KabarJakarta.com — Sebuah jembatan kecil bisa berarti besar bagi warga Jalan Warung Pojok, RT 02/RW 02, Kelurahan Tegal Alur, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat.
Bagi warga setempat, jembatan itu bukan sekadar penghubung dua sisi permukiman. Jalur tersebut menjadi akses paling dekat menuju pasar dan makam. Ketika jembatan itu tidak bisa digunakan, warga harus berjalan lebih jauh dengan memutar.
Masalahnya, jembatan yang dijanjikan pemerintah belum juga selesai.
Sudah tiga pekan sejak pembangunan dimulai pada awal September 2026, struktur jembatan yang terlihat di lokasi masih berupa bronjong berisi batu yang menjadi bagian dari fondasi. Aktivitas pengerjaan juga disebut warga hanya berlangsung sekitar satu pekan, kemudian berhenti.
Kondisi itu membuat warga mulai menyiapkan jalan keluar sendiri.
“Warga sudah sepakat. Jika pengerjaan tidak dilanjutkan hingga akhir bulan ini, kita bikin jembatan mandiri lagi seperti dulu,” kata warga setempat, Irwansyah, di lokasi, Senin (21/9).
Janji 2 pekan, sudah tiga minggu
Sebelumnya, Pemerintah Kota Jakarta Barat menyiapkan pembangunan jembatan sementara berbahan baja wide flange (WF) yang diperuntukkan bagi pejalan kaki.
Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah pada 1 September menjelaskan pembangunan jembatan sementara itu diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua pekan.
Jembatan tersebut disiapkan sebagai akses penghubung warga selama pekerjaan proyek berlangsung. Jembatan lama yang sebelumnya digunakan warga harus dibongkar karena berkaitan dengan pekerjaan proyek.
Namun, memasuki pekan ketiga, jembatan yang ditunggu warga belum juga dapat digunakan.
“Kalau ibaratnya, kemarin mereka bilang 2 minggu jadi. Sedangkan ini sudah 3 minggu tak jadi-jadi. Setelah ramai, ada pengerjaan, tapi setelah dibiarin begitu saja,” papar Irwansyah.
Bagi warga, persoalannya bukan semata soal pembangunan yang terlambat. Mereka kehilangan akses yang selama ini menjadi jalur tercepat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sebelum dibongkar, warga sebenarnya memiliki jembatan bambu yang dibuat secara swadaya. Jembatan sederhana itu menjadi jalan pintas menuju pasar dan makam.
Kini, warga harus memutar. Waktu tempuh berjalan kaki menuju pasar bisa bertambah sekitar 10 hingga 15 menit.
Bagi warga yang memiliki kendaraan, tambahan waktu tersebut mungkin bukan persoalan besar. Tetapi bagi mereka yang berjalan kaki, terutama warga lanjut usia atau yang memiliki keterbatasan fisik, jarak tambahan itu terasa cukup berat.
Jembatan Bambu yang Dibongkar Terlalu Cepat
Anna Haryanti (49), salah seorang warga, merasakan langsung perubahan tersebut. Ia tidak memiliki sepeda motor dan harus berjalan kaki ketika hendak berbelanja ke pasar.
“Jadi warga sini pada susah semua. Kita mana-mana susah, jadinya muter kalo ke pasar. Saya begini tidak ada motor, jalan juga sakit kakinya. Ke pasar jadinya jauh,” kata Anna.
Karena itu, warga mempertanyakan keputusan membongkar jembatan bambu sebelum jembatan pengganti selesai.
Irwansyah menyebut, warga sebenarnya memahami bahwa jembatan bambu tersebut bersifat sementara dan tidak tahan lama. Apalagi ketika hujan deras atau banjir datang, konstruksi bambu berisiko rusak bahkan roboh.
Namun, menurut dia, jembatan tersebut setidaknya masih dapat digunakan sambil menunggu jembatan pengganti selesai.
“Harusnya jika jembatannya belum jadi, jembatan bambu jangan dirobohin dulu. Itu supaya akses warga tidak makin susah,” ujarnya.
Di atas kertas, warga memang masih mempunyai pilihan. Pemerintah menyebut terdapat dua jembatan lain di sisi kanan dan kiri lokasi yang dapat digunakan sebagai akses alternatif.
Tetapi bagi warga Tegal Alur, persoalannya bukan sekadar ada atau tidak ada jembatan.
Jalur yang kini terputus merupakan akses yang paling dekat dan praktis bagi sebagian warga. Mereka memilih jalur tersebut karena bisa memangkas perjalanan menuju pasar dan kawasan lainnya.
Warga mulai bicara swadaya
Ketidakpastian pembangunan akhirnya membuat warga mempertimbangkan kembali cara lama: membangun sendiri.
Jika hingga akhir September tidak ada kelanjutan pembangunan, warga berencana membuat jembatan swadaya seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya.
Pilihan itu menunjukkan satu hal sederhana: kebutuhan akan akses tidak bisa menunggu terlalu lama.
Warga membutuhkan jembatan untuk aktivitas sehari-hari, bukan sekadar sebagai proyek infrastruktur. Ada orang yang harus pergi ke pasar, ada yang menuju makam, dan ada pula warga yang tidak memiliki kendaraan sehingga sangat bergantung pada jalur pejalan kaki.
Namun, jembatan swadaya juga bukan solusi tanpa risiko. Jembatan bambu relatif mudah dibuat, tetapi daya tahannya terbatas dan rentan terhadap banjir.
Karena itu, warga tetap berharap pemerintah menyelesaikan jembatan yang telah dijanjikan.
“Harapan warga, ini akses jembatan cepat jadi. Karena ini akses buat ke pasar dan ke makam lebih dekat,” pungkas Irwansyah.
Di Tegal Alur, persoalan jembatan akhirnya menjadi lebih dari sekadar urusan pembangunan fisik. Ia menyangkut bagaimana sebuah akses kecil menentukan mobilitas warga dalam menjalani rutinitas sehari-hari.
