sejumlah program pembinaan kepribadian.

Kepala Lapas Narkotika Jakarta Aliandra Harahap mengungkapkan, pembinaan menjadi bagian penting dalam proses pemasyarakatan. Karena itu, program yang diberikan kepada warga binaan perlu menyentuh berbagai aspek kehidupan.

“Pembinaan bukan hanya tentang cara menjalani masa pidana, tetapi bagaimana memberikan bekal pengetahuan, kesehatan mental, dan jasmani, penguatan spiritual, agar warga binaan memiliki kesiapan untuk kembali ke masyarakat,” kata Aliandra di Jakarta, Rabu (2/9).

Kerja sama tersebut mencakup pembinaan kepribadian, kerohanian Kristen, kesehatan mental, serta kesehatan jasmani. Program dirancang agar warga binaan memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan diri selama berada di dalam lapas.

Salah satu kegiatan yang dijalankan adalah pembinaan kerohanian Kristen melalui Sekolah Alkitab. Selain itu, terdapat Program Aksi Kesetaraan Pendidikan Tinggi Teologi yang membuka kesempatan bagi warga binaan untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang Strata 1 (S1) Teologi.

Menurut Aliandra, pendidikan menjadi salah satu bagian penting dalam proses pembinaan karena dapat memberikan pengetahuan sekaligus membuka perspektif baru bagi warga binaan.

Saat ini, sebanyak 36 warga binaan mengikuti program pendidikan tersebut. Mereka terdiri atas 13 warga binaan yang mengikuti program S1 Teologi dan 23 warga binaan yang mengikuti Sekolah Alkitab Bersertifikat.

Selain pendidikan keagamaan, kerja sama itu juga mencakup konseling kesehatan mental. Program tersebut diharapkan dapat membantu warga binaan menghadapi berbagai persoalan selama menjalani masa pidana sekaligus mempersiapkan kondisi psikologis mereka sebelum kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat.

Aspek kesehatan jasmani juga menjadi bagian dari pembinaan. Kegiatan fisik dinilai penting untuk menjaga kebugaran sekaligus membangun kebiasaan hidup yang lebih sehat bagi warga binaan.

Aliandra menegaskan, pembinaan di lapas harus diberikan secara menyeluruh dan tidak berhenti pada kegiatan formal. Program yang dijalankan perlu memberikan manfaat yang dapat dirasakan warga binaan dalam kehidupan mereka setelah bebas.

“Kerja sama ini diharapkan akan memberikan dampak nyata dalam membentuk pribadi warga binaan yang lebih baik, mandiri, dan siap menjalani kehidupan, setelah kembali ke tengah masyarakat,” ujarnya.

Melalui kolaborasi tersebut, Lapas Narkotika Jakarta berharap pembinaan dapat berlangsung secara berkelanjutan. Pendidikan, penguatan spiritual, pendampingan mental, dan kesehatan jasmani diharapkan menjadi bekal bagi warga binaan untuk membangun kehidupan baru yang lebih positif setelah menyelesaikan masa pidana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *