KabarJakarta.com – Pengamat dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menilai keberadaan jalur sepeda di kawasan perkotaan tidak bisa dilihat hanya dari pertanyaan, apakah fasilitas tersebut diperlukan atau tidak. Efektivitas jalur sepeda sangat bergantung pada fungsi, perencanaan, integrasi dengan moda lain, serta keseriusan pemerintah dalam mengelolanya.
“Pertanyaan tentang perlu atau tidaknya jalur sepeda di kawasan perkotaan, tidak bisa dijawab sekadar ya atau tidak. Melainkan tergantung pada fungsi, integrasi, dan komitmen pengelolaannya,” kata Djoko di Jakarta, Sabtu (15/7).
Djoko menjelaskan pembangunan jalur sepeda tanpa perencanaan yang jelas justru berisiko membuat fasilitas tersebut tidak dimanfaatkan secara maksimal. Jalur sepeda, tidak seharusnya dibangun hanya untuk memenuhi kebutuhan formalitas atau sekadar menunjukkan bahwa sebuah kota memiliki fasilitas bagi pesepeda.
Sebaliknya, jalur sepeda yang dirancang berdasarkan kebutuhan mobilitas warga dapat menjadi investasi jangka panjang bagi sistem transportasi perkotaan. Keberadaannya juga dapat memberikan manfaat yang lebih luas, terutama dari sisi keselamatan pengguna jalan.
Djoko menjelaskan jalur khusus dapat memisahkan pesepeda dari kendaraan bermotor yang melaju dengan kecepatan tinggi. Pemisahan ruang tersebut penting untuk mengurangi risiko kecelakaan yang dapat berakibat fatal.
Selain meningkatkan keselamatan, penggunaan sepeda juga dinilai dapat membantu mengurangi kemacetan. Sepeda dapat menjadi pilihan untuk perjalanan jarak dekat, sehingga masyarakat tidak selalu harus menggunakan kendaraan bermotor pribadi.
Peralihan tersebut juga berpotensi memberikan manfaat terhadap kualitas udara. Berkurangnya penggunaan kendaraan bermotor dapat membantu menekan emisi karbon, termasuk karbon dioksida (CO2), serta polutan udara seperti PM2.5.
Menurut Djoko, tersedianya jalur sepeda yang aman dan nyaman juga akan mendorong masyarakat menjalani pola hidup yang lebih aktif. Fasilitas tersebut sekaligus memberikan pilihan mobilitas bagi warga yang tidak memiliki atau tidak ingin menggunakan kendaraan bermotor pribadi.
Namun, salah satu fungsi penting jalur sepeda yang perlu diperhatikan adalah keterhubungannya dengan transportasi publik. Djoko menyebut sepeda dapat berperan sebagai moda pengumpan untuk perjalanan awal dan akhir atau first mile dan last mile.
“Sepeda merupakan moda pengumpan atau feeder ideal yang menghubungkan kawasan permukiman dengan stasiun (halte transportasi massal), seperti Commuter Line, MRT, LRT, hingga TransJakarta,” ujar Djoko.
Ia menilai integrasi tersebut dapat membuat perpindahan moda menjadi lebih mudah. Warga bisa menggunakan sepeda dari rumah menuju stasiun atau halte, kemudian melanjutkan perjalanan dengan transportasi massal tanpa harus membawa kendaraan pribadi.
Dari sisi penggunaan ruang jalan, sepeda juga dinilai lebih efisien dibandingkan mobil pribadi. Kendaraan dengan satu penumpang atau single-occupancy vehicle membutuhkan ruang yang jauh lebih besar, sehingga dominasi kendaraan tersebut dapat memperburuk kepadatan lalu lintas perkotaan.
Karena itu, Djoko menekankan pembangunan jalur sepeda perlu ditempatkan sebagai bagian dari sistem transportasi, bukan fasilitas yang berdiri sendiri. Perencanaan yang terintegrasi akan menentukan apakah jalur sepeda benar-benar menjadi solusi mobilitas atau hanya menjadi infrastruktur yang kurang dimanfaatkan masyarakat.






