KabarJakarta.com – Hingar-bingar musik, permainan cahaya, dan antusiasme warga mewarnai malam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di kawasan Taman Fatahillah, Museum Sejarah Jakarta, Senin (17/8).
Kawasan bersejarah itu malam itu tampil dengan suasana berbeda. Bangunan-bangunan tua yang selama ini menjadi saksi perjalanan Jakarta berpadu dengan teknologi visual dan pertunjukan seni. Warga yang datang tidak hanya menikmati hiburan, tetapi juga merasakan bagaimana sejarah dan kreativitas dapat bertemu dalam satu ruang.
Suasana tersebut menjadi bagian dari acara “Gegap Gempita Kota Tua, Global Vibes Merdeka: Jakarta Rayakan HUT ke-81 RI dengan Semangat Nasionalisme dan Kreativitas” yang digelar Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta.
Kegiatan tersebut berlangsung sejak Sabtu (15/8). Sejumlah agenda disiapkan untuk memeriahkan perayaan kemerdekaan, mulai dari video mapping bertema kemerdekaan hingga penampilan musisi dan kelompok seni.
Kepala Disparekraf DKI Jakarta, Andhika Permata, mengungkapkan perayaan tersebut menjadi cara untuk membawa semangat kemerdekaan ke dalam wajah Jakarta yang terus berkembang sebagai kota global.
“Melalui Gegap Gempita Kota Tua, kami ingin menghadirkan sebuah ruang yang mempertemukan sejarah, budaya, kreativitas, teknologi, dan masyarakat dalam satu perayaan,” ujar Andhika, Senin (17/8).
Menurut dia, Jakarta sebagai kota global tidak cukup hanya tampil modern dan kompetitif. Perkembangan tersebut tetap harus berjalan dengan menjaga identitas kota yang dibangun dari sejarah, budaya, serta semangat kebersamaan masyarakat.
“Inilah semangat Jakarta sebagai kota global: modern dan kompetitif, namun tetap berakar pada sejarah, budaya, serta semangat gotong royong,” jelasnya.
Perayaan di Kota Tua juga menjadi upaya menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan melalui cara yang lebih dekat dengan generasi masa kini. Teknologi digunakan untuk mengemas cerita sejarah agar dapat dinikmati dalam bentuk yang lebih menarik.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah Instalasi “Trilogi Cahaya Fatahillah” dan video mapping “Jakarta in Motion” yang diproyeksikan pada fasad Museum Fatahillah.
Cahaya dan gambar bergerak membuat bangunan bersejarah tersebut seolah memiliki wajah baru. Namun, kehadiran teknologi tidak menghilangkan karakter kawasan. Sebaliknya, teknologi justru digunakan untuk memperkuat daya tarik warisan sejarah di tengah perkembangan zaman.
“Penampilan video itu merupakan perpaduan cahaya, teknologi, seni, dan arsitektur bersejarah yang menghadirkan wajah baru Kota Tua, sekaligus memperlihatkan bagaimana warisan masa lalu bisa dikemas melalui pendekatan kreatif yang relevan dengan masyarakat masa kini,” jelas Andhika.
Tidak hanya pertunjukan visual, panggung hiburan juga diisi sejumlah talenta, seperti Ndarboy Genk, Pasming Based, Jakarta Movin, Okay Okay, dan Skarbu. Penampilan mereka menambah semarak suasana malam kemerdekaan sekaligus menarik perhatian warga dan wisatawan.
Sebagai penutup, acara menghadirkan “Orkes Jingga”, pertunjukan yang menggabungkan talenta nasional dengan permainan teknologi cahaya dalam sebuah sajian kolaboratif.
Andhika menyebut pertunjukan tersebut menggambarkan perkembangan kreativitas Indonesia yang mampu mengikuti zaman tanpa harus meninggalkan identitasnya.
“Pertunjukan itu menjadi simbol energi kreatif Indonesia yang terus tumbuh dan mampu hadir dalam format modern, serta memiliki daya tarik bagi masyarakat luas maupun wisatawan,” tandasnya.
Malam itu, Kota Tua tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pesta kemerdekaan. Kawasan tersebut menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa kini—ketika sejarah, seni, teknologi, dan masyarakat berpadu merayakan kemerdekaan dalam satu denyut Jakarta.






