Jakarta Menuju 500 Tahun, Saatnya Generasi Muda Kenali Akar Budaya Betawi

Festival Pesona Budaya Betawi digelar dalam menyongsong 5 Abad Kota Jakarta, di Pintu Selatan ITC Cempaka Mas, Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Kemyoran, Minggu (20/9). Foto: Pemkot Jakpus

KabarJakarta.com — Di tengah Jakarta yang terus berubah, budaya Betawi menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Modernisasi membuat wajah kota semakin dinamis, sementara generasi muda tumbuh dengan beragam pengaruh budaya dari berbagai penjuru dunia. Di tengah perubahan itu, menjaga budaya lokal bukan sekadar mempertahankan tradisi lama, tetapi memastikan identitas Jakarta tetap memiliki akar.

Semangat tersebut terlihat dalam Festival Pesona Budaya Betawi yang digelar di Pintu Selatan ITC Cempaka Mas, Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (20/9). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian menyongsong 5 Abad Kota Jakarta sekaligus ruang untuk kembali mendekatkan budaya Betawi kepada masyarakat.

Festival dibuka Asisten Administrasi dan Kesejahteraan Rakyat Sekko Jakarta Pusat Nurhidayat bersama jajaran terkait. Ia memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Menurut Nurhidayat, pelestarian budaya tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Masyarakat memiliki peran yang sama penting untuk memastikan warisan budaya Betawi tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya.

“Kehadiran kegiatan seperti ini, menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah, namun merupakan tanggung jawab bersama,” ungkapnya.

Pesan tersebut menjadi semakin penting ketika Jakarta memasuki perjalanan panjang menuju usia lima abad. Kota ini terus berkembang sebagai pusat ekonomi, bisnis, pendidikan, dan teknologi. Namun, kemajuan tersebut tidak seharusnya membuat masyarakat kehilangan hubungan dengan sejarah dan kebudayaan yang membentuk Jakarta.

Nurhidayat menjelaskan budaya Betawi merupakan bagian penting dari identitas Jakarta. Di dalamnya terdapat sejarah, seni, tradisi, bahasa, kuliner, hingga kearifan lokal yang berkembang dalam kehidupan masyarakat.

“Budaya Betawi merupakan bagian penting dari identitas Jakarta yang memiliki nilai sejarah, tradisi, bahasa, seni, kuliner, serta kearifan lokal yang patut dirawat bersama,” katanya.

Mengenalkan budaya Betawi

Upaya menjaga budaya tidak cukup dilakukan melalui acara seremonial. Generasi muda perlu diberi kesempatan untuk mengenal, memahami, dan berinteraksi langsung dengan kebudayaan di sekitarnya.

Hal itu tergambar dalam kegiatan Pentas Literasi bertema “Kenali Budaya Betawi: Sejarah Betawi Pesisir” yang digelar Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jakarta Utara bersama Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Utara, Senin (14/9).

Sebanyak 30 pelajar SMP Fikri mengikuti kegiatan yang berlangsung di Pojok Baca Digital (POCADI) Kantor Wali Kota Jakarta Utara. Kegiatan tersebut tidak hanya berbicara tentang buku dan kebiasaan membaca, tetapi membawa peserta mengenal sejarah dan budaya Betawi melalui cara yang dekat dengan kehidupan mereka.

Sebelum memasuki materi, para pelajar diperkenalkan dengan layanan perpustakaan, mulai dari Perpustakaan Kota hingga Perpustakaan Keliling. Mereka juga mendapat informasi mengenai berbagai kegiatan seperti Baca Jakarta, lomba menulis dan Bookcamp.

Dari ruang literasi tersebut, pembahasan kemudian bergerak ke sejarah Betawi pesisir. Para pelajar diajak memahami bagaimana masyarakat Betawi berkembang, bagaimana tradisi dan kesenian tumbuh, serta bagaimana interaksi masyarakat pesisir dengan berbagai kelompok dari luar daerah ikut membentuk karakter budaya Betawi.

Bagi pelajar, materi itu menjadi lebih menarik karena berkaitan dengan lingkungan yang mereka kenal. Diskusi berkembang ketika mereka menghubungkan pengetahuan baru dengan berbagai hal yang mereka temui sehari-hari.

Nama Cilincing dan sejumlah situs bersejarah di kawasan pesisir Jakarta Utara, misalnya, menjadi bagian dari obrolan. Dari sana muncul kesadaran bahwa budaya Betawi bukan sesuatu yang jauh dan hanya bisa ditemukan dalam pertunjukan budaya.

Budaya tersebut sebenarnya hadir di sekitar mereka.

Pendekatan seperti ini penting karena pelestarian budaya membutuhkan lebih dari sekadar penampilan seni. Anak muda perlu memahami cerita di balik sebuah tradisi agar memiliki alasan untuk ikut menjaganya.

Festival budaya dapat menjadi pintu masuk untuk menikmati kesenian, kuliner, bahasa dan tradisi Betawi. Sementara kegiatan literasi dapat membantu generasi muda memahami sejarah dan nilai yang berada di balik kebudayaan tersebut.

Pola ini membuat pelestarian budaya tidak berhenti pada kegiatan menonton. Anak-anak muda didorong untuk bertanya, berdiskusi, mengenali lingkungan, bahkan menghubungkan pengetahuan budaya dengan kehidupan mereka sendiri.

Suasana Pentas Literasi semakin hidup ketika memasuki sesi kuis edukatif. Pertanyaan tentang kebudayaan Betawi dijawab dengan antusias oleh para peserta. Gelak tawa dan semangat saling berebut menjawab membuat pembelajaran terasa lebih ringan.

Cara seperti ini menunjukkan bahwa mengenalkan budaya kepada generasi muda tidak harus selalu melalui pendekatan formal. Pengetahuan sejarah dan kebudayaan dapat disampaikan melalui kegiatan yang interaktif, menyenangkan, dan dekat dengan keseharian mereka.

Menjaga identitas di tengah modernisasi

Tantangan pelestarian budaya Betawi ke depan tidak hanya soal menjaga tradisi agar tidak hilang. Tantangannya juga bagaimana membuat budaya tersebut tetap relevan bagi generasi yang hidup dalam lingkungan yang terus berubah.

Nurhidayat menilai kegiatan budaya dapat menjadi ruang yang baik untuk memperkenalkan kembali kekayaan Betawi, khususnya kepada generasi muda. Menurut dia, masyarakat tidak hanya datang untuk menikmati pertunjukan, tetapi juga dapat mempelajari nilai kehidupan yang terkandung di dalam kebudayaan.

“Pada kesempatan kali ini, kita tidak hanya menikmati sebuah pertunjukan, tetapi juga belajar mengenal nilai-nilai kehidupan di dalamnya,” ujarnya.

Nilai itulah yang menjadi bagian penting dari pelestarian budaya. Gotong royong, kebersamaan, penghormatan terhadap lingkungan sosial, serta hubungan antargenerasi merupakan bagian dari warisan yang tidak selalu terlihat dalam sebuah pertunjukan.

Karena itu, budaya Betawi tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai peninggalan masa lalu. Ia dapat menjadi sumber pengetahuan bagi generasi sekarang untuk memahami dari mana mereka berasal dan bagaimana sebuah kota terbentuk melalui perjalanan masyarakatnya.

Menuju 5 Abad Jakarta, pekerjaan menjaga identitas budaya menjadi semakin penting. Jakarta boleh berubah dengan gedung-gedung baru, teknologi, transportasi modern, dan gaya hidup yang terus berkembang. Namun, perubahan kota tidak harus berarti putusnya hubungan dengan sejarah.

Generasi muda memiliki posisi penting dalam proses tersebut. Mereka bukan hanya penonton atau penerima warisan budaya, tetapi calon penjaga sekaligus pihak yang akan menentukan bagaimana budaya Betawi hadir di masa depan.

Nurhidayat berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Menurutnya, pelestarian budaya harus berjalan bersama dengan pembangunan Jakarta agar kemajuan kota tetap memiliki akar yang kuat.

“Semoga kegiatan seperti ini bisa terus dilaksanakan secara berkelanjutan, dan menjadi bagian dari upaya bersama membangun Jakarta yang maju, sekaligus tetap memiliki akar budaya yang kuat,” paparnya.

Pada akhirnya, menjaga budaya Betawi bukan semata-mata soal mempertahankan masa lalu. Yang jauh lebih penting adalah memastikan generasi muda masih mengenali cerita, nilai, bahasa, tradisi, dan identitas yang membentuk kota tempat mereka tumbuh.

Sebab, Jakarta yang memasuki usia lima abad bukan hanya tentang seberapa jauh kota itu bergerak ke depan. Ada pertanyaan lain yang tak kalah penting: apakah di tengah kemajuan itu, generasi mudanya masih mengenali akar budayanya sendiri?

Exit mobile version