KabarJakarta.com — Ada Jakarta yang mungkin tidak lagi mudah ditemukan hari ini. Jakarta dengan jalan kampung yang tidak terlalu ramai, halaman rumah bertanah dan berbatu, pohon-pohon rindang yang menaungi teras, warung tempat tetangga berbincang, serta kendaraan umum yang menjadi bagian dari rutinitas mencari nafkah.
Ada pula Jakarta yang hidup dari percakapan sederhana: orang tua menunggu anak pulang sekolah, tetangga saling mengenal, keluarga berkumpul di ruang tamu, dan persoalan sehari-hari dibicarakan tanpa banyak jarak.
Jakarta seperti itulah yang pernah hadir setiap pekan di layar televisi melalui Si Doel Anak Sekolahan.
Tokoh Doel, yang diperankan Rano Karno, bukan sekadar karakter dalam sinetron keluarga. Ia seperti pintu masuk untuk melihat Jakarta dari sisi yang jarang muncul dalam gambaran kota besar: Jakarta dari kampung, dari rumah, dari keluarga, dari masyarakat Betawi.
Kini, ketika Jakarta bergerak menuju cita-cita sebagai kota global dan bersiap memasuki usia 500 tahun, cerita tentang Si Doel kembali menemukan relevansinya. Bukan karena Jakarta harus kembali seperti masa lalu. Justru sebaliknya.
Cerita Si Doel mengingatkan bahwa sebuah kota boleh berubah sejauh apa pun, tetapi perubahan itu tidak semestinya membuat kota lupa dari mana ia berasal.
Sastrawan Harry Tjahjono, penulis skenario Si Doel Anak Sekolahan, mengabadikan kembali kisah tersebut melalui buku Si Doel Anak Sekolahan: Filosofi Orang Kampung.
Buku itu tidak hanya membuka kembali cerita tentang sebuah sinetron yang pernah menjadi tontonan populer pada era 1990-an. Lebih jauh, ia mengajak pembaca melihat Jakarta yang menjadi latar lahirnya Si Doel.
Jakarta dalam cerita tersebut bukan Jakarta gedung pencakar langit. Ia adalah Jakarta halaman rumah, ruang tamu, warung, jalan kampung, oplet, percakapan tetangga dan kehidupan keluarga. Jakarta dari bawah.
Jakarta berubah terlalu cepat
Ada kegelisahan yang menjadi salah satu latar lahirnya Si Doel. Rano Karno mengenang bagaimana masyarakat Betawi menghadapi perubahan Jakarta yang begitu cepat.
Kekhawatirannya sederhana, tetapi mendasar: jangan sampai masyarakat Betawi justru menjadi “tamu di rumahnya sendiri”. Ungkapan itu terasa penting ketika Jakarta sedang membayangkan masa depannya sebagai kota global.
Sebab kota global bukan hanya persoalan gedung tinggi, investasi, transportasi modern, teknologi, pusat bisnis atau konektivitas internasional. Kota juga dibentuk oleh manusia yang tinggal di dalamnya dan kebudayaan yang tumbuh jauh sebelum istilah global city menjadi bagian dari perencanaan pembangunan.
Jakarta memang tidak mungkin berhenti berubah.
Kampung berkembang menjadi kawasan padat. Rumah-rumah lama berganti bangunan baru. Ruang terbuka semakin terbatas. Jalan yang dulu menjadi ruang sosial mendapatkan fungsi baru. Penduduk datang dan pergi. Teknologi mengubah cara bekerja, berkomunikasi dan berinteraksi.
Semua itu merupakan bagian dari pertumbuhan kota. Persoalannya bukan pada perubahan itu sendiri.
Masalah muncul ketika kemajuan hanya diukur dari apa yang terlihat secara fisik, sementara kehidupan sosial dan kebudayaan yang membentuk karakter Jakarta perlahan tersingkir dari ruang kota.
Kampung, misalnya, bukan sekadar kumpulan rumah. Kampung adalah ruang tempat orang belajar hidup bersama.
Anak-anak mengenal tetangga sebelum mengenal istilah komunitas. Orang tahu siapa yang sedang sakit, siapa yang membutuhkan bantuan, siapa yang baru pulang bekerja.
Ada gotong royong, percakapan di depan rumah, makanan yang dibagikan, bahasa yang digunakan dan kebiasaan yang diwariskan. Hal-hal semacam itu mungkin tidak masuk dalam ukuran pertumbuhan ekonomi kota.
Namun justru dari ruang-ruang kecil itulah identitas sebuah kota dibentuk.
Si Doel sebagai ingatan Jakarta
Di situlah kekuatan Si Doel. Sinetron tersebut tidak menjadikan Jakarta sebagai sekadar latar belakang. Jakarta hadir melalui kehidupan para tokohnya.
Doel tumbuh dalam keluarga sederhana. Ia bersekolah, mengejar pendidikan dan akhirnya menjadi “tukang insinyur”. Perjalanannya memperlihatkan bahwa masyarakat Betawi juga mengalami perubahan.
Doel tidak berhenti menjadi bagian dari kampung hanya karena mendapatkan pendidikan dan memasuki dunia yang lebih luas. Ia membawa kampung itu bersamanya.
Cerita tersebut menyampaikan sesuatu yang sederhana: seseorang dapat bergerak maju tanpa harus memutus hubungan dengan akar yang membentuk dirinya.
Bagi masyarakat yang pernah menonton Si Doel pada era 1990-an, banyak unsur budaya Betawi mungkin melekat tanpa pernah sengaja dipelajari. Rumah, bahasa, pakaian, makanan, kebiasaan keluarga, humor dan hubungan antartetangga hadir melalui cerita.
Itulah mengapa karya budaya sering kali mampu menyimpan ingatan dengan cara yang berbeda dari dokumen sejarah. Sinetron tentu bukan buku sejarah. Tetapi sebuah cerita dapat membuat suatu zaman terasa dekat.
Generasi yang tidak pernah mengalami Jakarta beberapa dekade lalu masih bisa membayangkan bagaimana kehidupan masyarakat ketika oplet menjadi bagian dari mobilitas, ketika halaman rumah menjadi ruang bermain dan ketika hubungan antartetangga jauh lebih cair.
Si Doel akhirnya menjadi semacam arsip sosial dalam bentuk fiksi.
Mimpi menjadi kota global
Hari ini, Jakarta berada pada persimpangan yang berbeda. Kota ini didorong untuk semakin terhubung dengan dunia.
Infrastruktur terus dibangun. Transportasi publik berkembang. Kawasan bisnis bertumbuh. Teknologi digital semakin masuk ke berbagai layanan. Investasi dan aktivitas ekonomi membuat wajah kota terus berubah.
Tetapi semakin modern sebuah kota, semakin penting pula pertanyaan tentang identitas. Apa yang membuat Jakarta berbeda dari kota global lainnya?
Jawabannya tidak cukup dengan gedung, jalan, pusat perdagangan atau teknologi. Banyak kota di dunia memiliki semua itu. Karakter sebuah kota justru lahir dari sejarah dan masyarakatnya.
Bagi Jakarta, salah satu akar tersebut adalah kebudayaan Betawi. Karena itu, pelestarian budaya tidak semestinya berhenti pada festival, pertunjukan atau seremoni. Budaya perlu tetap memiliki ruang dalam kehidupan sehari-hari.
Arah penguatan jejaring kebudayaan Betawi menjelang 500 tahun Jakarta, termasuk pengembangan titik-titik budaya di 44 kecamatan dan 267 kelurahan serta pengembangan kembali Anjungan Jakarta di Taman Mini Indonesia Indah, menunjukkan upaya membawa kebudayaan lebih dekat dengan masyarakat.
Tantangannya adalah memastikan kebijakan semacam itu tidak berhenti sebagai program administratif. Budaya harus terasa hidup.
Anak-anak Jakarta harus dapat mengenal kebudayaan Betawi bukan hanya ketika mengikuti acara sekolah atau menonton pertunjukan. Mereka perlu menemukan bahasa, cerita, makanan, kesenian, sejarah kampung dan tokoh-tokoh budaya itu dalam kehidupan kota sehari-hari.
Teknologi juga tidak harus menjadi lawan tradisi.
Cerita Betawi dapat masuk ke platform digital. Arsip kampung dapat dibuat dalam bentuk dokumentasi audiovisual. Ruang budaya dapat dikembangkan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda.
Bahkan, mungkin saja suatu hari lahir “Si Doel” dalam bentuk baru—bukan untuk mengulang cerita lama, tetapi untuk menceritakan bagaimana anak Jakarta menghadapi kota masa depan tanpa kehilangan hubungan dengan asal-usulnya.
Jakarta yang tahu jalan pulang
Jakarta akan terus tumbuh. Menjelang 500 tahun, akan semakin banyak bangunan baru, moda transportasi baru, kawasan ekonomi baru dan teknologi yang mengubah kehidupan warga.
Semua itu adalah bagian dari perjalanan menuju masa depan. Namun kota tidak hanya meninggalkan warisan melalui bangunan. Kota juga mewariskan cerita.
Kelak, ketika generasi yang lahir hari ini berbicara tentang Jakarta, mereka tentu akan mengenal kereta, gedung tinggi, jalan raya dan teknologi yang menjadi bagian dari keseharian mereka.
Tetapi mereka juga membutuhkan cerita tentang orang-orang yang pernah tinggal di gang-gang kota, keluarga yang hidup sederhana, kampung yang menjadi ruang bersama, serta masyarakat Betawi yang ikut membentuk Jakarta.
Di situlah Si Doel menjadi penting.
Ia bukan ajakan untuk membawa Jakarta kembali ke masa lalu. Ia adalah pengingat agar perjalanan menuju masa depan tidak membuat Jakarta kehilangan ingatan.
Sebab menjadi kota global tidak berarti harus menjadi kota tanpa akar. Justru sebuah kota akan memiliki karakter ketika ia mampu berdiri di tengah dunia dengan identitasnya sendiri.
Jakarta boleh berubah. Jakarta memang harus berubah.
Tetapi di tengah ambisi menjadi kota global, Jakarta tetap membutuhkan satu kemampuan yang sederhana: mengingat rumahnya sendiri.
Dan mungkin, setelah 500 tahun perjalanan, itulah makna paling penting dari warisan Si Doel—bahwa kota yang benar-benar maju bukan kota yang melupakan masa lalunya, melainkan kota yang mampu membawa akar budayanya berjalan bersama masa depan.
