Saat Hoaks Makin Canggih, Jakarta Siapkan Duta Antihoaks dari Kalangan Muda

Kegiatan literasi digital melalui Program Duta Antihoaks Jakarta 2026 yang diselenggarakan Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta, Kamis (1/10/2026). Foto: Pemprov DKI

KabarJakarta.com —  Di tengah derasnya arus informasi digital, membedakan berita benar dan palsu tidak lagi selalu mudah. Sebuah foto bisa direkayasa, suara seseorang dapat dibuat seolah-olah mengucapkan sesuatu yang tidak pernah dikatakannya, sementara video hasil deepfake semakin sulit dibedakan dari rekaman asli.

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat persoalan hoaks memasuki babak baru. Teknologi yang seharusnya membantu manusia mengolah informasi kini juga dapat digunakan untuk membuat konten palsu yang terlihat meyakinkan.

Kondisi inilah yang menjadi salah satu alasan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) menyiapkan generasi muda sebagai penggerak literasi digital melalui Program Duta Antihoaks Jakarta 2026.

Kepala Diskominfotik DKI Jakarta Marulina Dewi menjelaskan tantangan masyarakat saat ini bukan sekadar mengetahui apakah sebuah informasi benar atau salah. Teknologi AI telah membuat konten manipulatif semakin menyerupai kenyataan.

“Di era AI, tantangan kita bukan sekadar membedakan informasi yang benar dan salah. Foto, suara, bahkan video, bisa direkayasa dengan sangat meyakinkan,” kata Marulina dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (2/10).

Situasi tersebut membuat kemampuan literasi digital menjadi semakin penting. Masyarakat tidak cukup hanya bisa menggunakan media sosial atau mencari informasi melalui internet. Mereka juga perlu memiliki kemampuan untuk memeriksa sumber, memahami konteks, mengenali manipulasi, dan tidak terburu-buru menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Di sinilah Program Duta Antihoaks Jakarta 2026 mengambil peran. Program tersebut tidak dirancang sekadar untuk memilih sejumlah anak muda yang kemudian menyandang gelar sebagai Duta Antihoaks.

Diskominfotik ingin menemukan figur yang mampu membawa pengetahuan mengenai literasi digital keluar dari ruang pelatihan dan menjadikannya gerakan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Tahun ini, 356 orang mendaftar untuk mengikuti program tersebut. Setelah melewati berbagai tahapan seleksi dan pembinaan sejak Juli 2026, sebanyak 10 finalis terpilih untuk mengikuti tahap penjurian.

Para finalis tidak hanya diuji melalui kemampuan berbicara. Mereka juga diminta menyusun dan menjalankan Proyek Kampanye Literasi Digital pada 28 Agustus hingga 25 September 2026. Hasil proyek tersebut kemudian dipresentasikan di hadapan dewan juri pada 29 September.

Penilaian mencakup kreativitas, relevansi gagasan, kemampuan implementasi, komunikasi dan kepemimpinan, dampak, serta keberlanjutan program. Sebelum memasuki tahap akhir, para peserta juga mendapatkan in house training dan pembekalan mengenai penyusunan proyek kampanye.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa seorang Duta Antihoaks tidak cukup hanya memahami teori. Ia dituntut mampu mengubah pengetahuan menjadi pesan yang mudah dipahami dan relevan bagi masyarakat.

Tugas itu menjadi semakin penting karena pola penyebaran informasi di ruang digital sangat cepat. Konten yang dibuat dengan AI dapat dikemas dalam bentuk yang menarik dan emosional sehingga berpotensi membuat orang langsung percaya atau membagikannya sebelum melakukan pemeriksaan.

Karena itu, figur Duta Antihoaks diharapkan dapat menjadi penghubung antara pengetahuan literasi digital dan masyarakat. Mereka akan menjadi mitra Diskominfotik untuk memperluas edukasi melalui sekolah, kampus, komunitas, ruang publik, hingga kanal digital.

“Kami mencari anak muda yang mampu berbicara dengan bahasa generasinya, mau turun ke masyarakat, dan mengubah pengetahuan menjadi sebuah gerakan,” ujar Marulina.

Pengukuhan Duta Antihoaks Jakarta 2026 direncanakan berlangsung pada Oktober 2026. Setelah dikukuhkan, tantangan sebenarnya justru dimulai: bagaimana para duta mampu membuat masyarakat lebih kritis menghadapi informasi tanpa kehilangan kepercayaan terhadap teknologi.

Sebab, menghadapi hoaks di era AI bukan berarti menjauhi teknologi. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk menggunakan teknologi secara lebih sadar, kritis, dan bertanggung jawab.

Di titik itulah generasi muda yang dipilih melalui Program Duta Antihoaks Jakarta 2026 diharapkan menjadi bagian penting dari upaya membangun masyarakat digital yang tidak mudah percaya, tetapi juga tidak mudah menyebarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *