KabarJakarta.com — Perubahan Jakarta yang terus bergerak membuat upaya menjaga kebudayaan Betawi tidak cukup hanya dengan mempertahankan tradisi. Adat dan budaya juga membutuhkan kelembagaan yang kuat agar mampu mengikuti perkembangan kota tanpa kehilangan akar sejarah dan identitasnya.
Hal inilah yang menjadi perhatian Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi (LAKB) setelah pengukuhan Dewan Adat. Organisasi tersebut mulai memperkuat konsolidasi internal sekaligus membangun kelembagaan agar perannya dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan Betawi dapat berjalan lebih terarah.
Ketua Dewan Adat LAKB, Fauzi Bowo, menjelaskan rapat perdana setelah pengukuhan menjadi momentum penting untuk menata organisasi dari dalam.
“Rapat perdana pascapengukuhan Dewan Adat, menjadi langkah awal dalam memperkuat konsolidasi, sekaligus membangun kelembagaan organisasi yang lebih solid,” kata Fauzi Bowo di Jakarta, Selasa (6/10).
Rapat itu tidak sekadar membahas persoalan administratif organisasi. Sejumlah agenda strategis dibicarakan, mulai dari konsolidasi, penguatan internal, hingga pemantapan peran kelembagaan LAKB.
“Seluruh agenda saling berkaitan, karena menjadi bagian dari upaya menjaga adat dan kebudayaan Betawi,” paparnya.
Bagi LAKB, penguatan organisasi menjadi kebutuhan penting di tengah perubahan Jakarta. Perkembangan kota membawa perubahan pada pola hidup, ruang sosial, hingga cara generasi muda mengenal kebudayaan daerahnya.
Atas dasar itu, kebudayaan Betawi perlu dirawat bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Jakarta saat ini.
Menyiapkan program kerja
Salah satu agenda yang mendapat perhatian dalam rapat perdana tersebut adalah persiapan Rapat Kerja LAKB. Forum ini nantinya diharapkan menjadi ruang untuk menerjemahkan visi organisasi ke dalam program yang lebih konkret.
Fauzi menyebut Rapat Kerja LAKB akan diarahkan untuk merumuskan program kerja yang terarah dan terukur. Dengan demikian, kegiatan pelestarian kebudayaan tidak berhenti pada gagasan, tetapi memiliki sasaran dan langkah yang jelas.
Forum tersebut juga diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan yang muncul seiring perubahan Jakarta. Tantangan tidak hanya berkaitan dengan pelestarian tradisi, tetapi juga bagaimana kebudayaan Betawi dapat tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat yang semakin dinamis.
“Selain agenda organisasi, rapat juga membahas sejumlah isu kebetawian yang berkembang di tengah-tengah masyarakat,” ujar Fauzi.
Pembahasan mengenai isu kebetawian menjadi penting karena lembaga adat memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai, tradisi, sejarah, identitas, dan kebudayaan Betawi. Pada saat yang sama, semua unsur tersebut perlu diberi ruang untuk berkembang dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.
Menyatukan visi organisasi
Penguatan koordinasi antarelemen organisasi menjadi bagian lain yang tidak kalah penting. LAKB membutuhkan kerja bersama agar setiap unsur di dalam organisasi memiliki pemahaman yang sama mengenai arah dan tujuan lembaga.
Koordinasi yang kuat juga diperlukan agar tidak terjadi jarak antara gagasan organisasi dengan pelaksanaannya di tengah masyarakat. Dengan kesamaan visi, setiap bagian organisasi dapat bergerak dalam arah yang sama dan menjalankan fungsi kelembagaan secara lebih optimal.
Bagi Fauzi, konsolidasi internal menjadi fondasi untuk menyusun agenda LAKB ke depan. Kelembagaan yang tertata akan memberikan ruang yang lebih kuat bagi adat dan kebudayaan Betawi untuk ikut berkembang bersama Jakarta.
Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Fauzi Bowo selaku Ketua Dewan Adat LAKB, Datuk Mualim Ahlul Adat, didampingi Wakil Ketua Dewan Adat LAKB Riano P Ahmad.
Langkah awal ini menjadi bagian dari proses yang lebih panjang. LAKB tidak hanya dituntut menjaga apa yang telah diwariskan, tetapi juga memastikan warisan tersebut tetap memiliki makna bagi generasi berikutnya.
Di tengah Jakarta yang terus berubah, kebudayaan Betawi pada akhirnya membutuhkan organisasi yang mampu menjaga akar sekaligus membuka ruang bagi pembaruan. Dengan kelembagaan yang lebih solid, program kerja yang terukur, dan koordinasi yang kuat, LAKB ingin memastikan adat dan budaya Betawi tidak sekadar menjadi simbol masa lalu.
Sebaliknya, kebudayaan Betawi diharapkan tetap hidup, relevan, dan berkembang sebagai bagian penting dari identitas masyarakat Jakarta.
