KabarJakarta.com – Suasana Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan, kini tak seramai dulu. Deretan kios yang biasanya menjadi tempat warga berbelanja kebutuhan sehari-hari mulai kehilangan aktivitas. Sebagian pedagang masih membuka lapaknya, tetapi jumlah pembeli yang datang tidak lagi seperti beberapa tahun lalu.
Bagi pedagang yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari pasar, perubahan itu terasa cukup berat.
Helmy Samsuddin, salah seorang pedagang perabot rumah tangga dan kompor, menjadi saksi perubahan tersebut. Ia mengaku telah berdagang di kawasan Pasar Pondok Labu sejak tahun 1979.
Selama puluhan tahun, ia mengalami berbagai perubahan kondisi pasar, termasuk masa ketika aktivitas perdagangan masih sangat ramai.
Helmy mengenang sekitar 2005 sebagai salah satu periode ketika dagangannya mampu menghasilkan omzet lebih dari Rp10 juta per hari. Saat itu, ia memiliki banyak pelanggan tetap, termasuk tukang kredit yang mengambil barang dagangannya untuk dijual kembali.
“Dulu, pada tahun 2005-an, masih bisa di atas Rp10 juta ke atas. Itu karena ada langganan tukang kredit sama saya,” kata Helmy di Pasar Pondok Labu dikutip ANTARA, Jakarta, Jumat (4/9).
Kini, kondisi tersebut tinggal kenangan. Rata-rata omzet yang diperoleh Helmy hanya berkisar antara Rp1 juta hingga Rp2 juta per hari.
Penurunan itu semakin terasa dalam 3 (tiga) tahun terakhir. Menurut Helmy, pasar kini menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan masa lalu. Salah satu perubahan paling besar adalah kebiasaan masyarakat dalam berbelanja.
Kemudahan transaksi melalui internet membuat sebagian konsumen tidak lagi harus datang langsung ke pasar. Berbagai kebutuhan rumah tangga bisa dipesan melalui telepon seluler dan dikirim langsung ke rumah.
“Sekarang zamannya memang parah sekali. Dari 3 tahun ke bawah inilah yang kondisinya agak parah. Kalau dulu, masih lumayan, masih ada. Sekarang ini, kita terbentur sama adanya online,” ujar Helmy.
Sepinya pasar juga tampak dari keberadaan sejumlah kios yang tidak lagi beraktivitas. Berdasarkan survei pribadi Helmy, di area lantai dasar atau basement, terdapat sedikitnya 26 kios yang sudah tutup. Sementara itu, sekitar 12 hingga 15 kios lainnya tidak lagi digunakan untuk berjualan dan beralih fungsi menjadi gudang.
Kondisi serupa terlihat di lantai satu. Helmy memperkirakan hanya sekitar 20 persen kios yang masih buka. Pedagang sayur dan ikan yang dahulu menjadi bagian dari aktivitas pasar juga disebut sudah tidak terlihat.
“Lantai satu kayaknya, sih. Yang buka paling 20 persen. Tukang sayur, tukang ikan, sudah enggak ada yang jualan. Intinya, mati,” ucapnya.
Keluhan mengenai sepinya pasar juga disampaikan Firdaus, pedagang makanan dan minuman. Ia mengungkapkan omzet hariannya kini terkadang hanya berada di kisaran Rp500.000 hingga Rp600.000.
Padahal, sebelum pandemi COVID-19, pendapatan yang diraih para pedagang masih bisa mencapai sekitar Rp45 juta hingga Rp60 juta per bulan.
“Kalau sekarang, udah enggak ada. Mau hari libur, kek, mau apa, sama saja sekarang. udah nggak ada orang,” ungkap Firdaus.
Bagi para pedagang, persoalan Pasar Pondok Labu bukan sekadar soal turunnya omzet. Sepinya pasar juga menyangkut keberlangsungan usaha dan kehidupan para pedagang yang selama bertahun-tahun mencari nafkah di sana.
Mereka berharap pemerintah dan pihak terkait tidak membiarkan kondisi tersebut berlarut-larut. Berbagai upaya diperlukan untuk menarik kembali masyarakat agar mau berbelanja di pasar tradisional.
Pasar, bagi mereka, bukan sekadar tempat transaksi. Di balik kios-kios yang mulai sepi, ada pedagang yang telah menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk mempertahankan usaha. Mereka kini berharap Pasar Pondok Labu kembali memiliki denyut kehidupan seperti dulu.
