Dari Lapangan Banteng, Akar Nusantara Tumbuh di Tengah Jakarta

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengapresiasi penyelenggaraan pameran pertamanan flora dan fauna (Flona) Jakarta Tahun 2026 yang berlangsung di Taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Foto: Pemprov DKI

KabarJakarta.com — Aktivitas di Jakarta biasanya bergerak cepat. Kendaraan datang dan pergi, gedung-gedung berdiri rapat, sementara ribuan orang menjalani aktivitas masing-masing dari pagi hingga malam.

Namun, suasana itu berubah ketika memasuki kawasan Taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Di sana, tanaman menghijau di berbagai sudut. Ornamen rumah adat menghiasi stan.

Ada pula hewan peliharaan dan beragam produk usaha yang membuat ruang terbuka tersebut terasa lebih hidup. Sekilas, tempat itu seperti taman besar yang sedang menggelar pesta.

Tetapi jika diperhatikan lebih dekat, ada cerita yang lebih panjang di baliknya. Cerita tentang Indonesia yang datang ke Jakarta melalui tanaman, fauna, budaya, komunitas, dan usaha masyarakat.

Cerita itu hadir dalam Pameran Pertamanan Flora dan Fauna (Flona) Jakarta 2026 dengan tema “Akar Nusantara Bertumbuh di Jakarta”.

Pada Jumat (4/9), Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berkeliling melihat stan yang dibuat oleh 5 (lima) kota administrasi dan satu kabupaten di Jakarta.

Setiap wilayah membawa konsep berbeda. Ada yang menampilkan nuansa Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Jawa-Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Papua.

Perbedaan itu terlihat dari ornamen rumah adat, tanaman, hingga dekorasi yang digunakan. Pramono menilai konsep tersebut berhasil menghadirkan gambaran keberagaman Indonesia dalam sebuah pameran yang berlangsung di tengah ibu kota.

“Sangat-sangat baik dan begitu menginspirasi,” ujar Pramono di Lapangan Banteng, Jumat (4/9).

Ketika budaya menemukan ruang

Bagi Pramono, keberagaman yang ditampilkan dalam Flona bukan sekadar hiasan untuk mempercantik stan. Ada pesan tentang Jakarta sebagai kota yang dihuni masyarakat dari berbagai daerah dengan latar belakang budaya yang beragam.

Jakarta tumbuh dari pertemuan banyak orang. Mereka datang membawa bahasa, tradisi, makanan, kesenian, hingga kebiasaan dari daerah asal masing-masing.

Karena itu, ketika budaya Nusantara ditampilkan di ruang publik seperti Lapangan Banteng, Jakarta seolah sedang menunjukkan wajahnya sendiri.

“Bagi siapa pun yang datang ke Jakarta lengkap dengan etnik budaya masing-masing, tentunya kami sangat terbuka,” sapa Pramono.

Kalimat itu terasa semakin relevan ketika melihat stan-stan yang berdiri berdampingan. Tidak ada satu budaya yang tampil sendirian. Semuanya mendapat ruang untuk memperkenalkan identitasnya.

Dari sana, Flona tidak hanya berbicara tentang flora dan fauna. Pameran ini juga menjadi ruang untuk memperlihatkan bahwa keberagaman dapat menjadi bagian dari kehidupan kota.

Hobi jadi penggerak ekonomi

Di antara tanaman dan dekorasi budaya, terdapat cerita lain yang tidak kalah penting: cerita para pelaku usaha.

Flona 2026 melibatkan pelaku usaha mikro di bidang tanaman dan hewan peliharaan. Komunitas, asosiasi, pelaku ekonomi, serta industri kreatif juga ikut meramaikan kegiatan tersebut.

Sebanyak 284 stan disiapkan tahun ini. Terdiri atas 11 stan exhibition, 147 stan flora, delapan stan fauna, 112 stan UMKM, dan enam stan sponsor.

Bagi para pelaku UMKM, keramaian pengunjung tentu bukan sekadar angka. Banyaknya orang yang datang berarti semakin besar peluang produk mereka dikenal dan dibeli.

Tahun ini, jumlah pengunjung disebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada akhir pekan, kunjungan mencapai sekitar 12 ribu hingga 17 ribu orang per hari.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun memasang target transaksi sebesar Rp40 miliar selama pameran berlangsung. Pramono berharap target tersebut dapat memberikan manfaat langsung kepada pelaku UMKM yang ikut ambil bagian.

“Mudah-mudahan transaksinya bagi para pelaku UMKM, yang hari ini ikut pameran di tempat ini juga mengalami kenaikan omzet,” ujarnya.

Jakarta tidak melupakan akarnya

Flona 2026 berlangsung selama sebulan, mulai 28 Agustus hingga 28 September 2026, setiap hari pukul 10.00-21.00 WIB.

Selama periode itu, Lapangan Banteng menjadi tempat pertemuan banyak hal. Tanaman bertemu kreativitas. Fauna bertemu komunitas. Produk UMKM bertemu pengunjung. Sementara budaya dari berbagai penjuru Indonesia bertemu dalam satu ruang.

Di tengah kota yang terus berkembang, pemandangan tersebut memberikan pengingat sederhana: modernitas tidak harus membuat sebuah kota kehilangan akar.

Jakarta boleh dipenuhi gedung tinggi dan pusat bisnis. Tetapi di ruang publiknya, masih ada tempat bagi tanaman untuk tumbuh, komunitas untuk bergerak, UMKM untuk berkembang, dan budaya dari berbagai daerah untuk tampil.

Mungkin itulah makna “Akar Nusantara Bertumbuh di Jakarta”.

Akar itu tidak harus berada di tempat asalnya. Ia bisa dibawa ke kota, dirawat, lalu tumbuh bersama akar-akar lain yang datang dari berbagai penjuru negeri.

Dan di Lapangan Banteng, akar-akar itu untuk sementara menemukan satu ruang untuk tumbuh bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *