Taman Bugar, Ruang Sehat untuk Ibu Hamil dan Warga Jakarta

Puskesmas Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, mengembangkan program kebugaran Penji-Fit untuk memperkuat layanan kesehatan bagi pasien, khususnya ibu hamil. Foto: beritajakarta

KabarJakarta.com — Pagi belum terlalu ramai ketika ruang terbuka mulai dipenuhi warga. Ada yang berjalan santai, melakukan peregangan, mengajak anak bermain, atau sekadar menikmati udara pagi. Di tengah padatnya Jakarta, ruang seperti ini bukan sekadar taman.

Ketika fasilitas kebugaran tersedia dan dapat digunakan secara bebas, taman bisa berubah menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan warga. Termasuk bagi ibu hamil yang membutuhkan ruang untuk bergerak, berolahraga ringan, sekaligus mendapatkan dukungan untuk mempersiapkan persalinan.

Gagasan itu salah satunya terlihat melalui kehadiran Taman Bugar di Kelurahan Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Taman seluas 2.156 meter persegi tersebut diresmikan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada 30 September 2025.

Taman itu dibangun melalui kolaborasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan DPRD DKI. Fasilitasnya dapat digunakan masyarakat tanpa dipungut biaya. Kehadirannya sekaligus menjadi contoh bagaimana fasilitas umum dan fasilitas sosial dapat dimanfaatkan menjadi ruang aktivitas yang lebih dekat dengan kehidupan warga.

Pramono Anung saat peresmian mengingatkan agar fasilitas tersebut benar-benar dimanfaatkan dan dirawat. Sebab, taman yang dibangun dengan fasilitas kebugaran tidak akan memberikan manfaat maksimal jika hanya menjadi ruang yang dilewati tanpa digunakan.

Di sinilah keberadaan taman bugar memiliki kaitan yang lebih luas dengan layanan kesehatan masyarakat.

Kesehatan, terutama kesehatan ibu dan anak, tidak selalu dimulai dari ruang pemeriksaan puskesmas. Sebagian upaya pencegahan justru dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana: bergerak aktif, mengonsumsi makanan bergizi, menjaga kebersihan, memahami kondisi tubuh, dan mendapatkan dukungan dari keluarga.

Puskesmas Tanah Abang kembali menggelar kegiatan edukatif dan interaktif melalui Kelas Rasa Sayang atau Kelas Relaksasi dan Edukasi Persiapan Persalinan dengan Nyaman dan Tenang, di RPTRA Taman Keuangan, Bendungan Hilir. Foto: Puskesmas Tanah Abang

Dari taman ke persiapan persalinan

Bagi ibu hamil, aktivitas fisik tentu tidak bisa dilakukan sembarangan. Jenis gerakan, intensitas, dan latihan harus disesuaikan dengan kondisi kehamilan dan usia kandungan.

Kebutuhan itu terlihat dalam program Penji-Fit yang dikembangkan Puskesmas Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Program tersebut memadukan edukasi kesehatan dengan aktivitas fisik yang disesuaikan dengan kondisi peserta, termasuk ibu hamil.

Penanggung Jawab Program Jasmani dan Olahraga Puskesmas Kecamatan Penjaringan, Christopher Tandrian, mengungkapkan Penji-Fit awalnya dibuat sebagai inovasi untuk menjaga kebugaran pegawai puskesmas. Program itu kemudian dikembangkan untuk pasien.

“Penji-Fit awalnya dibuat khusus bagi pegawai, karena penting menjaga kebugaran tenaga kesehatan. Kini program dikembangkan untuk pasien,” ujarnya, Jumat (18/9).

Ibu hamil menjadi salah satu kelompok yang mendapat perhatian melalui layanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).

Intervensinya mencakup 4 (empat) hal utama, yakni aktivitas fisik, konsumsi makanan yang beragam dan bergizi, suplementasi sesuai kebutuhan, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.

Dalam kelas ibu hamil, aktivitas fisik dilakukan melalui kegiatan seperti yoga dan latihan angkat beban ringan. Gerakannya disesuaikan dengan kondisi serta trimester kehamilan.

“Peserta tidak hanya mendapat edukasi, tapi juga aktivitas fisik seperti yoga dan latihan angkat beban ringan. Disesuaikan dengan kondisi dan trimester kehamilan,” terangnya.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas fisik dapat menjadi bagian dari edukasi kesehatan, bukan sekadar kegiatan olahraga.

Apalagi sebagian ibu hamil menghadapi persoalan anemia dan kekurangan energi kronis atau KEK. Kondisi tersebut membutuhkan perhatian dan pemantauan secara berkala.

Di Penjaringan, sebanyak 52 ibu hamil dengan anemia dan KEK menjadi sasaran intervensi khusus. Perkembangan mereka dipantau, termasuk kadar hemoglobin atau Hb.

“Kami berharap, kebiasaan itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kader posyandu juga sudah diedukasi agar bisa membantu mendampingi ibu hamil di wilayahnya,” ungkapnya.

Program tersebut juga berusaha mendekatkan layanan kepada warga. Puskesmas menghadirkan fasilitas bernama King Arthur, berupa meja lipat multifungsi yang dilengkapi kursi, barbel, gymball, dan sepeda statis.

Fasilitas tersebut dibawa ke wilayah warga melalui layanan jemput bola dua kali dalam sebulan. Tujuannya sederhana: jangan sampai jarak menjadi alasan ibu hamil tidak mendapatkan edukasi dan aktivitas fisik yang dibutuhkan.

Pasangan ikut bergerak

Persiapan kehamilan dan persalinan juga bukan hanya urusan ibu.

Hal tersebut menjadi perhatian Puskesmas Tanah Abang melalui Kelas Rasa Sayang, singkatan dari Kelas Relaksasi dan Edukasi Persiapan Persalinan dengan Nyaman dan Tenang. Kegiatan tersebut digelar pada Sabtu, 19 September 2026 di RPTRA Taman Keuangan, Bendungan Hilir.

Kelas ini secara khusus mendampingi ibu hamil dengan kondisi anemia. Namun pendekatannya tidak berhenti pada pemberian informasi kesehatan.

Kepala Puskesmas Tanah Abang Ovi Norfiana menekankan pentingnya persiapan kehamilan dan persalinan dari sisi fisik sekaligus mental. Dukungan pasangan juga dianggap penting agar ibu menjalani kehamilan dan persalinan dengan lebih nyaman.

“Dukungan pasangan menjadi bagian penting untuk menciptakan pengalaman kehamilan dan persalinan yang lebih nyaman bagi ibu,” ujar Ovi, Sabtu (19/9).

Karena itu, pasangan dilibatkan dalam yoga bersama. Mereka melakukan gerakan dan latihan pernapasan yang disesuaikan dengan kondisi kehamilan.

Ada pula sesi relaksasi hypnotherapy. Peserta diajak mengatur pernapasan, melakukan relaksasi, dan membangun sugesti positif sebagai bagian dari persiapan menghadapi persalinan.

“Pendekatan semacam ini membuat ruang terbuka seperti taman memiliki potensi lebih dari sekadar tempat olahraga,” ujarnya. Taman juga bisa menjadi ruang pertemuan, ruang edukasi, sekaligus ruang bagi keluarga untuk membangun kebiasaan sehat.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung meresmikan Taman Bugar di Kelurahan Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Selasa (30/9) sore. Foto: Pemprov DKI

Sehat tak cukup hanya bergerak

Aktivitas fisik hanyalah satu bagian dari kesehatan ibu hamil. Persoalan gizi juga tidak kalah penting.

Dalam Kelas Rasa Sayang, Puskesmas Tanah Abang menghadirkan demo masak bersama ahli gizi. Para ibu hamil mendapatkan penjelasan mengenai pemilihan bahan makanan bergizi, cara mengolah makanan, hingga resep yang dapat diterapkan dalam menu sehari-hari.

“Pesan yang ingin dibangun cukup sederhana: makanan sehat tidak harus rumit,” kata Ovi.

Kegiatan tersebut juga ditandai dengan penyerahan tanaman kelor secara simbolis kepada RPTRA. Di akhir acara, para ibu hamil mengonsumsi tablet tambah darah bersama-sama sebagai bagian dari upaya menurunkan anemia.

Mereka juga diperkenalkan dengan KURMA atau Kursi Relaksasi Maternal, inovasi Puskesmas Tanah Abang yang ditujukan untuk membantu relaksasi ibu hamil menjelang persalinan.

Semua kegiatan itu memperlihatkan bahwa layanan kesehatan ibu semakin diarahkan agar tidak hanya berfokus pada pengobatan ketika masalah muncul, tetapi juga pada pencegahan dan pembentukan kebiasaan sehat.

Taman bagian dari layanan kesehatan

Jika konsep tersebut diperluas, keberadaan Taman Bugar di berbagai wilayah Jakarta dapat menjadi salah satu pendukung ekosistem kesehatan masyarakat.

Taman memang bukan pengganti puskesmas. Pemeriksaan kehamilan, pemantauan Hb, pemberian tablet tambah darah, konsultasi gizi, hingga penanganan kondisi medis tetap membutuhkan tenaga kesehatan.

Namun taman dapat menjadi ruang pendukung.

Ibu hamil dapat memanfaatkannya untuk aktivitas fisik ringan sesuai anjuran tenaga kesehatan. Keluarga dapat menggunakannya sebagai ruang untuk membangun kebiasaan bergerak bersama. Kader kesehatan dan komunitas juga dapat menjadikannya lokasi kegiatan edukasi apabila fasilitas dan ketentuannya memungkinkan.

Manfaatnya bahkan tidak berhenti pada ibu hamil. Anak-anak dapat bermain dan bergerak.

Orang dewasa dapat berolahraga. Lansia dapat melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan. Warga dengan risiko penyakit tidak menular pun dapat didorong untuk lebih aktif.

Puskesmas Penjaringan sendiri telah menyiapkan pengembangan Penji-Fit untuk kelompok lain, termasuk lansia dan pasien penyakit tidak menular seperti obesitas, hipertensi, serta diabetes melitus.

“Artinya, satu ruang publik dapat mendukung kebutuhan kesehatan berbagai kelompok masyarakat,” kata Christopher.

Pramono saat meresmikan Taman Bugar Duri Kepa juga menekankan pentingnya merawat fasilitas tersebut agar manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal. Taman itu turut dilengkapi rain drainage untuk membantu menampung air ketika curah hujan tinggi.

“Bentuk kolaborasi seperti ini bisa menjadi prototipe atau contoh di mana saja, yang memang ada fasum-fasum yang bisa dimanfaatkan. Sehingga betul-betul termanfaatkan secara maksimal bagi masyarakat,” jelasnya.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah taman bukan hanya pada seberapa bagus fasilitasnya ketika baru selesai dibangun. Yang lebih penting adalah seberapa sering ruang tersebut digunakan dan apakah kehadirannya benar-benar memberi manfaat bagi warga.

Di tengah Jakarta yang bergerak cepat, ruang terbuka seperti Taman Bugar memberi kesempatan bagi warga untuk berhenti sejenak dan menjaga tubuh. Ketika taman, puskesmas, keluarga, kader, dan masyarakat dapat saling terhubung, layanan kesehatan tidak lagi terasa jauh dan hanya berada di balik pintu fasilitas kesehatan.

Ia hadir di tengah kehidupan sehari-hari—di ruang yang terbuka, dekat dengan rumah, dan bisa digunakan bersama. Sebab menjaga kesehatan warga tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, cukup dengan menyediakan ruang agar orang bisa bergerak, belajar, dan saling mendukung.

Exit mobile version