KabarJakarta.com — Jakarta terus bergerak menuju status sebagai kota global. Gedung-gedung tinggi, pusat bisnis, transportasi modern, hingga konektivitas internasional menjadi bagian dari wajah baru ibu kota. Namun, di tengah perubahan itu, ada satu hal yang dinilai tidak boleh ikut berubah: kebersamaan masyarakat yang hidup dalam keberagaman.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengingatkan, kemajuan Jakarta tidak cukup hanya diukur dari pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi. Identitas masyarakat yang beragam juga harus tetap menjadi kekuatan kota.
“Jakarta boleh menjadi kota global, tapi kebersamaan dan keberagaman masyarakat haruslah tetap menjadi kekuatan kita,” kata Rano Karno di Balai Kota Jakarta, Rabu (23/9).
Menurut Rano, keberagaman dan kebudayaan merupakan bagian penting dari perjalanan Jakarta menuju kota global. Sejak dahulu, Jakarta menjadi tempat bertemunya masyarakat dari berbagai daerah dengan latar belakang suku, budaya, agama, dan kehidupan sosial yang berbeda.
Karena itu, perubahan wajah kota perlu berjalan bersama dengan upaya mempertahankan karakter masyarakatnya.
Jakarta sebagai kota global, kata Rano, tidak seharusnya membuat hubungan sosial antarwarga semakin renggang. Sebaliknya, kemajuan kota harus membuka lebih banyak ruang bagi masyarakat untuk berinteraksi, saling memahami, dan menjaga kehidupan bersama.
Dalam konteks tersebut, Rano juga mendorong perempuan untuk terus mengambil peran dalam memperkuat kehidupan sosial dan keagamaan. Salah satu kelompok yang dinilai memiliki peran penting adalah Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT).
Organisasi tersebut selama ini menjadi penghubung majelis taklim yang tersebar di berbagai daerah. Menurut Rano, keberadaan BKMT menunjukkan bahwa aktivitas keagamaan di tingkat masyarakat tidak berdiri sendiri, melainkan memiliki jaringan yang menghubungkan berbagai komunitas.
“Kalau majelis taklim di kampung-kampung banyak. Di setiap daerah ada. Tapi bagaimana majelis taklim ini bisa ada di Indonesia? Karena ada Badan Kontak Majelis Taklim,” ujarnya.
Bagi Rano, keberadaan majelis taklim juga tidak sebatas tempat masyarakat mempelajari ilmu agama. Ada fungsi sosial yang tidak kalah penting di dalamnya.
Majelis taklim menjadi ruang bagi warga untuk bertemu, mendengarkan orang lain, menyampaikan pendapat, sekaligus membangun hubungan sosial. Interaksi semacam itu menjadi penting di tengah masyarakat perkotaan yang semakin sibuk dan individualistis.
Dari ruang-ruang komunitas itulah kebersamaan dapat terus dirawat. Masyarakat tidak hanya hadir sebagai individu, tetapi juga sebagai bagian dari lingkungan sosial yang saling membutuhkan.
Nilai tersebut dinilai relevan dengan karakter Jakarta. Sebagai kota yang dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang, kehidupan ibu kota sejak lama dibentuk oleh perjumpaan dan interaksi antarkelompok.
Kini, ketika Jakarta bersiap memperkuat posisinya sebagai kota global, tantangannya bukan sekadar bagaimana menjadi modern dan kompetitif. Jakarta juga perlu memastikan bahwa masyarakatnya tetap memiliki ruang untuk hidup berdampingan.
Kota global pada akhirnya bukan hanya tentang gedung pencakar langit, investasi, atau teknologi. Ada kehidupan warga yang menjadi fondasinya. Jika keberagaman dan kebersamaan tetap dijaga, perubahan Jakarta tidak hanya menghasilkan kota yang maju, tetapi juga kota yang tetap memiliki karakter.






