KabarJakarta.com — Di tengah derasnya perdagangan ikan hias melalui layar ponsel, sebuah sentra ikan hias di Jakarta Barat masih menyimpan daya tarik yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh belanja daring.
Di Tempat Promosi Hasil Perikanan (TPHP) Cengkareng, Jalan Cendrawasih I, Kelurahan Cengkareng Barat, Jakarta Barat, puluhan pedagang masih bertahan menawarkan beragam ikan hias kepada pembeli yang datang langsung. Namun, suasana di lokasi itu kini tidak seramai beberapa tahun lalu.
Perubahan kebiasaan konsumen menjadi salah satu penyebabnya. Kemudahan membeli ikan hias melalui platform digital membuat masyarakat tidak selalu merasa perlu datang langsung ke sentra penjualan. Foto dan video ikan dapat dilihat dari rumah, transaksi dilakukan secara daring, lalu ikan dikirim ke pembeli.
Bagi para pedagang di TPHP Cengkareng, perubahan tersebut ikut memengaruhi geliat usaha mereka. Padahal, tempat ini memiliki sesuatu yang tidak selalu bisa diberikan oleh toko daring: pengalaman melihat ikan secara langsung, menikmati warna dan gerakannya, membandingkan ukuran, berbincang dengan pedagang, hingga sekadar berjalan-jalan melihat berbagai jenis ikan hias.
Potensi itulah yang kini hendak dihidupkan kembali. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) mulai merancang TPHP Cengkareng bukan hanya sebagai tempat perdagangan ikan hias, tetapi sebagai kawasan yang dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata.
Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok menjelaskan, saat ini terdapat 39 pelaku usaha ikan hias yang masih aktif berjualan di TPHP Cengkareng. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi di kawasan itu belum benar-benar mati. Hanya saja, dibutuhkan cara baru agar masyarakat kembali tertarik datang.
“Kami sudah berkomunikasi dengan Sudin Parekraf Jakbar dan Pemkot Jakarta Barat agar bisa bersama-sama mengembangkan kawasan ini. Karena potensi ekonomi dan pariwisatanya juga sangat besar,” kata Hasudungan di Jakarta, Kamis (17/9).
Rencana tersebut tidak berhenti pada promosi. Pemerintah juga melihat kondisi fisik kawasan sebagai bagian penting yang harus dibenahi.
Belum pernah direnovasi
TPHP Cengkareng dibangun pada 2010 dan mulai ditempati pedagang pada 2011. Sejak itu, bangunan disebut belum mendapatkan perawatan maupun renovasi secara menyeluruh. Waktu yang panjang tanpa pembaruan membuat sejumlah bagian fasilitas mulai mengalami kerusakan.
Ketua Asosiasi Pedagang Ikan Hias Cengkareng (APIC), Bryan Ghautama, mengungkapkan kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang perlu segera diperhatikan. Atap, plafon, kantin, musala hingga akses jalan di sekitar lokasi membutuhkan pembenahan.
Menurut dia, kondisi bangunan bukan sekadar persoalan kenyamanan. Jika kawasan hendak dikembangkan menjadi tujuan wisata, kelayakan fasilitas menjadi kebutuhan dasar.
“Sejak saat itu, setahu saya, tidak ada perawatan yang baik. Makanya saya berharap perhatian dari pemerintah. Seperti gedungnya, kemudian jalanan kita lihat rusak,” ujar Bryan.
Harapan pedagang tersebut sejalan dengan rencana Dinas KPKP DKI Jakarta.
Hasudungan memaparkan, pihaknya akan terlebih dahulu menginventarisasi bangunan dan fasilitas yang ada untuk mengetahui secara rinci kondisi TPHP Cengkareng. Dari inventarisasi itu, pemerintah dapat melihat kebutuhan pembenahan sekaligus menyusun arah pengembangan kawasan.
Namun, revitalisasi tidak serta-merta harus seluruhnya mengandalkan anggaran pemerintah. Dinas KPKP membuka peluang keterlibatan investor atau pihak ketiga untuk mempromosikan, membangun, dan mengembangkan kawasan tersebut.
“Kami harapkan, nanti ada investor yang tertarik bekerja sama dalam mempromosikan atau membangun dan mengembangkan TPHP Cengkareng. Ini masih tahap awal, mudah-mudahan nanti skemanya seperti itu,” ujar Hasudungan.
Jika rencana tersebut berjalan, wajah TPHP Cengkareng diharapkan tidak lagi sekadar identik dengan tempat transaksi ikan. Ada gagasan yang lebih besar: menjadikan ikan hias sebagai daya tarik wisata perkotaan.
Pengalaman unik bagi pengunjung
Bagi Bryan, konsep tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang sulit dibayangkan. Datang ke sentra ikan hias, menurut dia, bukan semata-mata soal membeli ikan. Ada pengalaman yang bisa dinikmati pengunjung.
Ia mengibaratkan pengalaman tersebut seperti menikmati secangkir kopi. Orang tidak hanya datang untuk menghilangkan haus, tetapi juga menikmati aroma, suasana dan prosesnya. Begitu pula dengan ikan hias.
Pengunjung dapat melihat langsung ikan dengan berbagai ukuran dan warna. Mereka bisa bertanya kepada pedagang mengenai jenis ikan, cara merawat, kualitas air, pakan hingga lingkungan yang cocok untuk memeliharanya.
Pengalaman semacam itu menjadi nilai yang sulit ditawarkan transaksi daring. Saat membeli ikan melalui internet, konsumen biasanya mengandalkan foto atau video. Kenyataannya, warna, ukuran atau kondisi ikan yang diterima bisa saja berbeda dari gambaran di layar.
“TPHP Cengkareng sebenarnya seperti tempat orang cuci mata, wisata ikan hias. Kemudian ada kantinnya yang menarik juga,” kata Bryan.
Konsep wisata ikan hias itu juga dapat membuka peluang ekonomi baru. Kawasan yang ramai pengunjung bukan hanya menguntungkan pedagang ikan.
Kantin dan pelaku UMKM di dalam kawasan dapat ikut bergerak. Pengunjung yang datang untuk melihat ikan bisa menikmati kuliner, membeli perlengkapan akuarium atau membawa pulang ikan sebagai oleh-oleh.
Dengan begitu, revitalisasi tidak hanya berbicara mengenai memperbaiki atap atau mengecat kembali bangunan. Ada upaya membangun ekosistem ekonomi kecil di sekitar sentra ikan hias.
Tetapi sebelum sampai ke sana, TPHP Cengkareng perlu kembali dikenalkan kepada masyarakat. Dinas KPKP menyadari bahwa sebuah destinasi tidak akan berkembang jika keberadaannya tidak diketahui publik. Karena itu, sebagai langkah awal, jajaran KPKP Jakarta Barat akan mendorong berbagai kegiatan di kawasan tersebut.
Di antaranya sterilisasi, Safari Gemar Ikan dan kegiatan edukasi lainnya. Kegiatan tersebut akan menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan kembali TPHP Cengkareng kepada warga Jakarta.
“Diharapkan bisa membantu promosi dan pengenalan TPHP Cengkareng ke masyarakat secara luas,” ujar Hasudungan.
Strategi itu menjadi penting karena tantangan TPHP Cengkareng bukan hanya persoalan bangunan yang menua. Tantangan lainnya adalah bagaimana mengubah persepsi masyarakat terhadap sentra tersebut.
Ruang rekreasi alternatif
Selama ini, pasar ikan hias kerap dianggap hanya sebagai tempat bagi mereka yang memang sedang mencari ikan. Padahal, jika dikembangkan dengan konsep yang tepat, kawasan itu dapat menjadi ruang rekreasi alternatif bagi keluarga.
Anak-anak dapat diperkenalkan dengan berbagai jenis ikan. Orang tua bisa menikmati suasana kawasan sambil berbelanja. Penggemar ikan hias dapat bertemu komunitas dan pedagang. Sementara pelaku usaha mendapatkan lebih banyak calon pembeli.
Pada titik itu, ikan hias tidak lagi sekadar komoditas. Ia menjadi pintu masuk untuk menghadirkan pengalaman wisata sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
Bagi 39 pedagang yang masih bertahan di TPHP Cengkareng, perubahan tersebut tentu menjadi harapan. Di tengah pergeseran transaksi ke dunia digital, mereka membutuhkan alasan agar pembeli kembali datang secara langsung. Revitalisasi kawasan dapat menjadi momentum untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Namun, pekerjaan rumahnya cukup panjang. Pemerintah perlu memastikan pembenahan gedung berjalan, akses menuju kawasan nyaman, fasilitas publik layak, kawasan bersih dan aman, serta kegiatan promosi dilakukan secara konsisten.
Pedagang juga perlu dilibatkan agar konsep pengembangan tidak berhenti sebagai proyek fisik, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan orang yang setiap hari menggantungkan penghasilan dari tempat tersebut.
