KabarJakarta.com — Minggu pagi, 27 September 2026, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, tampil dengan wajah yang berbeda. Jalan yang biasanya dipenuhi kendaraan dan kesibukan warga berubah menjadi ruang terbuka tempat orang berjalan, berolahraga, menikmati pertunjukan seni, sekaligus saling menyapa.
Di tengah suasana Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB), sekitar 500 peserta mengikuti Jakarta Penuh Warna (JPW) Edisi 3 Tahun 2026. Mengusung tema “Harmoni dalam Keberagaman”, kegiatan ini menghadirkan beragam seni dan budaya Nusantara dalam satu ruang yang dapat dinikmati masyarakat.
Pagi itu, batas antara warga yang datang untuk berolahraga dan mereka yang ingin menikmati hiburan terasa lebih cair. Orang-orang berjalan santai, berhenti menyaksikan parade budaya, berfoto, atau sekadar berbincang dengan orang di sekitarnya.
Ruang jalan yang biasanya identik dengan kendaraan seolah berubah fungsi menjadi ruang perjumpaan.
Wali Kota Jakarta Selatan Syafrin Liputo menjelaskan, perubahan suasana tersebut menjadi salah satu makna penting dari pelaksanaan HBKB.
“Jalan HR Rasuna Said yang biasanya dipenuhi kendaraan dan kesibukan, berubah jadi ruang bersama. Ruang tempat kita bisa berjalan pelan, bertegur sapa, sembari menikmati kota tanpa terburu-buru,” ujar Syafrin di Pelataran Plaza Festival Kuningan, Minggu (27/9).
Bagi Syafrin, HBKB bukan sekadar kegiatan untuk mengurangi penggunaan kendaraan bermotor pada waktu tertentu. Lebih dari itu, kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada warga untuk kembali menikmati ruang publik secara langsung.
Jalan yang sehari-hari menjadi jalur mobilitas berubah menjadi tempat warga bertemu tanpa sekat. “Inilah semangat dari Hari Bebas Kendaraan Bermotor, mengembalikan jalan kepada warganya,” katanya.
Menurut dia, perubahan fungsi ruang tersebut juga membawa manfaat lingkungan. Ketika kendaraan bermotor dibatasi, masyarakat memiliki kesempatan menikmati suasana kota dengan udara yang lebih segar sambil melakukan berbagai aktivitas fisik.
Merayakan Jakarta lewat keberagaman
Semangat berbagi ruang itu kemudian berpadu dengan perayaan budaya dalam JPW. Olahraga bersama menjadi pembuka, disusul parade budaya, tarian Nusantara, pertunjukan ondel-ondel, musik, hingga gerakan Jakarta Penuh Warna Pilah Sampah.
Panggung hiburan turut menghadirkan sejumlah penampil, antara lain Ayu Ting Ting, Lulu Mudita, 3 Composers, dan Nauc. Ada pula body combat serta Jakarta Drum Corps yang menambah suasana meriah di kawasan tersebut.
Namun, kemeriahan JPW tidak hanya terletak pada panggung hiburan. Kehadiran beragam bentuk seni menjadi cara untuk mempertemukan warga Jakarta yang memiliki latar belakang berbeda.
Tema “Harmoni dalam Keberagaman” menjadi gambaran Jakarta sebagai kota yang dihuni masyarakat dari berbagai penjuru Nusantara. Mereka membawa bahasa, adat, tradisi, dan kesenian masing-masing.
Syafrin mengingatkan bahwa keberagaman tersebut bukan sekadar tema acara.
“Jakarta merupakan rumah bagi warga dari seluruh penjuru Nusantara dengan bahasa, adat, dan kesenian yang memang berbeda-beda,” ujarnya.
Karena itu, perjumpaan di ruang publik menjadi penting. Di tengah kehidupan kota yang serba cepat, kesempatan untuk berjalan bersama, bertegur sapa, dan menyaksikan pertunjukan budaya secara langsung menjadi pengalaman yang semakin bernilai.
Memindahkan kemeriahan ke ruang yang lebih luas
JPW Edisi 3 juga menandai upaya Pemprov DKI Jakarta memperluas jangkauan kegiatan kebudayaan. Sebelumnya, kegiatan serupa digelar di kawasan Bundaran Hotel Indonesia.
Pemindahan lokasi ke Jalan HR Rasuna Said membuat kemeriahan JPW hadir di ruang publik yang berbeda. Bagi Pemprov DKI, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap kegiatan seni dan budaya.
“Hal ini merupakan upaya memperluas jangkauan kemeriahan, dan sukacita warga Jakarta menuju Jakarta 5 Abad,” kata Syafrin.
Pada akhirnya, JPW bukan hanya tentang panggung, tarian, musik, atau parade. Di balik kemeriahan itu terdapat pesan sederhana: kota juga membutuhkan ruang untuk warganya saling bertemu.
Ketika kendaraan menepi dan jalan dibuka untuk manusia, Jakarta sejenak menunjukkan wajah lain. Warga tidak hanya menjadi pengguna jalan, tetapi juga menjadi bagian dari ruang bersama—berjalan, tertawa, menikmati pertunjukan, menjaga kebersihan, dan saling menyapa.
Di situlah makna “Harmoni dalam Keberagaman” menemukan bentuknya: bukan sekadar slogan di panggung, melainkan perjumpaan warga yang terjadi di tengah ruang kota.






