Lari Bersama Anabul, Mengingatkan Jakarta agar Tak Lengah Rabies

Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) mengadakan World Rabies Day (WRD) Run 2026 dalam rangka memperingati Hari Rabies Sedunia yang diperingati setiap 28 September. Sebanyak 1.500 peserta ambil bagian dalam kegiatan ini. Foto: beritajakarta

KabarJakarta.com — Rabies bukan sekadar penyakit yang ditularkan melalui gigitan hewan. Ketika gejalanya sudah muncul, penyakit yang menyerang sistem saraf ini hampir selalu berujung pada kematian. Karena itu, setiap gigitan atau paparan dari hewan yang berisiko rabies tidak boleh dianggap sepele.

Ironisnya, ancaman mematikan itu terasa jauh dari suasana meriah di tengah Jakarta pada akhir pekan lalu. Ribuan orang berlari sambil membawa anjing kesayangan mereka. Ada yang berlari berdua dengan anabul, ada pula yang datang untuk bertemu sesama pencinta hewan.

Pemandangan tersebut menjadi bagian dari World Rabies Day (WRD) Run 2026 yang digagas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP). Sebanyak 1.500 peserta ambil bagian dalam kegiatan untuk memperingati Hari Rabies Sedunia yang diperingati setiap tanggal 28 September.

Namun, di balik keceriaan tersebut terselip pesan penting: masyarakat tidak boleh lengah terhadap rabies.

Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan A Sidabalok, mengatakan WRD Run 2026 tidak sekadar menjadi ajang olahraga. Kegiatan tersebut dirancang sebagai sarana edukasi sekaligus kampanye untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap rabies, terutama karena anjing dan kucing termasuk hewan penular rabies (HPR).

“Meski Jakarta berstatus bebas rabies sejak 2004, kewaspadaan masyarakat harus tetap dijaga. Rabies merupakan penyakit berbahaya yang belum ada obatnya, dengan tingkat kematian sangat tinggi,” ujar Hasudungan, Sabtu (3/10).

Status bebas rabies yang disandang Jakarta sejak 2004 memang menjadi capaian penting. Namun, status tersebut bukan berarti ancaman dapat diabaikan. Justru, mempertahankan kondisi bebas rabies membutuhkan kesadaran dan tindakan pencegahan yang konsisten dari pemerintah maupun masyarakat.

Berlari sambil menjaga anabul

WRD Run 2026 sengaja dibuat berbeda dari lomba lari pada umumnya. Pemilik hewan peliharaan mendapat kesempatan membawa anabul mereka mengikuti kategori khusus.

Dari 1.500 peserta, sebanyak 1.233 orang mengikuti lari 5 kilometer, 155 peserta mengikuti kategori 10 kilometer, sementara sisanya, 112 peserta mengikuti kategori 2,5 kilometer bersama hewan peliharaan mereka.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi kesempatan baik bagi pemilik untuk memperhatikan kesehatan hewan kesayangannya. Peserta yang membawa anabul akan mendapatkan vaksinasi secara gratis.

“Selain berolahraga, peserta yang membawa serta anabulnya akan mendapatkan fasilitas vaksinasi secara gratis,” kata Hasudungan.

Dinas KPKP turut menyiagakan 2 (dua) unit klinik hewan keliling. Fasilitas tersebut sengaja dihadirkan untuk memberikan pemeriksaan kesehatan hewan secara gratis di lokasi kegiatan.

“Upaya itu untuk mendekatkan pelayanan kesehatan hewan kepada masyarakat, sekaligus mendorong pemilik lebih peduli terhadap kesehatan hewan kesayangannya,” ungkapnya.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pencegahan rabies tidak berhenti ketika seseorang sudah terkena gigitan. Perlindungan juga dimulai dari pemilik hewan yang bertanggung jawab, termasuk memastikan hewan mendapatkan vaksinasi dan perawatan kesehatan secara rutin.

Bebas rabies bukan berarti boleh lengah

Bagi Jakarta, mempertahankan status bebas rabies merupakan pekerjaan bersama. Masyarakat perlu memahami bahwa hewan peliharaan yang sehat sekalipun tetap membutuhkan vaksinasi dan pengawasan.

Kesadaran itu menjadi semakin penting karena interaksi antara manusia dan hewan semakin dekat. Anjing dan kucing tidak lagi sekadar dipandang sebagai penjaga rumah atau hewan peliharaan, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan keluarga.

Yolanda (30), warga Kramat Jati, Jakarta Timur, menjadi salah satu peserta yang merasakan pengalaman tersebut. Ia mengikuti WRD Run 2026 bersama anjing kesayangannya. Informasi mengenai kegiatan itu diperolehnya melalui Instagram.

Menurut Yolanda, kesempatan berlari sekaligus bertemu dengan komunitas pencinta anjing menjadi daya tarik tersendiri.

“Seru, karena bisa lari bersama anjing yang sekaligus bertemu banyak anjing lainnya. Ini pertama kalinya, saya ikut kegiatan seperti ini,” ucapnya.

Kemeriahan acara juga diisi penampilan musik sejumlah artis dan bazar yang melibatkan 20 pelaku UKM Jakpreneur binaan Dinas KPKP.

Bagi pemerintah, suasana santai seperti itu menjadi kesempatan untuk menyampaikan pesan kesehatan dengan cara yang lebih dekat dengan masyarakat.

Hasudungan berharap WRD Run dapat terus dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya, termasuk dari sisi jumlah peserta, hadiah dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

“Ke depan, jumlah peserta, ragam hadiah, termasuk kolaborasi dengan sejumlah pemangku kepentingan akan bisa ditingkatkan, demi terwujudnya Jakarta tetap aman dan bebas rabies,” katanya.

Yolanda pun berharap kegiatan yang melibatkan komunitas pencinta hewan tersebut, tidak hanya digelar sekali dalam setahun.

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, rabies mungkin terasa seperti ancaman yang jauh. Apalagi, ibu kota telah menyandang status bebas rabies selama bertahun-tahun.

Namun, justru keberhasilan itu yang perlu dijaga. Vaksinasi hewan, kepedulian pemilik, kewaspadaan terhadap gigitan dan penanganan yang tepat ketika terjadi paparan merupakan bagian dari upaya mempertahankan Jakarta tetap aman.

WRD Run 2026 akhirnya bukan hanya tentang siapa yang paling cepat mencapai garis finis. Di antara ribuan langkah kaki dan anabul yang berlari bersama pemiliknya, terselip pengingat sederhana: rabies dapat mematikan, tetapi pencegahannya dapat dimulai dari kepedulian yang sederhana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *