KabarJakarta.com — Pembangunan Sarana Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT) di Jakarta menghadapi satu pekerjaan penting selain menurunkan kabel dari udara ke bawah tanah: memastikan proses penggalian tidak merusak jaringan utilitas yang sudah lebih dulu tertanam. Pemprov DKI Jakarta diminta memperkuat koordinasi dan pemetaan sebelum pekerjaan dilakukan agar penataan kabel tidak berubah menjadi persoalan baru bagi layanan masyarakat.
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Ima Mahdiah menilai koordinasi menjadi kunci karena kondisi bawah tanah Jakarta tidak sesederhana yang terlihat dari permukaan. Berbagai jaringan telah berada di dalam tanah dan memiliki fungsi masing-masing, mulai dari kabel hingga saluran pompa air.
“Jadi, memang benar-benar harus terkoordinasi secara baik. Pemprov DKI harus mampu mengkoordinasikan seluruh jajarannya, agar program ini bisa berjalan tanpa tumpah tindih dengan pekerjaan lain,” kata Ima di Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa (29/9).
Menurut Ima, pemindahan jaringan utilitas dari udara ke bawah tanah bukan sekadar pekerjaan memindahkan kabel. Pelaksana harus mengetahui lebih dulu posisi jaringan yang telah tertanam di lokasi pembangunan.
Hal ini penting karena satu kesalahan dalam penggalian dapat berdampak langsung terhadap masyarakat. Kerusakan jaringan pompa air, misalnya, dapat membuat layanan air terganggu. Begitu pula dengan jaringan kabel lain yang mendukung aktivitas warga.
“Kayak contoh, banyak juga terjadi, saat memindahkan SJUT kan dari atas ke bawah itu. Dari udara ke dalam tanah itu kan, banyak persoalan. Entah dari saluran pump, kabel-kabel yang lain dan sebagainya,” jelas Ima.
Karena itu, pemetaan utilitas menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari pembangunan SJUT. Sebelum tanah digali, pemerintah dan pelaksana pekerjaan perlu memastikan jalur yang akan dikerjakan tidak beririsan dengan jaringan yang sudah ada atau memiliki langkah pengamanan jika titik-titik tersebut harus dilalui.
Ima mengingatkan agar pekerjaan dilakukan secara tertib sehingga jaringan yang sudah memberikan pelayanan kepada masyarakat tidak ikut menjadi korban pembangunan.
“Ini juga harus tertib. Jangan sampai nanti, ketika ada pengerjaan, tiba-tiba kepotong yang punya pump. Akhirnya air masyarakat mati,” ujarnya.
Menurunkan kabel, menata kota
Di sisi lain, kebutuhan untuk menurunkan kabel udara ke bawah tanah tetap menjadi bagian penting dalam penataan infrastruktur Jakarta. Tumpukan kabel di udara selama ini menjadi salah satu persoalan tata ruang di sejumlah ruas jalan. Kabel yang semrawut juga dapat mengurangi kerapian lingkungan dan membuat ruang jalan terlihat semakin padat.
Melalui SJUT, jaringan utilitas tersebut diarahkan masuk ke jalur bawah tanah yang lebih teratur. Dengan begitu, ruang udara dapat lebih tertata, sementara jaringan utilitas memiliki jalur khusus yang dapat dikelola secara lebih sistematis.
Namun, pemindahan kabel tidak boleh hanya mengejar target panjang jaringan yang berhasil dibangun. Jalur baru harus memperhitungkan keberadaan jaringan lain yang telah lebih dahulu berada di bawah tanah.
Di sinilah persoalan koordinasi menjadi penting. Pekerjaan SJUT melibatkan lebih dari satu kepentingan. Pemerintah daerah harus berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah, pengelola utilitas dan pihak terkait lainnya sebelum pekerjaan dimulai di sebuah lokasi.
Jika koordinasi lemah, pekerjaan yang seharusnya memperbaiki infrastruktur kota justru berpotensi mengganggu layanan yang telah berjalan. Sebaliknya, pemetaan yang baik memungkinkan pekerjaan dilakukan dengan lebih terukur dan mengurangi risiko kerusakan jaringan.
Rp90 miliar untuk 16,9 kilometer
Pemprov DKI Jakarta telah mengalokasikan anggaran Rp90 miliar untuk pembangunan SJUT di sejumlah titik di Jakarta. Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Heru Suwondo menjelaskan anggaran tersebut digunakan untuk membangun SJUT sepanjang 16,9 kilometer.
“Anggaran untuk membangun SJUT ini sebesar Rp90 miliar. Panjangnya mencapai 16,9 kilometer,” kata Heru setelah meninjau pembangunan SJUT di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (10/9).
Pembangunan tersebut mencakup kawasan MT Haryono, Gatot Subroto, Supomo, Abdullah Syafei, Saharjo, Pemuda, Otista, Tebet Barat Dalam Raya, Matraman, dan Jatinegara.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menargetkan pembangunan SJUT dapat rampung dalam 5 (lima) tahun ke depan. Target tersebut membuat kebutuhan akan perencanaan yang matang semakin penting, terutama karena pembangunan dilakukan di wilayah yang sudah memiliki banyak jaringan utilitas.
Pada akhirnya, keberhasilan SJUT tidak hanya dapat diukur dari berapa kilometer kabel yang berhasil dipindahkan dari udara ke bawah tanah. Ukuran lainnya adalah apakah proses tersebut mampu menjaga jaringan yang sudah ada tetap berfungsi.
Jakarta memang membutuhkan penataan kabel udara agar ruang kota lebih rapi dan infrastrukturnya lebih tertata. Tetapi pekerjaan itu harus dilakukan tanpa mengorbankan utilitas yang setiap hari digunakan masyarakat. Sebab, tujuan akhir SJUT bukan sekadar membuat langit Jakarta lebih bersih dari kabel, melainkan membangun sistem utilitas bawah tanah yang aman, terencana, dan tidak saling mengganggu.






