Konektivitas Transportasi Jakarta Tembus 93 Persen, Perjalanan Warga Makin Terhubung

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengapresiasi transformasi pelayanan publik Dishub DKI Jakarta yang semakin humanis dan sesuai kebutuhan masyarakat. Foto: Pemprov DKI

KabarJakarta.com — Bagi warga Jakarta dan kawasan sekitarnya, perjalanan sehari-hari semakin sulit dipisahkan dari jaringan transportasi publik yang saling terhubung. Dari kereta komuter, MRT, LRT, TransJakarta hingga layanan angkutan pengumpan, setiap moda memiliki peran untuk membawa penumpang dari satu titik ke titik lainnya.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebut konektivitas transportasi di Jakarta kini telah mencapai 93 persen. Angka tersebut menjadi salah satu indikator bahwa integrasi antarmoda terus diperkuat untuk menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat yang sangat tinggi.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan capaian tersebut menjadi penting karena mobilitas masyarakat di kawasan aglomerasi Jakarta mencapai sekitar 42 juta perjalanan setiap hari. Besarnya pergerakan orang membuat sistem transportasi tidak cukup hanya mengandalkan satu moda.

“Ini menunjukkan transportasi Jakarta sekarang ini sudah mengalami perbaikan yang signifikan,” ujar Pramono saat menghadiri Puncak Acara Hari Perhubungan Nasional Tingkat Provinsi DKI Jakarta 2026 di Balai Samudera, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Tidak lagi berjalan sendiri

Konektivitas 93 persen yang dimaksud tidak sekadar bertambahnya jumlah kendaraan atau jalur transportasi. Hal yang lebih penting adalah bagaimana berbagai moda dapat menjadi bagian dari satu jaringan perjalanan.

Jakarta saat ini memiliki sejumlah pilihan transportasi publik yang saling melengkapi. MRT melayani perjalanan melalui koridor utama Jakarta, sementara LRT menghubungkan kawasan tertentu dengan jaringan transportasi lainnya. TransJakarta menjangkau lebih banyak ruas jalan melalui layanan bus dan berbagai rutenya.

Di sisi lain, masyarakat dari wilayah penyangga Jakarta memiliki pilihan KRL dan Transjabodetabek untuk masuk dan keluar kawasan metropolitan. Perjalanan tersebut kemudian dapat dilanjutkan menggunakan TransJakarta, Mikrotrans maupun layanan yang terintegrasi melalui ekosistem JakLingko.

Dengan pola seperti ini, warga tidak harus menggunakan kendaraan pribadi untuk seluruh perjalanan. Satu perjalanan dapat terdiri dari beberapa moda yang saling tersambung.

Penguatan integrasi tersebut juga disebut ikut mendorong peningkatan jumlah pengguna transportasi publik hingga lebih dari 15 persen.

Tantangannya memang tidak kecil. Jakarta merupakan pusat kegiatan ekonomi, pemerintahan, perdagangan, pendidikan, dan jasa yang setiap hari menerima pergerakan penduduk dari berbagai wilayah. Karena itu, kelancaran transportasi tidak hanya menentukan kenyamanan warga Jakarta, tetapi juga memengaruhi aktivitas kawasan aglomerasi secara keseluruhan.

Integrasi terlihat saat acara besar

Salah satu gambaran mengenai pentingnya konektivitas dapat dilihat ketika Jakarta menjadi lokasi acara dengan jumlah pengunjung besar.

Pramono mencontohkan kawasan Jakarta International Stadium (JIS). Sebelumnya, penyelenggaraan konser di kawasan tersebut dapat menyebabkan persoalan lalu lintas, terutama ketika ribuan penonton meninggalkan lokasi secara bersamaan.

“Dulu, Jakarta kalau ada konser di JIS, untuk balik itu perlu waktu hampir 2 jam karena crowded-nya,” kata Pramono.

Menurut dia, koordinasi antara Pemprov DKI Jakarta dan Kementerian Perhubungan kemudian memungkinkan KRL berhenti di kawasan sekitar JIS. Pemerintah juga menghubungkan kawasan JIS dengan Ancol serta mengatur lokasi parkir kendaraan di Ancol.

Skema tersebut menunjukkan bahwa konektivitas tidak berhenti pada pembangunan jalur. Ada kebutuhan untuk mengatur perpindahan penumpang, kendaraan, titik parkir, hingga pola perjalanan agar satu moda dapat mendukung moda lainnya.

Wajah baru pelayanan

Perubahan sistem transportasi juga diikuti upaya memperbaiki kualitas pelayanan. Pramono menilai wajah Dinas Perhubungan DKI Jakarta kini semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat.

“Saya memberikan apresiasi atas wajah Dishub Jakarta yang mengalami perbaikan. Perubahan yang menurut saya lebih humanis, lebih touching ke masyarakat dan juga lebih baik,” paparnya.

Ia juga menyampaikan hasil survei Litbang Kompas yang menunjukkan 97,5 persen masyarakat Jakarta puas terhadap pengaturan transportasi yang mencakup TransJakarta, Transjabodetabek, MRT, LRT, JakLingko, Mikrotrans, dan layanan lainnya.

Bagi Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Budi Awaludin, pembangunan transportasi tidak cukup hanya berbicara mengenai infrastruktur. Ada aspek manusia yang menentukan apakah sistem tersebut benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh pengguna.

“Transportasi yang baik tidak akan mungkin dibangun oleh 1 pihak saja,” ujar Budi.

Karena itu, Dishub DKI menerapkan 5 (lima) nilai perilaku bagi pegawainya, yakni berintegritas, peduli, profesional, sigap, dan humanis.

Pada akhirnya, angka konektivitas 93 persen bukan sekadar statistik. Di balik angka tersebut terdapat upaya menyatukan berbagai moda, mengurangi hambatan perpindahan, serta membuat perjalanan masyarakat lebih terstruktur.

Dengan mobilitas kawasan aglomerasi yang mencapai puluhan juta perjalanan setiap hari, pekerjaan rumah Jakarta berikutnya bukan hanya memperluas jaringan. Tantangannya adalah memastikan konektivitas tersebut benar-benar mudah digunakan, nyaman, aman, dan mampu mengikuti pola perjalanan warga yang terus berubah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *