Dari Sekolah ke Panggung, Jaktim Siapkan Generasi Baru Pelaku Seni

KabarJakarta.comRuang seni di Jakarta Timur kembali dipenuhi suara, gerak, warna, dan kreativitas pelajar. Sebanyak 3.138 siswa dari jenjang TK hingga SLTA ambil bagian dalam Apresiasi dan Kompetisi Seni bagi Pelajar Tahun 2026 Tingkat Kota Jakarta Timur.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Pusat Pelatihan Seni Budaya (PPSB) Kecamatan Duren Sawit itu digelar Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Timur pada 21-30 September 2026.

Bagi para pelajar, kompetisi ini bukan sekadar mengejar piala. Di balik panggung perlombaan, ada proses panjang berupa latihan, keberanian tampil, kerja sama, sekaligus kesempatan mengenal seni dan budaya lebih dekat.

Wali Kota Jakarta Timur Munjirin menjelaskan kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan secara berjenjang. Menurut dia, kompetisi menjadi salah satu ruang bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan seni sekaligus memperkuat ekosistem seni dan budaya di Jakarta Timur.

“Saya sangat mengapresiasi antusiasme kehadiran para peserta dan pihak sekolah. Kompetisi ini sangat dinantikan para pelajar, sebagai ruang untuk menampilkan hasil latihan selama ini,” ujar Munjirin, Senin (21/9).

Bukan sekadar kompetisi

Kompetisi seni tersebut dirancang dengan kategori yang berbeda sesuai jenjang pendidikan. Pelajar TK mengikuti lomba menggambar. Sementara siswa SD dan SMP berkompetisi dalam seni tari dan paduan suara.

Untuk jenjang SMA, kategori yang diperlombakan adalah vokal grup dan musikalisasi puisi.

Keragaman kategori itu memperlihatkan bahwa seni tidak hanya berbicara mengenai kemampuan tampil di atas panggung. Ada kemampuan menggambar, mengolah suara, bergerak, membangun harmoni dalam kelompok, hingga menyampaikan pesan melalui puisi.

Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Timur Berkah Syahdaya menjelaskan para peserta yang berhasil meraih juara pertama hingga ketiga pada setiap kategori akan mendapat kesempatan mewakili Jakarta Timur di tingkat Provinsi DKI Jakarta.

“Selain jadi ajang unjuk kemampuan diri, kompetisi juga memberikan manfaat bagi peserta yang berhasil meraih prestasi,” katanya.

Manfaat tersebut tidak berhenti pada penghargaan. Para pemenang akan memperoleh sertifikat yang dapat digunakan untuk mendukung proses masuk ke jenjang pendidikan berikutnya melalui jalur prestasi.

Dengan demikian, panggung seni menjadi bagian dari perjalanan pendidikan para pelajar. Prestasi yang mereka raih tidak hanya menjadi kenangan dari sebuah perlombaan, tetapi juga dapat menjadi modal untuk melanjutkan pendidikan.

Membangun ekosistem dari sekolah

Pengembangan seni dan budaya membutuhkan proses panjang. Salah satu fondasinya adalah memastikan anak-anak dan remaja memiliki ruang untuk berlatih, tampil, mendapatkan apresiasi, sekaligus berkompetisi secara sehat.

Kompetisi yang melibatkan ribuan pelajar itu menjadi salah satu ruang tersebut.

Para peserta tidak hanya datang membawa kemampuan masing-masing. Di belakang mereka terdapat guru, sekolah, orang tua, pelatih, serta lingkungan yang ikut mendukung proses latihan.

Karena itu, kegiatan seperti ini dapat menjadi bagian dari proses regenerasi pelaku seni di Jakarta Timur. Untuk menjaga kualitas perlombaan, penilaian dilakukan oleh dewan juri dari kalangan akademisi, praktisi, dan profesional sesuai bidang yang dilombakan.

Berkah berharap kompetisi tersebut dapat mendorong semakin banyak pelajar mengembangkan potensi dan kreativitas di bidang seni.

“Melalui kompetisi ini, diharapkan potensi dan kreativitas pelajar di bidang seni semakin berkembang, sekaligus memperkuat regenerasi pelaku seni dan budaya di Jaktim,” ujarnya.

Selain sertifikat, pemenang juga memperoleh uang pembinaan. Untuk kategori menggambar, juara pertama mendapat Rp3,5 juta, juara kedua Rp3 juta, dan juara ketiga Rp2,5 juta. Sementara untuk kategori kelompok, hadiah juara pertama mencapai Rp12,5 juta.

Namun, nilai terbesar dari kompetisi ini bukan semata hadiah. Yang sedang dibangun adalah kebiasaan mencintai seni sejak sekolah—dari ruang kelas, tempat latihan, hingga panggung yang mempertemukan karya dengan publik.

Dari ribuan pelajar yang tampil tahun ini, sebagian mungkin kelak menjadi penari, musisi, seniman, atau pekerja kreatif. Proses itu bisa dimulai dari satu hal sederhana: diberi ruang untuk mencoba dan berani tampil.

Exit mobile version