KabarJakarta.com – Lampu panggung Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, menyala pada Minggu (30/8). Di atas panggung, puluhan anak tampil membawa kisah dari tanah Dairi, Sumatera Utara, melalui drama musikal tari bertajuk “Putri Lopian: Bunga Belantara Dairi”.
Pementasan karya Sekolah Seni Yonif (SSY) itu tidak sekadar menyuguhkan tari, musik, dan teater. Di balik gerak para penari dan dialog yang dimainkan, tersimpan upaya mengenalkan sejarah serta nilai perjuangan kepada generasi muda melalui cara yang lebih dekat dengan dunia mereka: seni pertunjukan.
Penampilan tersebut mendapat apresiasi dari para penonton. Salah satunya Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno yang hadir menyaksikan langsung pementasan.
Bagi Rano, kekuatan pertunjukan itu bukan hanya terlihat dari hasil akhir di atas panggung. Proses yang dilalui anak-anak selama latihan dinilai jauh lebih penting karena mengajarkan disiplin, keberanian, kerja sama, dan kemampuan mengekspresikan diri.
“Kita menyaksikan bagaimana anak-anak tampil dengan penuh keberanian dan kreativitas, melalui Drama Musikal Tari Putri Lopian ‘Bunga Belantara Dairi’. Bagi saya, yang paling penting bukan hasil di atas panggung, tetapi proses mereka belajar, berlatih disiplin, bekerja sama, dan berani mengekspresikan diri melalui seni,” ujar Rano.
Sejarah dihidupkan di atas panggung
Kisah Putri Lopian diangkat melalui perpaduan berbagai unsur seni. Musik membangun suasana, tari menggambarkan emosi dan perjalanan cerita, sedangkan teater menjadi ruang bagi para pemain untuk menghidupkan tokoh-tokoh dari masa lalu.
Cerita dari Dairi tersebut sekaligus menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan kekayaan budaya Batak kepada masyarakat Jakarta, khususnya generasi muda.
Rano menilai, mengenalkan tokoh sejarah melalui pertunjukan seni merupakan salah satu cara untuk menanamkan nilai kepahlawanan sejak usia dini. Anak-anak tidak hanya menghafal nama tokoh atau peristiwa sejarah, tetapi dapat memahami nilai yang terkandung di dalamnya melalui pengalaman langsung.
“Tidak mudah bagi anak-anak memainkan tokoh sejarah yang tidak mereka kenal secara langsung, seperti Sisingamangaraja. Tetapi dengan cinta, hasilnya sangat luar biasa. Saya sangat bangga sanggar ini mampu mengangkat kisah nasionalis tentang pahlawan daerah ke atas panggung teater modern,” katanya.
Menurut Rano, keberanian anak-anak mendalami tokoh sejarah juga dapat membentuk karakter. Seni memberi kesempatan kepada mereka untuk memahami keberanian, pengorbanan, kesetiaan, sekaligus belajar menghargai keragaman budaya Indonesia.
Di tengah Jakarta yang terus berkembang sebagai kota global, nilai tersebut dianggap semakin penting. Kemajuan kota, kata Rano, tidak cukup hanya diukur dari pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi.
“Menjelang 5 abad Jakarta, kita tidak hanya membangun kota melalui infrastruktur dan ekonomi, tapi juga melalui manusia yang kreatif dan berkarakter. Jakarta sebagai kota global harus tetap memiliki jiwa dan seni, serta budaya adalah bagian penting dari identitas itu,” tuturnya.
Tantangan teater 500 tahun Jakarta
Pementasan Putri Lopian juga menjadi momentum bagi Rano untuk memberikan tantangan baru kepada para sineas dan pelaku teater muda.
Menyambut perayaan 500 tahun Jakarta pada 2027, ia meminta sanggar dan sutradara muda menggarap pertunjukan yang mengangkat sejarah ibu kota. Salah satu peristiwa yang disebut adalah kejadian pada 1740 yang memiliki catatan penting dalam perjalanan sejarah Jakarta.
“Saya memberi tantangan kepada sutradara muda dan sanggar ini agar membuat teater bertema 500 tahun Jakarta, tahun depan, dengan menggali peristiwa sejarah penting, seperti tahun 1740. Pemprov DKI Jakarta akan membantu pembiayaannya, dan pementasan ini akan kita gelar kembali di panggung TIM,” jelas Rano.
Pemprov DKI Jakarta, lanjutnya, akan menyiapkan pendampingan dan pembiayaan penuh untuk mendukung produksi tersebut. Pementasan seni juga akan terus diintegrasikan ke dalam kalender kegiatan kebudayaan resmi.
Langkah itu diharapkan membuka lebih banyak ruang bagi sanggar kesenian untuk berkarya dan tampil secara berkelanjutan. Dengan pengelolaan yang lebih terpadu, kesempatan berkesenian tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu, tetapi dapat menjangkau lebih banyak komunitas dan anak muda.
Sembilan tahun membina anak lewat seni
Sekolah Seni Yonif menjadi salah satu contoh bagaimana pembinaan seni dapat dilakukan secara konsisten. Kepala Sekolah Seni Yonif yang juga Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta, Marulina Dewi, menjelaskan sanggar tersebut berkomitmen memberikan pendidikan seni secara gratis.
Tari, teater, dan vokal menjadi bagian dari kegiatan yang dijalankan untuk mengasah kecakapan hidup anak-anak.
Dalam pementasan Putri Lopian, lebih dari 60 anak diberi kesempatan tampil di panggung teater profesional. Mereka tidak hanya belajar teknik seni, tetapi juga nilai yang dibawa oleh cerita.
“Melalui kisah Putri Lopian Sinambela, kami tanamkan nilai keberanian, kesetiaan, dan pengorbanan kepada lebih 60 anak yang tampil secara profesional di panggung teater sesungguhnya,” kata Marulina.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemprov DKI Jakarta, Yonif 201/Jaya Yudha, para pembimbing, orang tua, serta seluruh pihak yang mendukung kegiatan tersebut.
Rano juga memberikan apresiasi terhadap kolaborasi pembinaan yang telah berjalan hampir sembilan tahun antara Sekolah Seni Yonif dan Yonif 201/Jaya Yudha.
“Saya sampaikan apresiasi yang tinggi kepada Sekolah Seni Yonif, para pembimbing, orang tua, serta jajaran TNI Yonif 201/Jaya Yudha atas kolaborasi pembinaan seni selama hampir 9 tahun ini. Ekosistem seni akan tumbuh jika anak-anak diberi ruang, didampingi dengan sabar, dan karya mereka dihargai secara luas,” ucapnya.
Panggung Putri Lopian akhirnya menjadi lebih dari sekadar tempat pertunjukan. Di sana, sejarah daerah bertemu dengan kehidupan anak-anak Jakarta. Kisah dari Dairi dibawa ke tengah masyarakat yang beragam, sementara anak-anak belajar bahwa seni bukan hanya soal tampil dan mendapat tepuk tangan.
Seni juga bisa menjadi cara untuk mengenal masa lalu, memahami nilai perjuangan, membangun karakter, dan menjaga identitas di tengah perubahan zaman.
Dari panggung kecil di TIM, pesan itu terasa sederhana: sejarah akan tetap hidup ketika generasi muda diberi kesempatan untuk menceritakannya kembali.
