KabarJakarta.com — Jakarta sedang mengejar ambisi menjadi kota global. Gedung tinggi, investasi, transportasi modern, dan berbagai agenda internasional terus mengisi wajah ibu kota.
Namun, ada satu pekerjaan yang tak kalah penting: memastikan anak-anak muda Jakarta tetap memiliki ruang untuk bersuara. Salah satu ruang itu hadir di panggung teater.
Melalui Festival Teater Pelajar 2026, Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta bersama Yayasan Teater Jakarta Pusat dan Lembaga Teater Jakarta mempertemukan puluhan kelompok teater pelajar dari berbagai wilayah Jakarta. Mereka tidak sekadar berkompetisi memperebutkan piala. Di atas panggung, para pelajar belajar menyampaikan gagasan, bekerja dalam tim, menghadapi penonton, dan berani menunjukkan cara mereka melihat dunia.
Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Mochamad Miftahulloh Tamary menjelaskan keberadaan festival tersebut penting untuk memberi ruang kepada generasi muda menghasilkan karya dan mengekspresikan kreativitas.
“Jakarta butuh karya dan ekspresi para pelajar dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang berbudaya,” kata Miftahulloh di Jakarta, Rabu (23/9).
Menurut dia, teater mengajarkan lebih dari sekadar seni pertunjukan. Anak-anak belajar mengolah gagasan, bekerja sama, disiplin, sekaligus berani menyampaikan ekspresi dan pandangan.
Di situlah persoalan kebudayaan menjadi lebih nyata. Kota global bukan hanya soal bagaimana sebuah kota terlihat dari luar, tetapi juga bagaimana warganya memiliki ruang untuk menciptakan dan menyampaikan kebudayaan dari dalam.
Panggung tak datang dengan sendirinya
Festival Teater Anak (FTA) menjadi salah satu pintu masuknya. Digelar pada 1–14 September 2026 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki dan Gedung Kesenian Miss Tjitjih, festival ini melibatkan 24 sanggar teater anak dari berbagai wilayah Jakarta.
Mereka kemudian melewati rangkaian pertunjukan hingga pengumuman pemenang pada 14 September di Gedung Kesenian Miss Tjitjih.
Untuk pelajar SMA, panggungnya berada dalam Festival Teater Pelajar (FTP) 2026 yang berlangsung pada 10–20 September di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki. Sebanyak 15 grup mengikuti festival tersebut.
Peserta FTP merupakan juara pertama, kedua, dan ketiga dari festival tingkat wilayah kota administrasi Jakarta. Mereka membawa pengalaman dari panggung masing-masing untuk berkompetisi di tingkat provinsi.
Penganugerahan pemenang berlangsung pada 22 September di Gedung Kesenian Jakarta.
Yang menarik, dukungan festival tidak berhenti pada penyediaan panggung. Seluruh peserta FTA dan FTP mendapatkan bantuan biaya produksi untuk mempersiapkan pertunjukan.
Para pemenang dan penerima kategori terbaik mendapatkan uang pembinaan, piala, dan sertifikat. Penghargaan diberikan antara lain untuk Grup Terbaik 1, 2, dan 3, Grup Terbaik Harapan 1 dan 2, serta sejumlah kategori individu dan grup terbaik.
Dukungan biaya produksi menjadi bagian penting karena pertunjukan teater membutuhkan lebih dari sekadar aktor. Ada naskah, latihan, tata panggung, kostum, properti hingga produksi pertunjukan.
Tanpa dukungan semacam itu, ruang ekspresi bisa dengan mudah menjadi milik mereka yang memiliki akses dan sumber daya lebih besar.
Belajar berbeda melalui teater
Sekretaris Komisi E DPRD DKI Jakarta Justin Adrian Untayana mengungkapkan pengenalan teater sejak usia dini dapat membantu membangun karakter anak dan pelajar.
Menurut dia, proses teater mengajarkan kepercayaan diri, komunikasi, kerja sama, tanggung jawab, serta kemampuan menghargai proses dan perbedaan.
“Manfaat festival tidak selesai ketika pemenang diumumkan,” katanya. Bagi sebagian peserta, pengalaman berada di atas panggung bisa menjadi bekal untuk kehidupan di luar panggung.
Mereka belajar bahwa satu pertunjukan tidak mungkin dikerjakan sendirian. Ada aktor yang harus mendengarkan sutradara, pemain yang harus menyesuaikan diri dengan lawan main, dan seluruh tim yang harus bekerja dengan disiplin agar pertunjukan berjalan.
Nilai-nilai tersebut justru semakin penting ketika Jakarta bersiap memasuki usia lima abad pada 2027.
Miftahulloh berharap ruang kreativitas bagi generasi muda terus diperluas. Festival teater, kata dia, diharapkan menjadi wadah berkelanjutan untuk melahirkan generasi yang memiliki apresiasi terhadap seni dan budaya sekaligus berkontribusi pada perkembangan Jakarta sebagai kota global.
“Semangat menuju 5 abad Jakarta harus diiringi dengan produksi karya dan kreativitas generasi mudanya,” ujarnya.
Justin juga berharap Festival Teater Pelajar dapat diselenggarakan setiap tahun agar semakin banyak pelajar mendapatkan kesempatan mengenal dan mengembangkan seni teater.
Sebab, kota yang ingin disebut global tidak cukup hanya memiliki panggung untuk pertunjukan besar. Ia juga membutuhkan panggung kecil tempat anak-anak belajar berbicara, mendengar, berbeda pendapat, dan menciptakan karya.
Di panggung itulah kebudayaan tidak hanya dipertontonkan. Ia tumbuh, diperdebatkan, dan diwariskan oleh generasi berikutnya.






