Dari Horison ke Nobel: Upaya HISKI Membawa Taufiq Ismail ke Panggung Sastra Dunia

Kementerian Kebudayaan RI melalui Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan menggelar kegiatan “Sosialisasi dan Konsolidasi Pengusulan Taufiq Ismail sebagai Kandidat Penerima Nobel Sastra 2027” melalui daring pada Senin (28/9/2026). Foto: istimewa untuk kabarjakarta

KabarJakarta.com — Ada nama-nama yang tumbuh bukan hanya dari buku dan panggung sastra, tetapi juga dari pergulatan panjang sebuah bangsa. Taufiq Ismail adalah salah satunya. Selama puluhan tahun, puisi-puisinya merekam kegelisahan sosial, suara masyarakat, hingga persoalan kebangsaan.

Kini, jejak panjang itu hendak dibawa ke panggung yang lebih luas. Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) menginisiasi pengusulan Taufiq Ismail sebagai kandidat penerima Nobel Sastra 2027.

Upaya tersebut mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan RI. Pada 26 September 2026, Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan menggelar Sosialisasi dan Konsolidasi Pengusulan Taufiq Ismail sebagai Kandidat Penerima Nobel Sastra 2027 secara daring.

Forum itu tidak sekadar menjadi ruang untuk menyatakan dukungan. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi bagian dari konsolidasi untuk memperkenalkan karya dan rekam jejak Taufiq Ismail kepada publik sastra internasional.

Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Annisa Rengganis, yang juga Ketua Tim Kerja Pengusulan Nobel Sastra 2027, mengungkapkan tim telah dibentuk sejak Juni 2026.

“Sudah sejak Juni 2026, kami bentuk tim kerja yang tergabung dari berbagai pihak (HISKI, Komunitas Sastra, Minang Diaspora, Kemenbud, Kemenlu) untuk sama-sama menyiapkan pengusulan sastrawan Taufiq Ismail sebagai nominator Nobel Sastra 2027,” ujar Annisa.

Salah satu pekerjaan yang dilakukan adalah membangun taufiqismail.id, sebuah situs yang memuat biografi, daftar karya dalam berbagai bahasa, e-book kajian akademik, serta rekam jejak digital sang penyair.

Langkah ini menunjukkan bahwa pengusulan Nobel tidak berhenti pada popularitas seorang sastrawan. Karya, pengaruh, kajian akademik, serta dokumentasi perjalanan kepengarangan perlu disusun agar dapat diperkenalkan kepada masyarakat internasional.

Dari puisi hingga gerakan sastra

Dalam forum diskusi bertajuk Dari Indonesia untuk Dunia: Menguatkan Dukungan bagi Taufiq Ismail Menuju Nobel Sastra, sastrawan dan kritikus sastra Maman S. Mahayana memaparkan panjangnya perjalanan kepenyairan Taufiq Ismail.

Menurut Maman, Taufiq merupakan penyair dengan perjalanan kepenyairan yang panjang di Asia Tenggara. Ia tidak hanya menghasilkan puisi, tetapi juga konsisten membawa persoalan kemanusiaan melalui karya dan berbagai gerakan sastra.

Keterlibatannya dalam majalah sastra Horison serta program Sastrawan Bicara Siswa Bertanya menjadi bagian dari jejak tersebut.

“Puisi-puisinya kritis dan satiris dalam menyoroti berbagai aspek kehidupan berbangsa. Mewakili suara masyarakat, populer dan hidup di berbagai kalangan masyarakat,” tutur Maman.

Jejak itu pula yang menjadi salah satu dasar HISKI mengusung namanya. Ketua Umum HISKI, Prof. Novi Anoegrajekti, menyebut karya-karya Taufiq Ismail telah melampaui ruang pembacaan puisi.

Puisi-puisinya telah menjadi sumber inspirasi untuk musikalisasi, pembacaan puisi dan penelitian sastra. Karyanya juga telah diterjemahkan ke lebih dari 10 bahasa, termasuk Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, Mandarin dan Arab.

Di tingkat akademik, HISKI tengah menyiapkan buku antologi kajian mengenai karya dan kiprah Taufiq Ismail. Buku tersebut direncanakan melibatkan 50 profesor, 25 doktor dan lima magister.

Membangun dukungan lintas negara

Bagi Kementerian Kebudayaan, diplomasi menjadi bagian penting dari proses tersebut. Dirjen Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retno Astuti mengungkapkan pihaknya membangun jejaring internasional melalui komunikasi dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud), komunitas sastra global dan akademisi di luar negeri.

“Kami dari Kementerian Kebudayaan memandang Taufiq Ismail sebagai nominator Nobel Sastra sudah sangat layak,” kata Endah.

Dukungan juga muncul dari sejumlah perwakilan Atdikbud. Perwakilan Atdikbud Kairo, Abdul Mutaali, misalnya, menyampaikan bahwa puisi-puisi Taufiq Ismail menjadi salah satu materi yang dipelajari dalam program studi Bahasa dan Sastra Indonesia di Mesir.

Bagi seorang sastrawan, Nobel Sastra bukan semata-mata persoalan penghargaan pribadi. Pengakuan tersebut dapat menjadi pintu untuk memperluas perhatian dunia terhadap karya, bahasa, dan tradisi sastra dari negara asal seorang pengarang.

Karena itu, upaya HISKI dan Kementerian Kebudayaan saat ini bukan hanya tentang membawa satu nama menuju Nobel. Di baliknya terdapat agenda yang lebih luas: memperkenalkan sastra Indonesia, memperkuat penerjemahan karya, memperluas kajian akademik, sekaligus membangun jaringan sastra Indonesia di tingkat internasional.

Apakah proses tersebut akan berujung pada Nobel Sastra 2027, tentu merupakan keputusan lembaga penghargaan yang memiliki mekanisme dan proses penilaian tersendiri. Namun, konsolidasi yang dilakukan HISKI menunjukkan satu hal: perjalanan Taufiq Ismail sebagai penyair sedang berusaha didokumentasikan dan diperkenalkan kembali kepada dunia.

Dari puisi yang lahir dari kegelisahan bangsa, kini sebuah ikhtiar tengah dibangun agar suara tersebut dapat menyeberangi batas bahasa dan negara.

Exit mobile version