Singkong hingga Porang jadi Andalan Pangan Pendamping Beras di Jakarta

Pencanangan Gerakan Tanam Serentak Tanaman Pangan Pendamping Beras se-DKI dilakukan di Kebun Bibit, SMKN 63 Jakarta, Kelurahan Cipedak, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Senin (31/8/2026). Foto: kabarjakarta

KabarJakarta.com – Di tengah padatnya permukiman dan terbatasnya lahan pertanian, Jakarta terus mencari cara untuk memperkuat ketahanan pangan dari lingkungan terdekat. Salah satunya melalui gerakan menanam tanaman pangan pendamping beras yang dilakukan serentak di berbagai wilayah Ibu Kota.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan A Sidabalok menjelaskan sejumlah komoditas seperti singkong hingga porang dapat menjadi pilihan pangan pendamping beras bagi masyarakat.

“Komoditas yang ditanam dalam gerakan ini di antaranya, ubi, sukun, singkong, pisang, porang, jagung. Serta berbagai bibit tanaman buah dan tanaman lainnya,” kata Hasudungan di Jakarta, Jumat (4/8).

Gerakan Tanam Serentak Tanaman Pangan Pendamping Beras se-DKI Jakarta tersebut digelar untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penanaman, tetapi juga mendorong masyarakat memanfaatkan lahan yang tersedia agar lebih produktif.

Lebih dari 1.000 peserta ikut ambil bagian dalam gerakan tersebut. Mereka tersebar di 559 lokasi tanam di seluruh wilayah DKI Jakarta.

Sekolah jadi laboratorium pertanian kota

Di Jakarta Selatan, kegiatan pencanangan dipusatkan di Kebun Bibit SMKN 63 Jakarta, Kelurahan Cipedak, Kecamatan Jagakarsa. Pemilihan lokasi bukan tanpa alasan.

SMKN 63 Jakarta merupakan sekolah kejuruan pertanian yang menjadi percontohan Living Laboratory Urban Farming School. Konsep ini menjadikan lingkungan sekolah sebagai ruang praktik pertanian yang nyata bagi para siswa.

Menurut Hasudungan, siswa tidak hanya mendapatkan pembelajaran melalui teori di ruang kelas. Mereka juga dapat melihat, mencoba, dan mengembangkan model pertanian yang sesuai dengan kondisi perkotaan.

Hal tersebut menjadi penting karena pertanian di Jakarta memiliki tantangan tersendiri. Ketersediaan lahan yang terbatas membuat kegiatan bercocok tanam perlu dilakukan dengan cara yang lebih kreatif dan menyesuaikan kondisi lingkungan.

“Acara ini diikuti berbagai elemen masyarakat, mulai dari para pimpinan wilayah, warga Jakarta, kader PKK, Aparatur Sipil Negara (ASN), kelompok tani, hingga komunitas urban farming di seluruh wilayah DKI Jakarta,” ujar Hasudungan.

Keterlibatan berbagai kelompok tersebut diharapkan membuat gerakan menanam tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Tanaman yang ditanam diharapkan benar-benar dirawat hingga menghasilkan pangan yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Lahan sempit untuk ketahanan keluarga

Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Jakarta Selatan Azizah Syafrin mengungkapkan gerakan ini juga menjadi kesempatan bagi warga untuk mengenal lebih banyak pilihan sumber pangan.

Menurut dia, keberagaman tanaman pangan dapat membuat masyarakat tidak hanya bergantung pada satu jenis bahan pangan. Pada saat yang sama, lahan di sekitar rumah maupun fasilitas umum bisa dimanfaatkan untuk kegiatan produktif.

Azizah mengingatkan agar kegiatan menanam tidak berhenti setelah pencanangan selesai. Perawatan menjadi bagian penting agar tanaman dapat tumbuh dan memberikan hasil.

“Kami mengajak seluruh kader TP PKK dan masyarakat agar tidak berhenti pada kegiatan tanam-menanam, hari ini saja,” ungkap Azizah.

Ia berharap kader PKK dapat ikut mengawal tanaman yang sudah ditanam di lingkungan masyarakat. Kedekatan kader dengan warga dinilai dapat membantu memastikan gerakan tersebut terus berjalan.

Dengan demikian, singkong, ubi, sukun, pisang, porang, dan jagung tidak sekadar ditanam sebagai bagian dari gerakan bersama. Komoditas tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya Jakarta membangun ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan lahan yang ada, termasuk di tengah keterbatasan ruang perkotaan.

Exit mobile version