32 Ribu Ormas di Jakarta Dinilai Punya Peran Jaga Ketertiban

Dokumentasi - Apel kesiapsiagaan FKDM Jakarta Barat dalam rangka pengamanan tahun baru dan Pemilu, Kamis (28/12/2023). Foto: Pempov DKI

KabarJakarta.com — Keberadaan organisasi kemasyarakatan (ormas) dinilai memiliki peran penting dalam membantu menjaga ketertiban, keamanan, dan kerukunan masyarakat di Jakarta. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) DKI Jakarta mencatat jumlah ormas di ibu kota mencapai lebih dari 32 ribu organisasi.

Analis Data dan Informasi Bakesbangpol DKI Jakarta, Bastian Widyatama, menjelaskan angka tersebut sebagai besarnya potensi masyarakat untuk ikut menjaga kondisi Jakarta tetap aman dan kondusif.

“Di Jakarta, jumlah ormas itu lebih dari 32 ribu. Meskipun yang melaporkan secara resmi tidak mencapai itu. Tetapi dengan angka 32 ribu, peran ormas juga dalam menjaga ketertiban,” kata Bastian dalam siniar yang dipantau di Jakarta, Sabtu (5/9).

Menurut Bastian, keberadaan ribuan ormas tersebut menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Ormas dinilai memiliki kedekatan langsung dengan warga sehingga dapat membantu menyampaikan berbagai informasi sekaligus menjaga suasana tetap kondusif di lingkungan masing-masing.

Bakesbangpol DKI Jakarta menjalankan peran sebagai fasilitator melalui sejumlah forum binaan. Di antaranya forum yang mewakili berbagai provinsi, perwakilan etnis, serta forum kerukunan umat beragama.

Forum-forum tersebut diharapkan menjadi ruang komunikasi untuk menjaga stabilitas keamanan dan hubungan sosial di tengah masyarakat Jakarta yang memiliki latar belakang beragam.

“Menjaga stabilitas keamanan lewat forum-forum ini penting dilakukan. Karena mereka jadi garda terdepan di masyarakat, di lapangan,” ujar Bastian.

Ia menjelaskan, Bakesbangpol juga memiliki fungsi deteksi dini. Langkah tersebut dilakukan untuk mengenali potensi persoalan di masyarakat sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

Fungsi deteksi dini dinilai penting karena Jakarta merupakan wilayah dengan dinamika sosial yang tinggi. Berbagai persoalan dapat dengan cepat berkembang apabila tidak ditangani melalui komunikasi dan pendekatan yang tepat.

Di sisi lain, Bastian mengingatkan masyarakat agar tetap kritis terhadap kebijakan pemerintah, baik yang berasal dari pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sikap kritis, menurutnya, merupakan hal yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat.

Namun, ia meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi atau isu yang dapat memicu perpecahan. Toleransi dan kemampuan menjaga komunikasi dengan kelompok lain menjadi hal penting untuk dipertahankan.

“Selama kita toleran antara satu dan yang lain, akan menjadi peluang yang sangat bagus untuk bergotong royong. Jakarta kota global akan bisa terwujud,” tegasnya.

Menurut Bastian, keberagaman yang ada di Jakarta seharusnya menjadi kekuatan. Pemerintah, ormas, dan masyarakat dapat bekerja bersama untuk menjaga keamanan sekaligus menciptakan lingkungan sosial yang lebih harmonis.

Ia menambahkan, kondisi kerukunan di Jakarta saat ini menunjukkan hasil yang positif. Jakarta bahkan mendapatkan peringkat pertama dalam Indeks Harmoni Indonesia 2025 yang dikeluarkan Kementerian Dalam Negeri.

“Kerukunan di Jakarta dihargai karena cukup baik. Harapannya, bisa kita pertahankan. Dan ke depan bisa saling bersinergi antara masyarakat dan pemerintah, maupun antarmasyarakat itu sendiri,” papar Bastian.

Capaian tersebut menjadi modal penting bagi Jakarta sebagai kota global. Tantangannya adalah mempertahankan kerukunan di tengah keberagaman dan dinamika masyarakat yang terus berkembang.

Dengan jumlah ormas yang mencapai puluhan ribu, Bakesbangpol berharap kekuatan masyarakat dapat terus diarahkan untuk membangun kolaborasi. Tidak hanya dalam menjaga keamanan, tetapi juga menciptakan kehidupan sosial yang toleran, tertib, dan saling menghargai.

Exit mobile version