KabarJakarta.com — Lapangan IKADA menjadi saksi ketika ribuan rakyat berkumpul pada 19 September 1945, tidak lama setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Delapan puluh satu tahun kemudian, semangat dari peristiwa itu kembali dikenang.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno memimpin upacara peringatan Hari Rapat Raksasa IKADA ke-81 di Halaman Balai Kota DKI Jakarta, Senin (21/9) pagi.
Dalam amanatnya, Rano mengingatkan peristiwa IKADA bukan sekadar catatan sejarah. Peristiwa tersebut menunjukkan bagaimana rakyat biasa dapat memainkan peran penting ketika memiliki cita-cita yang sama.
“Rakyat yang pada tahun 1945 datang ke lapangan IKADA adalah rakyat biasa. Tapi ketika rakyat biasa dipersatukan oleh cita-cita yang luar biasa, sejarah pun berubah,” ujar Rano.
Menurut dia, kemerdekaan tidak cukup hanya diproklamasikan. Sebuah negara akan tetap hidup ketika rakyat percaya, berdiri, dan ikut menjaga masa depannya.
Karena itu, Rano melihat peristiwa IKADA sebagai perjumpaan antara rakyat dan Republik yang baru lahir. Perjumpaan tersebut berlangsung di Jakarta, kota yang sejak lama menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah Indonesia.
Jakarta dan jejak perjalanan bangsa
Rano mengungkapkan Jakarta tidak hanya berfungsi sebagai pusat pemerintahan atau ekonomi. Kota ini juga menyimpan jejak perjalanan bangsa di berbagai sudutnya, mulai dari kampung, gang, jalan hingga bangunan bersejarah.
Dari Jakarta, Sumpah Pemuda dikumandangkan dan Proklamasi Kemerdekaan dibacakan. Tidak lama kemudian, rakyat berkumpul di Lapangan IKADA untuk menunjukkan dukungan terhadap Republik Indonesia yang baru berdiri.
“Sejarah Jakarta, bagian yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah Indonesia yang di gedung-gedung tuanya, di gang-gangnya, di kampung-kampungnya, di jalan-jalannya tersimpan jejak perjalanan bangsa,” kata Rano.
Menurut Rano, Jakarta juga terbentuk dari perjumpaan berbagai kelompok masyarakat. Betawi, Jawa, Sunda, Minangkabau, Batak, Bugis, Ambon, Tionghoa, Arab, India, serta masyarakat dari berbagai daerah dan negara bertemu di kota ini.
Mereka membawa bahasa, makanan, keyakinan, musik, tradisi, serta harapan masing-masing. Semua kemudian berbaur dan membentuk karakter Jakarta.
“Jakarta sejak dahulu melting pot Indonesia, tempat perbedaan tidak saling meniadakan, tapi justru saling memperkaya,” ujarnya.
Perjuangan dalam wajah baru
Kini Jakarta memasuki babak berbeda. Statusnya sebagai ibu kota negara telah berubah dan kota ini diarahkan menuju kota global.
Namun, Rano mengingatkan bahwa perubahan tersebut tidak boleh membuat Jakarta kehilangan akar sejarahnya.
Menurut dia, Jakarta sebagai kota global harus memiliki transportasi yang maju, ekonomi yang kuat, lingkungan yang terjaga, infrastruktur modern, kebudayaan yang hidup, serta kualitas manusia yang tinggi.
Menjadi kota global, terang Rano, bukan berarti meninggalkan identitas lokal dan nasional.
“Kita boleh menatap dunia semakin jauh, tapi jangan pernah kehilangan kemampuan untuk menoleh ke belakang. Sebab kota yang kehilangan ingatan, akan kehilangan jiwanya,” katanya.
Bagi Rano, tantangan Jakarta hari ini memang berbeda dengan situasi pada 1945. Jika dahulu rakyat berjuang mempertahankan kemerdekaan, kini perjuangan dilakukan melalui persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kemiskinan dan ketimpangan harus dikurangi. Pendidikan perlu diperluas. Kesempatan kerja harus dibuka. Transportasi harus diperbaiki. Lingkungan perlu dijaga dan kelompok masyarakat yang lemah harus mendapat perlindungan.
Perubahan Jakarta ke depan juga diperkirakan semakin besar. Tanggul Giant Sea Wall, pembangunan gedung baru, pengembangan Kepulauan Seribu sebagai destinasi wisata, hingga perkembangan teknologi akan mengubah wajah kota.
Generasi pun akan berganti. Jakarta mungkin tampil dengan wajah yang berbeda sama sekali.
Namun, Rano berharap ada satu hal yang tidak berubah: keberanian Jakarta untuk tetap berdiri bagi Indonesia.
“Dulu, dari Lapangan IKADA, Jakarta membantu menjaga Republik yang baru lahir. Dan hari ini, Jakarta bekerja menjadi kota yang menghadirkan keadilan dan kehidupan yang lebih baik bagi semua,” ujarnya.
Delapan puluh satu tahun setelah rakyat memenuhi Lapangan IKADA, pesan yang disampaikan Rano kembali diarahkan pada masa depan. Jakarta tidak hanya diminta menjadi kota yang modern, tetapi juga kota yang mampu memberi manfaat bagi warganya dan Indonesia.
“Dari Lapangan IKADA, dari Jakarta hingga New York, AS, pesannya tetap sama. Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton perjalanan dunia, Indonesia harus ikut menulis masa depan dunia,” tandas Rano.
