MH Thamrin, Putra Betawi yang Jejak Perjuangannya Menyatu dengan Jakarta

Patung Pahlawan Nasional MH Thamrin di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (29/4/2025). Foto: beritanasional

KabarJakarta.com — Setiap hari, ribuan kendaraan bergerak di Jalan M.H. Thamrin. Dari kawasan Patung Kuda, ruas jalan itu membelah pusat Jakarta menuju Dukuh Atas dan tersambung dengan Jalan Jenderal Sudirman.

Gedung perkantoran berdiri rapat, transportasi publik hilir mudik, pejalan kaki menyeberang, sementara berbagai kegiatan kota berlangsung hampir tanpa jeda.

Bagi banyak orang, Thamrin mungkin hanya nama jalan.

Namun, jauh sebelum nama itu menjadi salah satu boulevard utama Jakarta, Mohammad Husni Thamrin adalah seorang putra Betawi yang menggunakan politik, organisasi, dan kedekatannya dengan rakyat untuk memperjuangkan perubahan.

Namanya hari ini bukan hanya bagian dari peta Jakarta. Ia merupakan bagian dari perjalanan panjang kota dan bangsa Indonesia.

Menjelang Jakarta memasuki usia 500 tahun pada 2027, kisah MH Thamrin menjadi penting untuk kembali dibaca. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri telah menempatkan momentum lima abad sebagai kesempatan untuk melihat kembali perjalanan sejarah sekaligus menyiapkan masa depan Jakarta.

Dan di antara begitu banyak nama yang membentuk perjalanan kota ini, Thamrin memiliki tempat tersendiri.

Mohammad Husni Thamrin dilahirkan pada tanggal 16 Februari 1894 di Sawah Besar, Pinggiran kota Batavia. Ayahnya bernama Thamrin Mohamad Thabrie, yang pernah menjadi Wedana Batavia 1908. Foto; budaya.jogjaprov.go.id

Dari Batavia, perjuangan itu dimulai

Mohammad Husni Thamrin lahir di Batavia pada 16 Februari 1894. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang relatif terpandang. Namun, kedekatannya dengan kehidupan masyarakat membuat perhatiannya tidak berhenti pada lingkungan keluarga dan kedudukan sosialnya.

Thamrin kemudian memasuki dunia pemerintahan dan politik. Ia menjadi anggota Gemeenteraad, atau Dewan Kota Batavia. Dari sinilah perjalanan politiknya mulai berkembang.

Yang menarik, perjuangan Thamrin sejak awal tidak hanya berbicara mengenai politik dalam arti sempit. Ia memperhatikan persoalan yang langsung dirasakan masyarakat, terutama kondisi kampung, sanitasi, saluran air, irigasi, dan lingkungan.

Pada masa itu, persoalan tersebut bukan sekadar masalah teknis. Lingkungan yang buruk berhubungan langsung dengan kesehatan dan kualitas hidup warga.

Karena itu, Thamrin dikenal sebagai orang yang tidak hanya berbicara di ruang rapat. Ia melihat persoalan masyarakat dan membawa masalah tersebut ke ruang politik.

Jejak pemikirannya masih dapat dilihat dari berbagai catatan sejarah tentang dirinya. Direktorat Pelindungan Kebudayaan mencatat Thamrin sebagai tokoh yang memperjuangkan kepentingan rakyat kecil melalui jalur parlemen pada masa pemerintahan kolonial.

Di titik inilah terlihat salah satu karakter penting perjuangan Thamrin: politik baginya bukan sekadar perebutan posisi, tetapi alat untuk memperbaiki kehidupan masyarakat.

M HusniThamrin bersama teman-temannya saat di Volksraad atau Dewan Rakyat yang digunakan sebagai sarana menyampaikan persoalan masyarakat pribumi. Foto: KITLV

Suara Betawi masuk ruang politik

Perjalanan Thamrin kemudian berlanjut ke Volksraad atau Dewan Rakyat. Lembaga tersebut memang berada dalam sistem pemerintahan kolonial Belanda. Namun, bagi Thamrin, ruang itu dapat digunakan untuk menyampaikan persoalan masyarakat pribumi.

Ia semakin lantang menyampaikan kritik terhadap kebijakan kolonial.

Thamrin juga terlibat dalam gerakan politik yang lebih luas. Pada 1939, ia menjadi salah satu tokoh penting dalam Gabungan Politik Indonesia atau GAPI yang membawa gagasan “Indonesia Berparlemen”.

Gagasan itu menunjukkan bahwa perjuangannya telah bergerak melampaui kepentingan satu kelompok masyarakat. Ia mendorong adanya ruang politik yang memberikan keterwakilan lebih besar kepada rakyat Indonesia.

Dalam perjuangannya, identitas juga menjadi bagian penting.

Thamrin pernah mengusulkan penggunaan istilah “Indonesia” untuk menggantikan istilah kolonial seperti Nederlands Indie dan Inlander. Usulan tersebut tidak diterima pemerintah Belanda. Namun, secara politik, sikap tersebut memperlihatkan bagaimana ia berusaha mendorong penggunaan identitas yang mencerminkan kesadaran kebangsaan.

Dengan demikian, Thamrin berada pada persimpangan penting: ia seorang tokoh Betawi, tetapi perjuangannya berkembang menjadi perjuangan kebangsaan.

Lalu lintas di Jalan MH Thamrin terpantau lancar meski aksi mahasiswa dari BEM SI di Patung Kuda Arjuna Wiwaha telah berlangsung, Selasa (20/10/2020). Foto: ANTARA

Betawi, Jakarta dan Indonesia

Salah satu hal yang membuat sosok Thamrin menarik untuk dibaca kembali menjelang lima abad Jakarta adalah kemampuannya menghubungkan kepentingan lokal dengan gagasan kebangsaan.

Ia tidak meninggalkan identitas Betawinya ketika memasuki arena politik nasional. Sebaliknya, identitas tersebut menjadi bagian dari perjuangannya.

Thamrin mendirikan Perkumpulan Kaoem Betawi. Organisasi tersebut menjadi salah satu wadah bagi masyarakat Betawi untuk memiliki keterwakilan dan ikut dalam dinamika pergerakan kebangsaan.

Sejarah mencatat, kiprah Thamrin juga berkaitan dengan berbagai kegiatan pergerakan nasional. Bahkan, rumah yang dibelinya pada 1929 kemudian dihibahkan kepada Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia. Gedung tersebut menjadi tempat berlangsungnya berbagai pertemuan politik dan kegiatan pergerakan.

Di tempat itu pula, sejarah mencatat salah satu momen penting perjalanan kebudayaan Indonesia: lagu Indonesia Raya karya W.R. Supratman pernah diperdengarkan secara instrumental.

Artinya, jejak Thamrin tidak hanya terdapat di parlemen. Ada ruang-ruang pertemuan, organisasi, kampung, fasilitas publik, hingga kebudayaan yang ikut bersinggungan dengan perjalanan hidupnya.

Bagi Jakarta, sepak bola memiliki hubungan kuat dengan identitas kota. Dan di balik sejarah awal Persija Jakarta, terdapat nama MH Thamrin. Foto: Tempo

Dari politik ke sepak bola rakyat

Ada sisi lain dari Thamrin yang mungkin tidak langsung terhubung dengan citra seorang politisi: sepak bola.

Bagi Jakarta, sepak bola memiliki hubungan kuat dengan identitas kota. Dan di balik sejarah awal Persija Jakarta, terdapat nama Thamrin.

Persija mencatat bahwa cikal bakal klub tersebut lahir pada 1928. Organisasi awalnya bernama Voetbalbond Boemipoetera (VBB), kemudian berganti nama menjadi Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ) pada 1929. Lapangan Petojo menjadi salah satu tempat penting dalam perjalanan awal klub tersebut.

Sejumlah catatan mengenai Thamrin juga menyebut keterlibatannya dalam perkembangan sepak bola pribumi dan pembangunan fasilitas olahraga bagi masyarakat. Ini memperlihatkan sisi lain dari pemikirannya.

Bagi Thamrin, membangun masyarakat tidak selalu harus melalui pidato politik. Ruang olahraga dan fasilitas publik juga dapat menjadi bagian dari kehidupan warga.

Karena itu, ketika membicarakan Thamrin, kita sebenarnya sedang membicarakan seorang tokoh yang bergerak di banyak bidang: politik, sosial, lingkungan, organisasi masyarakat, kebudayaan, hingga olahraga.

Patung Pahlawan Nasional MH Thamrin di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (29/4/2025). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memindahkan patung tersebut ke Museum MH Thamrin dan akan membuat patung baru dengan pose MH Thamrin yang sedang berpikir. Foto: beritanasional

Perjuangan berakhir di masa kolonial

Sikap politik Thamrin membuat pemerintah kolonial semakin mencurigainya.

Pada 6 Januari 1941, ia dikenai tahanan rumah dan dilarang menerima kunjungan. Lima hari kemudian, pada 11 Januari 1941, Thamrin meninggal dunia dalam usia 46 tahun.

Indonesia baru memproklamasikan kemerdekaan lebih dari empat tahun kemudian. Thamrin tidak pernah menyaksikan pengibaran Merah Putih pada 17 Agustus 1945.

Namun, gagasan yang diperjuangkannya mengenai keterwakilan rakyat, identitas Indonesia dan kehidupan masyarakat telah menjadi bagian dari perjalanan menuju Indonesia merdeka.

Negara kemudian menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional. Namanya pun diabadikan di berbagai tempat, termasuk jalan utama yang kini menjadi salah satu wajah modern Jakarta.

Jalan MH Thamrin Menteng, Jakarta Pusat. Foto: Wikipedia

Yang tak sekadar menjadi nama jalan

Ada ironi yang menarik. Setiap hari, masyarakat melewati Jalan M.H. Thamrin dengan kendaraan, bus, kereta, atau berjalan kaki. Sebagian mungkin tidak lagi bertanya siapa sosok yang namanya terpampang di sana.

Padahal, kawasan itu kini berada di tengah Jakarta yang sangat berbeda dari Batavia pada masa Thamrin.

Dulu, ia berbicara tentang kampung, sanitasi, keterwakilan rakyat dan identitas bangsa di tengah kekuasaan kolonial. Kini, Jalan Thamrin menjadi bagian dari pusat bisnis, pemerintahan, transportasi, perdagangan, dan aktivitas masyarakat modern.

Perubahan itu menggambarkan perjalanan Jakarta sendiri.

Dari kota pelabuhan, Batavia, menjadi ibu kota republik dan kemudian bergerak menuju peran sebagai kota global. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebut Jakarta akan genap berusia 500 tahun pada 2027, sebuah momentum yang juga diarahkan untuk memperkuat identitas budaya kota di tengah perubahan zaman.

Di tengah proses itu, sejarah Thamrin memberikan satu pelajaran sederhana: kota bukan hanya tentang gedung dan jalan, tetapi juga tentang manusia yang pernah memperjuangkan kehidupan di dalamnya.

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Masyarakat Jakarta Mohammad Husni Thamrin (Permata MHT) mengadakan ziarah dan tabur bunga di makam Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di TPU Karet Bivak, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (22/6/2026). Foto: beritajakarta

Menjaga warisan, bukan sekadar mengenangnya

Semangat tersebut masih sering dihidupkan melalui berbagai kegiatan. Pada 22 Juni 2026, misalnya, DPP Persatuan Masyarakat Jakarta Mohammad Husni Thamrin (Permata MHT) menggelar ziarah dan tabur bunga di makam Thamrin di TPU Karet Bivak.

Kegiatan itu menjadi bagian dari peringatan HUT ke-50 Permata MHT sekaligus HUT ke-499 Jakarta.

Dalam kegiatan tersebut, sejarah perjuangan Thamrin kembali dipaparkan, termasuk kiprahnya sebagai anggota Dewan Kota Batavia, Volksraad, tokoh Kaum Betawi, serta perjuangannya membela rakyat kecil.

Pesan yang muncul dari kegiatan semacam itu sebenarnya sederhana: warisan seorang pahlawan tidak cukup hanya disimpan dalam buku sejarah atau nama jalan.

Pada Januari 2026, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bersama Fauzi Bowo juga berziarah ke makam Thamrin dalam haul ke-85. Dalam kesempatan itu, keduanya menyampaikan bahwa jasa Thamrin melampaui identitas Betawi dan Jakarta.

Pandangan tersebut penting karena Thamrin memang lahir dari Jakarta dan berakar pada masyarakat Betawi, tetapi gagasan perjuangannya berkembang menjadi bagian dari sejarah Indonesia.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menghadiri haul ke-85 sekaligus ziarah makam Pahlawan Nasional Mohammad Husni (M.H.) Thamrin di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, Minggu (11/1). Kegiatan itu bentuk penghormatan atas jasa besar M.H. Thamrin bagi masyarakat Betawi dan bangsa Indonesia. Foto: Pemprov DKI

MH Thamrin dan Jakarta yang berusia 5 abad

Menjelang lima abad Jakarta, pertanyaan tentang masa depan kota tentu akan semakin besar.

Bagaimana Jakarta menjadi kota global tanpa kehilangan identitasnya? Bagaimana pembangunan dapat tetap memperhatikan warga? Bagaimana budaya Betawi tetap hidup di tengah gedung pencakar langit dan perubahan demografi? Dan bagaimana generasi muda mengenal sejarah kotanya sendiri?

Tidak ada jawaban sederhana untuk pertanyaan tersebut. Namun, perjalanan MH Thamrin menawarkan sebuah titik awal untuk merenung.

Ia menunjukkan bahwa kecintaan terhadap kota tidak harus diwujudkan melalui nostalgia. Kecintaan terhadap Jakarta dapat diterjemahkan menjadi keberanian memperjuangkan kepentingan warga, menjaga ruang publik, memperkuat kebudayaan, membuka kesempatan bagi masyarakat dan memastikan pembangunan memberi manfaat yang lebih luas.

Itulah sebabnya nama M.H. Thamrin terasa lebih dari sekadar nama boulevard. Di jalan yang setiap hari dipenuhi kendaraan dan manusia itu, tersimpan ingatan tentang seorang putra Betawi yang hidup jauh sebelum Jakarta menjadi kota metropolitan seperti sekarang.

Thamrin mungkin telah lama meninggal. Tetapi namanya terus berjalan bersama Jakarta.

Dan ketika kota ini bersiap memasuki usia 500 tahun pada 2027, mengenang MH Thamrin bukan semata-mata melihat ke masa lalu. Ia adalah cara untuk memahami dari mana Jakarta berasal, siapa yang pernah memperjuangkannya, dan nilai apa yang seharusnya tetap dibawa ketika kota ini melangkah menuju lima abad berikutnya.

Karena pada akhirnya, sebuah kota tidak hanya dibangun oleh beton, jalan dan gedung. Kota juga dibangun oleh ingatan, perjuangan, dan orang-orang yang memilih meninggalkan sesuatu yang lebih panjang daripada usia mereka sendiri.

Exit mobile version