Wisatawan Jangan Sekadar Datang, Jakarta Siap Bikin Mereka Tinggal Lebih Lama

Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa dalam perhelatan Jakarta International Investment, Trade, Tourism, and SMEs Expo (JITEX) 2026 di JIEXPO, Kamis (17/9/2026). Foto: ANTARA

KabarJakarta.com —  Jakarta tidak cukup hanya menjadi kota persinggahan. Ketika wisatawan datang, tantangan berikutnya adalah membuat mereka memilih tinggal lebih lama, menghabiskan lebih banyak uang, dan menjadikan perjalanan mereka sebagai pengalaman yang berkesan.

Persoalan itu menjadi perhatian Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa saat menghadiri Jakarta International Investment, Trade, Tourism, and SMEs Expo (JITEX) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (17/9).

Menurut Ni Luh, keberhasilan pariwisata tidak bisa hanya diukur dari jumlah wisatawan yang datang. Lama tinggal dan besarnya pengeluaran wisatawan juga menjadi bagian penting karena berkaitan langsung dengan manfaat ekonomi yang diterima pelaku usaha dan masyarakat.

“Pekerjaan kita tak berhenti pada bagaimana mendatangkan wisatawan. Tantangan berikutnya, bagaimana meningkatkan lama tinggal mereka. Bagaimana juga, agar wisatawan ini belanjanya lebih banyak,” kata Ni Luh.

Pernyataan itu menjadi penting bagi Jakarta yang memiliki beragam pilihan wisata, mulai dari pusat kuliner, belanja, sejarah, seni, hiburan, hingga berbagai agenda berskala internasional.

Namun, banyaknya pilihan belum otomatis membuat wisatawan tinggal lebih lama.

Data BPS DKI Jakarta menunjukkan rata-rata lama menginap tamu (RLMT) di hotel Jakarta pada Juli 2026 berada di angka 1,59 malam. Angka itu naik 0,03 poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara rata-rata lama menginap di hotel nonbintang tercatat 1,32 malam.

Angka tersebut menggambarkan bahwa masih terdapat ruang untuk memperpanjang waktu wisatawan berada di Jakarta.

Bagi sektor pariwisata, tambahan satu malam bukan sekadar tambahan waktu di kamar hotel. Ada potensi pengeluaran untuk makanan, transportasi, belanja, tiket atraksi, hiburan, hingga produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Di titik inilah persoalan lama tinggal wisatawan bertemu dengan investasi.

Dari wisatawan ke peluang investasi

Ni Luh mengungkapkan wisatawan membutuhkan produk dan pengalaman berkualitas. Di sisi lain, pelaku usaha membutuhkan pasar, UMKM membutuhkan akses kepada pembeli dan distributor, sedangkan investor membutuhkan peluang dan ekosistem usaha yang memiliki prospek.

Kebutuhan tersebut, menurut dia, dapat dipertemukan melalui agenda seperti JITEX yang menggabungkan investasi, perdagangan, pariwisata, dan UMKM dalam satu ekosistem.

Dengan demikian, pengembangan pariwisata tidak berhenti pada promosi destinasi. Infrastruktur, konektivitas, kualitas layanan, atraksi wisata, ruang usaha, hingga produk lokal harus ikut dikembangkan agar wisatawan memiliki alasan untuk memperpanjang kunjungannya.

“Daerah lain, harus juga berani membuat international investment seperti ini. Kami mendorong agar investasi itu, bisa terjadi di beberapa wilayah lain di Indonesia,” ujar Ni Luh.

Indonesia sendiri memiliki pasar wisatawan mancanegara yang besar. Sepanjang 2025, jumlah kunjungan wisman mencapai 15,39 juta, meningkat 10,8 persen dibandingkan 2024.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan persoalan berikutnya, bukan hanya bagaimana mendatangkan lebih banyak wisatawan, tetapi bagaimana nilai ekonomi dari setiap kunjungan bisa diperbesar.

Jakarta punya modal investasi

Peluang investasi juga terlihat nyata di Jakarta. Hal itu dibuktikan dengan tren pertumbuhan investasi yang meningkat.

Pemprov DKI Jakarta mencatat realisasi investasi hingga Semester I 2026 mencapai Rp173,6 triliun. Nilai itu setara 17,2 persen dari total investasi nasional dan menempatkan Jakarta di posisi teratas secara nasional.

Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Chico Hakim menyebut pertumbuhan investasi tersebut bukan sekadar persoalan masuknya modal, melainkan juga menunjukkan kepercayaan terhadap Jakarta.

“Investasi yang masuk ke Jakarta bukan sekadar tentang modal. Ini cerminan sebuah kepercayaan,” kata Chico.

Menurut dia, pemerintah daerah terus memperbaiki iklim usaha melalui percepatan perizinan, digitalisasi layanan, kemitraan strategis, serta pembangunan infrastruktur.

Sejumlah layanan perizinan seperti Koefisien Lantai Bangunan (KLB) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) juga ditargetkan dapat diselesaikan paling lama 15 hari kerja.

Bagi sektor pariwisata, iklim investasi seperti itu tentu menjadi modal dalam memperbanyak produk dan pengalaman yang membuat wisatawan bertahan lebih lama.

Investasi tidak harus selalu hadir dalam bentuk hotel besar. Peluang juga terbuka untuk pusat kuliner, kawasan kreatif, atraksi wisata, ruang pertunjukan, transportasi, pusat belanja, hingga usaha yang menghubungkan wisatawan dengan produk lokal.

Jika ekosistem itu berkembang, wisatawan memiliki lebih banyak pilihan untuk mengisi waktu selama berada di Jakarta.

Chico mengungkapkan arah pembangunan Jakarta tidak hanya ditujukan untuk menarik investor, namun memastikan pertumbuhan memberikan manfaat kepada masyarakat melalui lapangan kerja, inovasi, dan ruang hidup yang lebih baik.

Target tersebut sejalan dengan ambisi Jakarta untuk masuk dalam 50 besar kota global dunia pada 2030. Pada akhirnya, tantangan pariwisata Jakarta bukanlah sekadar membuat orang datang.

Wisatawan perlu diberi alasan untuk tinggal satu malam lebih lama. Mereka perlu menemukan lebih banyak pengalaman, produk lokal, tempat yang menarik, konektivitas yang mudah, dan layanan yang membuat perjalanan terasa layak diperpanjang.

Bagi Jakarta, tambahan waktu itu berarti lebih dari sekadar malam ekstra di hotel. Di dalamnya ada peluang bagi restoran, transportasi, pusat belanja, UMKM, pekerja kreatif, pengelola destinasi, hingga investor untuk ikut menikmati perputaran ekonomi.

Karena itu, memperpanjang lama tinggal wisatawan pada akhirnya bukan hanya agenda pariwisata. Ia juga menjadi bagian dari strategi memperbesar nilai ekonomi Jakarta—dengan memastikan uang yang dibawa wisatawan tidak sekadar singgah, tetapi ikut berputar lebih lama di ibu kota.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *