KabarJakarta.com — Pagi itu, suasana Gedung Balai Kota DKI Jakarta terasa berbeda. Anak-anak dari Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) datang dengan wajah penuh antusias. Mereka bukan sekadar berkunjung, tetapi mendapat kesempatan melihat dari dekat ruang-ruang pemerintahan sekaligus mencoba pengalaman yang mungkin belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari program Namu Balai Kota, sebuah kegiatan yang membuka akses Gedung Balai Kota bagi masyarakat. Dalam kegiatan itu, para anak pejuang kanker diajak mengikuti tur ke sejumlah ruangan dan fasilitas, termasuk studio Berita Jakarta, kanal berita resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Di tempat inilah pengalaman menarik terjadi. Anak-anak tidak hanya melihat bagaimana sebuah berita diproduksi. Mereka juga diberi kesempatan merasakan langsung berada di depan kamera sebagai presenter cilik.
Salah satu yang mencoba pengalaman tersebut adalah Romansyah, atau yang akrab disapa Oman. Remaja berusia 17 tahun yang tengah berjuang melawan leukemia itu mengaku terkesan ketika mendapat kesempatan menjadi presenter.
Awalnya, Oman mengaku sempat merasa canggung. Berdiri di depan kamera dan berbicara layaknya seorang pembawa berita ternyata memberikan pengalaman yang berbeda baginya.
Namun, rasa canggung itu perlahan berubah menjadi pengalaman yang berkesan. Ia justru mendapatkan inspirasi baru setelah mengikuti kegiatan tersebut.
Pengalaman itu terasa semakin berarti karena Oman memang sedang menggarap sebuah film dokumenter secara otodidak. Film tersebut mengangkat cerita tentang perjuangan anak-anak pejuang kanker di YKAKI dan rencananya akan ditayangkan dalam waktu dekat.
Menurut Oman, kunjungan ke studio Berita Jakarta membuatnya melihat kemungkinan baru untuk mengembangkan film yang sedang dibuatnya.
“Dapat inspirasi dari orang-orang tadi yang di sana. Awalnya, aku kayak belum kepikiran, mau nambahin apa-apa lagi. Masih ragu-ragu. Setelah dapat motivasi, jadi wawasan aku sekarang jauh lebih besar,” ujar Oman.
Bagi Oman, kesempatan mencoba menjadi presenter bukan sekadar permainan di depan kamera. Pengalaman tersebut memberinya tambahan wawasan sekaligus motivasi untuk melanjutkan karya yang sedang dikerjakannya.
Kegiatan itu juga menjadi kesempatan bagi anak-anak YKAKI lainnya untuk mengenal dunia jurnalistik dan produksi berita. Mereka terlihat antusias mengikuti penjelasan serta mencoba berbagai aktivitas di studio.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Kominfotik) DKI Jakarta, Marulina Dewi, mengungkapkan anak-anak tersebut merupakan rombongan tamu pertama yang mengikuti pengalaman Namu Balai Kota. Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi penyemangat bagi para pejuang kanker untuk terus mengejar cita-cita.
Marulina bahkan membuka peluang bagi anak-anak untuk belajar lebih jauh melalui program kids reporter. “Teman-teman jurnalis bisa menjadi inspirasi mereka,” kata Marulina di Balai Kota DKI Jakarta, Sabtu (3/10).
Menurut dia, anak-anak yang tertarik dapat mendaftarkan diri sebagai kids reporter. Mereka nantinya bisa belajar menjadi reporter cilik dengan mendapatkan pengalaman dari para jurnalis yang bekerja di Berita Jakarta.
“Jadi adik-adik bisa mendaftarkan diri sebagai kids reporter. Nanti bisa jadi reporter cilik. Belajar dari kakak-kakak wartawan yang ada di sini. Kemudian nanti bisa naik di YouTube Berita Jakarta, hasil pelatihan menjadi kids reporter,” ujarnya.

Balai Kota dibuka untuk warga
Pengalaman Oman dan anak-anak YKAKI menjadi bagian dari gagasan yang lebih besar melalui Namu Balai Kota. Program yang digagas Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, tersebut dirancang untuk membuat Balai Kota tidak terasa sebagai ruang pemerintahan yang jauh dari kehidupan masyarakat.
Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekda DKI Jakarta, Suharini Eliawati, menjelaskan bahwa Gubernur Pramono ingin Balai Kota menjadi tempat yang dapat dikunjungi warga.
“Beliau menginginkan bahwa yang namanya Balai Kota merupakan tempat yang terbuka yang bisa dikunjungi oleh warganya,” ujar Eli, sapaan Suharini.
Melalui konsep tersebut, masyarakat tidak hanya datang untuk berurusan dengan pemerintah. Mereka juga dapat mengenal lebih dekat gedung pemerintahan dan berbagai aktivitas yang berlangsung di dalamnya.
Senada, Kadis Kominfotik DKI, Marulina Dewi, menilai keterbukaan itu sekaligus menjadi sarana edukasi. Masyarakat diharapkan bisa melihat bahwa ruang pemerintahan juga berperan menjadi ruang interaksi.
“Jadi kita buka konsepnya, bahwa ruang pemerintahan bisa dihadiri warga. Bissa dikunjungi dengan cara yang sangat hangat,” tuturnya.
Dalam Namu Balai Kota, pengunjung dapat mengikuti tur ruang kerja Gubernur DKI Jakarta, melihat Jakarta Smart City, hingga mengunjungi studio Berita Jakarta. Ada pula Ruang Pola di lantai dua yang dapat dimanfaatkan komunitas untuk berbagai kegiatan, termasuk pemutaran film.
Program ini tidak berhenti pada kegiatan wisata gedung. Pemprov DKI juga menghadirkan berbagai layanan publik, seperti pengurusan paspor, SIM Keliling, perpustakaan keliling, Samsat Keliling, pemeriksaan kesehatan gratis, layanan kependudukan, perizinan usaha, hingga pembukaan rekening Bank Jakarta.
Masyarakat juga dapat mengikuti kegiatan pilah sampah dan pelatihan penggunaan alat pemadam api ringan.
Dalam tahap uji coba, Namu Balai Kota berlangsung pukul 08.00 hingga 17.00 WIB dan melibatkan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari pelajar, ASN hingga anak-anak YKAKI.
Setelah melalui evaluasi, program ini direncanakan berlangsung secara berkala setiap dua minggu sekali pada akhir pekan.
Bagi Oman, mungkin yang paling membekas dari kunjungan itu bukan hanya kesempatan melihat Balai Kota dari dekat. Lebih dari itu, ia pulang membawa pengalaman baru: berdiri di depan kamera, mencoba menjadi presenter, bertemu orang-orang yang menginspirasinya, dan menemukan gagasan untuk mengembangkan film dokumenternya.
Di sebuah gedung yang selama ini dikenal sebagai pusat pemerintahan, pagi itu anak-anak pejuang kanker menemukan ruang untuk belajar, berkarya, dan bermimpi.






