Gedung Tua, Cerita Baru: Museum Film Disiapkan di Kota Tua

Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam bincang santai yang digelar di Jakarta, Rabu (5/8/2026). Foto: ANTARA

KabarJakarta.com — Gedung-gedung tua yang selama bertahun-tahun hanya menjadi bagian dari lanskap kota akan diberi kehidupan baru. Pemerintah menyiapkan sejumlah museum dengan memanfaatkan aset bangunan milik Danantara yang selama ini terbengkalai.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan, pemanfaatan aset tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat kebudayaan nasional sekaligus menghidupkan kembali bangunan yang memiliki nilai sejarah.

Salah satu rencana yang paling menarik perhatian adalah pembangunan Museum Film di kawasan Kota Tua, Jakarta. Museum tersebut akan menempati salah satu aset gedung Danantara yang berada di kawasan bersejarah tersebut.

“Terus kita juga akan memberikan sejumlah museum-museum baru yang diinisiasi oleh pemerintah, misalnya museum film yang akan kita rencanakan di Kota Tua menggunakan aset dari gedung Danantara,” ujar Fadli dalam bincang santai di Jakarta, Rabu (5/8).

Museum Film nantinya tidak sekadar menjadi tempat menyimpan benda-benda lama. Pemerintah ingin menjadikannya ruang untuk melihat perjalanan panjang perfilman Indonesia, dari masa awal kemunculannya hingga perkembangan industri film saat ini.

Fadli membeberkan, Indonesia selama ini belum memiliki museum yang secara khusus menceritakan sejarah perfilman nasional secara utuh. Karena itu, Museum Film diharapkan dapat menjadi tempat masyarakat mengenal kembali perjalanan industri tersebut.

“Misalnya film, kita tidak punya museum film. Kita ingin ada sejarah film Indonesia di situ dari zaman Belanda, dari Hindia Belanda. Film pertama ya Loetoeng Kasaroeng sampai film-film yang terakhir,” paparnya.

Perjalanan tersebut akan memperlihatkan bagaimana perfilman Indonesia mengalami berbagai fase. Mulai dari era film bisu, film hitam putih, perkembangan teknologi produksi, hingga masuk ke era film digital.

Menurut Fadli, sejarah tersebut penting untuk diketahui masyarakat karena industri film Indonesia tidak selalu berada dalam kondisi yang baik. Ada masa ketika perfilman nasional tumbuh pesat, tetapi ada pula periode ketika industri tersebut mengalami kemunduran.

“Sehingga kita tahu, berapa sih produksi film Indonesia dari dulu sampai sekarang. Bagaimana jatuh bangunnya, perkembangannya, dari mulai film bisu, film hitam putih dan seterusnya,” terang Fadli.

Museum tersebut juga berpotensi menjadi ruang edukasi yang lebih menarik bagi generasi muda. Pengunjung nantinya dapat melihat berbagai arsip dan benda yang berkaitan dengan perjalanan perfilman, seperti poster film, peralatan produksi, dokumentasi tokoh perfilman, hingga perkembangan teknologi yang digunakan dari masa ke masa.

Bagi masyarakat yang selama ini hanya mengenal film melalui layar bioskop atau layanan streaming, museum dapat memberikan pengalaman berbeda. Film tidak hanya dilihat sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan sosial dan budaya Indonesia.

Rencana serupa disiapkan pemerintah untuk bidang kebudayaan lainnya. Di kawasan Kota Lama Semarang, pemerintah merencanakan Museum Fotografi. Sementara di Bandung, gedung bekas Jiwasraya di Jalan Asia Afrika yang merupakan aset Danantara disiapkan untuk Museum Musik.

Pemerintah juga merencanakan Museum Arsitektur di Surabaya. Dengan demikian, pemanfaatan aset lama tidak hanya diarahkan untuk satu bidang kesenian, tetapi mencakup sejumlah sektor yang dianggap penting dalam perkembangan kebudayaan Indonesia.

Fadli menyebut sejumlah aset tersebut telah lama tidak dimanfaatkan. Ada bangunan yang terbengkalai selama sekitar satu dekade, bahkan terdapat gedung yang usianya mencapai 100 tahun dan telah berstatus sebagai cagar budaya.

“Jadi pemanfaatan ini saya kira akan juga bermanfaat bagi pemajuan kebudayaan di bidang-bidang tadi,” kata Fadli.

Pemanfaatan bangunan lama juga membuat pembangunan museum memiliki cerita tersendiri. Pemerintah tidak harus selalu membangun gedung baru dari awal. Bangunan yang sudah memiliki sejarah dapat dipertahankan sekaligus diberi fungsi baru yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Museum Musik di Bandung, misalnya, diharapkan dapat merekam perjalanan musik Indonesia dari berbagai generasi. Tidak hanya tentang alat musik dan karya, tetapi juga perubahan selera masyarakat serta perkembangan industri musik nasional.

Hal itu dinilai relevan dengan kondisi musik Indonesia yang semakin mendapat tempat di kalangan masyarakat. Begitu pula dengan perfilman nasional. Fadli menyebut pangsa pasar film Indonesia di dalam negeri kini telah mencapai 67 persen.

Angka tersebut menunjukkan semakin kuatnya posisi karya lokal di pasar domestik. Film Indonesia tidak lagi hanya menjadi pilihan alternatif, tetapi mampu bersaing dan menarik perhatian penonton di negeri sendiri.

Karena itu, kehadiran Museum Film di Kota Tua diharapkan tidak berhenti sebagai tempat penyimpanan arsip. Museum tersebut dapat menjadi ruang untuk memahami bagaimana para pelaku perfilman membangun industri dari masa ke masa.

Fadli menyebut proyek pembangunan museum-museum tersebut akan mulai dikerjakan pada tahun ini. Jika terealisasi, sejumlah gedung lama yang sebelumnya terbengkalai akan mendapatkan fungsi baru sekaligus menjadi ruang publik untuk mengenalkan kekayaan budaya Indonesia.

Pada akhirnya, museum bukan hanya tentang benda-benda masa lalu. Ia juga menjadi cara untuk menghubungkan masa lalu dengan masa kini, sekaligus menyimpan cerita agar generasi berikutnya tidak kehilangan jejak perjalanan bangsanya.

Exit mobile version