KabarJakarta.com — Jakarta sering dikenali lewat gedung pencakar langit, kemacetan, pusat bisnis, dan hiruk-pikuk warganya. Namun, di balik wajah modern itu, kota ini menyimpan lapisan sejarah yang jauh lebih panjang dan rumit.
Pada 2027, Jakarta akan memasuki usia 500 tahun. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menjadikan momentum tersebut sebagai bagian dari perjalanan menuju Jakarta sebagai kota global. Namun, lima abad seharusnya tidak berhenti sebagai pesta ulang tahun. Ia bisa menjadi kesempatan untuk bertanya kembali: kota seperti apa yang diwariskan kepada generasi berikutnya?
Sebelum menjawab pertanyaan itu, ada baiknya mengenali Jakarta melalui sejumlah fakta yang mungkin jarang diketahui.
1. Bermula dari pelabuhan
Sejarah Jakarta berawal dari kawasan pelabuhan di muara Sungai Ciliwung. Pelabuhan yang dikenal sebagai Sunda Kelapa itu berkembang menjadi titik perdagangan yang mempertemukan pedagang dari berbagai wilayah.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebut kawasan tersebut telah menjadi pelabuhan penting Kerajaan Sunda dan kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan internasional.
Jadi, karakter Jakarta sebagai kota perdagangan sebenarnya bukan cerita baru. Akar ekonominya telah tumbuh jauh sebelum munculnya gedung perkantoran dan kawasan bisnis modern.
2. Berganti nama beberapa kali
Sunda Kelapa kemudian dikenal sebagai Jayakarta setelah peristiwa 22 Juni 1527. Ketika VOC menguasai kawasan tersebut, namanya berubah menjadi Batavia. Pada masa pendudukan Jepang, nama Jakarta kembali digunakan.
Pemerintah Kota Jakarta Pusat mencatat rangkaian nama itu sebagai Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, lalu Jakarta.
Perubahan nama tersebut bukan sekadar pergantian tulisan di peta. Setiap nama mewakili perubahan kekuasaan, masyarakat, dan arah perkembangan kota.
3. Pernah dibangun dengan kanal
Ada alasan mengapa Jakarta memiliki begitu banyak cerita tentang air.
Ketika Batavia dikembangkan VOC, pemerintah kolonial membangun kanal karena kondisi geografisnya dianggap mirip dengan Belanda. Kanal tersebut antara lain digunakan sebagai bagian dari sistem kota dan pengendalian air.
“Jakarta dan air merupakan ‘saudara kembar’,” kata sejarawan JJ Rizal sebagaimana dikutip ANTARA dalam tulisan mengenai sejarah air Jakarta. Wilayah Jakarta dan sekitarnya juga dilintasi 13 sungai, termasuk Ciliwung.
Rizal menyebut Jakarta dan air sebagai “saudara kembar” dan menjelaskan bahwa wilayah Jakarta dilintasi 13 sungai. Ini memperlihatkan, persoalan air yang sampai sekarang menjadi tantangan Jakarta bukanlah persoalan baru.
Air justru merupakan bagian dari DNA kota ini.
Selain itu, ada kajian menarik yang digagas Heru Mulyanto dalam Jurnal Paradigma, Universitas Indonesia — “Perkembangan Kanal Oud Batavia Abad XVII–XX: Tinjauan Sejarah Perkotaan”. Ia menunjukkan bahwa persoalan banjir, kanal, sedimentasi, dan pencemaran air bukan persoalan baru.
Masalah lingkungan perkotaan sudah muncul sejak masa Batavia dan ikut memengaruhi perpindahan serta perkembangan kawasan permukiman.
4. Pusat Batavia pernah dipindahkan
Batavia tidak selamanya berpusat di kawasan yang kini dikenal sebagai Kota Tua. Pemerintah kolonial kemudian memindahkan pusat pemerintahan ke kawasan daratan yang lebih tinggi bernama Weltevreden.
Fakta ini menunjukkan bahwa persoalan lingkungan, khususnya air dan ketinggian wilayah, sejak dahulu ikut menentukan perkembangan ruang kota.
5. Pemerintahan kota yang sangat awal
Pada 1905, Gemeente Batavia dibentuk sebagai pemerintahan kota. Dokumen lingkungan hidup Pemprov DKI menyebut Gemeente Batavia sebagai pemerintahan daerah pertama yang dibentuk di Hindia Belanda dan memiliki kewenangan mengatur keuangan sendiri.
Dengan kata lain, sejarah pemerintahan perkotaan Jakarta ternyata sudah berlangsung lebih dari satu abad.
6. Betawi bukan budaya yang lahir dari satu kelompok
Ini mungkin salah satu fakta paling menarik. Budaya Betawi bukan hasil dari satu garis keturunan atau satu kebudayaan saja.
ANTARA mencatat masyarakat Betawi terbentuk melalui percampuran berbagai etnis dan budaya, antara lain Melayu, Sunda, Jawa, Arab, Tionghoa, dan Eropa.
Karena itu, wajah Betawi di Jakarta pun beragam. Ada Betawi Tengah, Betawi Pinggir, dan karakter budaya yang berkembang sesuai lingkungan geografis serta sejarah permukimannya.
Jakarta sejak awal memang tumbuh dari perjumpaan.
7. Bahasa Betawi menyimpan jejak perdagangan dunia
Pertemuan berbagai kelompok di pelabuhan Sunda Kelapa ikut membentuk bahasa masyarakat setempat. Data Warisan Budaya Kemendikbud menyebut masyarakat di kawasan tersebut menggunakan bahasa Melayu sebagai lingua franca dalam komunikasi perdagangan.
Bahasa Betawi kemudian berkembang dengan pengaruh bahasa Arab, Cina, Jawa, dan Sunda. Jadi, percakapan sehari-hari di Jakarta sesungguhnya menyimpan jejak panjang interaksi antarbudaya.
8. Ondel-ondel punya sejarah sangat tua
Hari ini, ondel-ondel kerap dianggap sekadar ikon budaya atau dekorasi acara. Padahal sejarahnya jauh lebih tua.
ANTARA mencatat bahwa dokumentasi mengenai boneka raksasa sejenis ondel-ondel sudah muncul dalam catatan sebelum 1600. Tradisi tersebut kemudian berkembang dan dalam masyarakat Betawi memiliki fungsi spiritual, antara lain sebagai simbol penolak bala.
Ini menunjukkan, ikon yang kini sering tampil di panggung wisata itu sebenarnya menyimpan perjalanan budaya yang panjang.
9. Museum Fatahillah dulunya balai kota
Gedung Museum Sejarah Jakarta di Kota Tua bukan sejak awal dibangun sebagai museum. Bangunan tersebut merupakan Stadhuis atau balai kota Batavia.
ANTARA mencatat pembangunan gedung dimulai pada masa Jan Pieterszoon Coen dan kemudian diresmikan pada 1710 sebagai balai kota. Gedung itu digunakan untuk berbagai urusan pemerintahan, termasuk hukum dan pajak.
Di balik wisata Kota Tua, sebenarnya tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana sebuah kota diatur.
10. Ruang bertemunya berbagai bangsa
Sejak masa pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta telah menjadi tempat perjumpaan masyarakat dari berbagai wilayah. Pedagang dari Cina, India, Arab, Nusantara, hingga Eropa datang melalui jalur perdagangan.
Sejarawan dan arsiparis Mona Lohanda pernah menyebut Batavia sejak awal dihuni berbagai kelompok etnis. Maka, keberagaman Jakarta bukan fenomena baru akibat urbanisasi modern.
Ia sudah menjadi bagian dari perjalanan kota selama berabad-abad.
Lima abad bukan sekadar angka
Pada 22 Juni 2026, Jakarta memasuki usia 499 tahun. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengingatkan momentum menuju lima abad bukan hanya tentang mengenang sejarah, tetapi juga memastikan masa depan Jakarta tetap berpihak kepada warganya.
Sejarawan Universitas Indonesia, Bondan Kanumoyoso, menjelaskan bahwa tanggal 22 Juni 1527 sebagai hari lahir Jakarta merupakan hasil interpretasi sejarah. Sejatinya, tidak ditemukan dokumen yang secara pasti mencatat tanggal tersebut sebagai hari berdirinya Jakarta.
Sementara itu, Pemprov DKI mencatat HUT ke-499 pada 22 Juni 2026 dan menyatakan momentum tersebut sebagai satu tahun menuju lima abad Jakarta. Pramono Anung menegaskan peringatan itu bukan hanya tentang sejarah, tetapi juga persiapan masa depan Jakarta sebagai kota global.
Ini membuktikan bahwa Jakarta memiliki paradoks besar. Kota ini dibangun dari perdagangan, air, migrasi, keberagaman, dan kemampuan beradaptasi. Namun, kota yang terus berkembang juga menghadapi persoalan lingkungan, tekanan ruang, ketimpangan, dan ancaman hilangnya jejak sejarah.
Karena itu, perayaan 500 tahun seharusnya tidak hanya diukur dari banyaknya panggung, festival, atau ornamen baru.
Lima abad Jakarta mestinya menjadi kesempatan untuk melihat kembali apa yang membuat kota ini bertahan: kemampuannya menerima perubahan tanpa kehilangan ingatan.
Sunda Kelapa mengajarkan tentang pentingnya konektivitas. Sejarah kanal mengingatkan bahwa pembangunan harus berdamai dengan air.
Keragaman Betawi menunjukkan bahwa identitas kota dapat lahir dari perjumpaan. Sementara jejak Kota Tua mengingatkan bahwa sebuah kota bukan sekadar bangunan, melainkan kumpulan cerita manusia.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting menjelang Jakarta 500 tahun bukanlah seberapa megah kota ini akan terlihat pada 2027. Ada hal yang jauh lebih sederhana, yakni; setelah lima abad, Jakarta masihkah menjadi kota yang mampu mengingat dari mana ia berasal dan untuk siapa ia dibangun.
