Tarif Murah Saja Tak Cukup, LRT Jakarta Dituntut jadi Satu Sistem Transportasi

Selama delapan hari pertama operasional, tarif LRT Jakarta rute Kelapa Gading–Manggarai hanya Rp8 per perjalanan. Setelah delapan hari, tarif yang berlaku yaitu Rp5.000 untuk perjalanan Kelapa Gading–Manggarai dan Rp8.000 untuk perjalanan Velodrome–Manggarai. Foto: Pempro DKI

KabarJakarta.comLRT Jakarta rute Kelapa Gading-Manggarai membawa harapan baru bagi warga yang setiap hari bergerak melintasi Jakarta. Jalur sepanjang 12,2 kilometer dengan 11 stasiun itu kini menjadi pilihan perjalanan baru dari Jakarta Utara menuju kawasan Manggarai dan sekitarnya.

Namun, kehadiran jalur baru tersebut tidak hanya soal kereta yang berjalan tepat waktu atau bertambahnya stasiun transportasi publik. Tantangan berikutnya justru bagaimana LRT bisa benar-benar menjadi bagian dari sistem transportasi yang saling terhubung dan mudah digunakan masyarakat.

Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Wa Ode Herlina menilai tarif yang terjangkau harus berjalan beriringan dengan integrasi antarmoda. Menurut dia, masyarakat akan lebih terdorong meninggalkan kendaraan pribadi jika perjalanan menggunakan transportasi umum terasa mudah, murah, dan tidak terputus ketika harus berpindah moda.

“Yang penting sekarang, bukan hanya LRT-nya selesai, tapi bagaimana LRT terhubung dengan Transjakarta, Mikrotrans, KRL, dan moda lainnya,” kata Wa Ode di Jakarta, Senin (21/9).

Bukan sekadar kereta baru

LRT Kelapa Gading-Manggarai resmi beroperasi setelah diresmikan Presiden RI Prabowo Subianto pada Rabu (16/9). Kehadiran jalur ini memperluas pilihan transportasi publik bagi warga yang beraktivitas di sejumlah kawasan Jakarta Utara, Jakarta Timur hingga Jakarta Selatan.

Dalam satu perjalanan, waktu tempuh LRT dari Kelapa Gading menuju Manggarai sekitar 28 menit. Jalur ini memiliki 11 stasiun, yakni Kelapa Gading, Boulevard Utara, Boulevard Selatan, Pulomas, Equestrian, Velodrome, Rawamangun, Pramuka, Matraman, Proklamasi, dan Manggarai.

Satu rangkaian LRT dapat mengangkut sekitar 270 penumpang. Pemerintah juga menargetkan jumlah pengguna LRT Jakarta mencapai sekitar 80 ribu penumpang per hari.

Angka tersebut menunjukkan bahwa keberadaan LRT tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur. Setelah jalur tersedia, pekerjaan berikutnya adalah memastikan masyarakat mau menggunakannya sebagai bagian dari perjalanan sehari-hari.

Di sinilah persoalan integrasi menjadi penting.

Bagi penumpang, perjalanan tidak selalu dimulai dari stasiun LRT. Warga bisa saja berangkat dari rumah menggunakan Mikrotrans, melanjutkan perjalanan dengan LRT, kemudian berpindah ke Transjakarta atau KRL untuk mencapai tujuan akhir.

Jika setiap perpindahan moda membutuhkan pembayaran terpisah dan akses antarmoda tidak nyaman, keuntungan menggunakan transportasi umum bisa berkurang.

Karena itu, Wa Ode mendorong penguatan jaringan Mikrotrans sebagai angkutan penghubung atau feeder menuju stasiun-stasiun LRT.

Menurut dia, LRT seharusnya tidak berdiri sendiri. Moda tersebut perlu ditempatkan sebagai bagian dari jaringan transportasi yang membuat masyarakat dapat berpindah dari satu kendaraan umum ke kendaraan umum lainnya dengan lebih mudah.

Tarif Rp8 lalu Rp5.000

Dari sisi harga, Pemprov DKI Jakarta memberikan tarif khusus pada masa awal pengoperasian LRT Kelapa Gading-Manggarai.

Selama delapan hari pertama, yakni 16-24 September 2026, masyarakat dapat menggunakan LRT dengan tarif Rp8. Kebijakan ini sekaligus menjadi kesempatan bagi warga untuk mencoba layanan baru tersebut.

Setelah masa promosi berakhir, tarif sementara ditetapkan sebesar Rp5.000 untuk sekali perjalanan. Tarif tersebut menggunakan sistem flat sehingga besarnya biaya tidak ditentukan berdasarkan jarak perjalanan.

“Artinya, penumpang yang melakukan perjalanan dari satu ujung rute ke ujung lainnya, tetap membayar tarif yang sama,” kata Wa Ode.

Namun, tarif resmi LRT Jakarta masih akan diputuskan pada Oktober 2026. Besaran tarif tersebut nantinya menjadi salah satu faktor yang menentukan seberapa mudah masyarakat mengakses layanan baru ini dalam jangka panjang.

Wa Ode meminta pembahasan tarif mempertimbangkan kemampuan masyarakat sekaligus kebutuhan subsidi pelayanan publik atau public service obligation (PSO).

Tarif harus tetap terjangkau, tetapi keberlanjutan operasional layanan juga perlu diperhitungkan. Transportasi publik membutuhkan biaya untuk menjaga kualitas layanan, sehingga persoalan tarif tidak dapat dilihat hanya dari sisi murah atau mahal.

Park and ride jadi bagian penting

Selain tarif, fasilitas pendukung juga menjadi perhatian. Wa Ode mendorong pengembangan park and ride di kawasan Manggarai. Fasilitas ini memungkinkan masyarakat yang masih menggunakan kendaraan pribadi dari rumah untuk memarkir kendaraannya, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi publik.

“Konsep itu bisa menjadi jembatan bagi warga yang belum sepenuhnya meninggalkan kendaraan pribadi,” ujarnya.

Misalnya, seseorang dari kawasan yang belum terjangkau langsung oleh transportasi umum dapat menggunakan kendaraan pribadi menuju titik park and ride. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menggunakan LRT atau moda publik lainnya.

Dengan pola seperti itu, transportasi publik tidak harus bersaing dengan kendaraan pribadi secara langsung. Sebaliknya, keduanya dapat ditempatkan dalam satu pola perjalanan yang lebih terencana.

Bagi Jakarta yang menghadapi persoalan kemacetan dan tingginya penggunaan kendaraan pribadi, fasilitas semacam ini menjadi bagian penting dari ekosistem transportasi.

Tantangan setelah peresmian

Pembangunan LRT Kelapa Gading-Manggarai menelan biaya sekitar Rp12,1 triliun. Proyek tersebut dikerjakan PT Jakarta Propertindo (Jakpro) dengan pendanaan yang bersumber dari APBD DKI Jakarta.

Karena investasi yang dikeluarkan cukup besar, manfaatnya diharapkan tidak berhenti pada hadirnya jalur dan stasiun baru. Infrastruktur tersebut perlu menghasilkan perubahan pada pola perjalanan masyarakat.

Wa Ode juga mendorong adanya kajian mengenai keterlibatan Danantara dalam pembiayaan infrastruktur transportasi. Menurut dia, alternatif pembiayaan perlu dikaji agar pembangunan infrastruktur dapat dipercepat tanpa memberikan beban berlebihan kepada APBD.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan LRT bukan hanya seberapa panjang jalurnya atau berapa banyak stasiun yang dibangun. Yang tidak kalah penting adalah apakah masyarakat merasakan perjalanan yang lebih sederhana ketika menggunakan transportasi umum.

LRT, Transjakarta, Mikrotrans, KRL, dan moda lainnya perlu hadir sebagai jaringan yang saling melengkapi. Penumpang tidak semestinya merasa sedang menggunakan sistem yang berbeda setiap kali berganti kendaraan.

“Yang paling penting saat ini integrasi. LRT, Transjakarta, Mikrotrans, KRL, dan moda lainnya harus terasa sebagai satu sistem bagi masyarakat. Bukan berjalan sendiri-sendiri,” papar Wa Ode.

Dengan tarif yang terjangkau, koneksi antarmoda yang mudah, feeder yang memadai, serta fasilitas pendukung seperti park and ride, LRT Kelapa Gading-Manggarai memiliki peluang untuk menjadi lebih dari sekadar jalur baru.

Tantangannya kini berada pada bagaimana seluruh elemen tersebut bekerja bersama. Sebab, bagi pengguna, transportasi publik bukan hanya tentang sampai ke tujuan. Yang dicari adalah perjalanan yang mudah, terjangkau, dan tidak merepotkan sejak berangkat hingga tiba di tempat tujuan.

Exit mobile version