Dari Air Bersih ke Destinasi Wisata, Rano Karno Petakan Masa Depan Kepulauan Seribu

Wagub DKI Jakarta, Rano Karno melakukan kunjungan kerja ke Pulau Tidung dan Pulau Untung Jawa, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Foto: beritajakarta

KabarJakarta.com —  Kepulauan Seribu tidak hanya membutuhkan destinasi wisata yang menarik. Di balik pantai, dermaga, dan aktivitas wisatawan, ada kebutuhan dasar yang harus dipastikan berjalan: air bersih, listrik, internet, serta infrastruktur pendukung lainnya.

Persoalan itu terlihat ketika Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta Rano Karno melakukan kunjungan kerja ke Pulau Untung Jawa dan Pulau Tidung, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Jumat (25/9). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari belanja masalah untuk mematangkan arah pengembangan pariwisata Kepulauan Seribu.

Di Pulau Untung Jawa, perhatian Rano tertuju pada fasilitas Sea Water Reverse Osmosis (SWRO). Teknologi ini menjadi salah satu sumber penyediaan air bersih bagi masyarakat pulau. Namun, kapasitas yang tersedia kini dinilai mulai menghadapi tantangan seiring pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kunjungan wisatawan.

Air laut jadi sumber air bersih

SWRO bekerja dengan mengolah air laut melalui proses reverse osmosis. Air laut didorong melewati membran khusus untuk memisahkan garam dan berbagai kandungan lain sehingga menghasilkan air yang dapat digunakan untuk kebutuhan masyarakat.

Bagi wilayah kepulauan yang tidak memiliki sumber air tawar melimpah, fasilitas seperti ini memiliki peran penting. Air bersih bukan sekadar kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menjadi bagian dari sistem pendukung pariwisata.

Semakin banyak wisatawan yang datang, semakin besar pula kebutuhan air untuk penginapan, restoran, fasilitas umum, serta aktivitas masyarakat. Karena itu, kemampuan produksi air bersih harus mengikuti perkembangan kawasan.

Rano melihat persoalan tersebut secara langsung ketika mengunjungi SWRO di Pulau Untung Jawa. Menurut dia, kapasitas produksi air bersih dari fasilitas tersebut sudah tidak lagi sepenuhnya memadai dibandingkan perkembangan jumlah penduduk dan wisatawan.

Kondisi itu menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata tidak bisa hanya berbicara mengenai promosi destinasi. Infrastruktur dasar harus lebih dulu disiapkan agar pertumbuhan kunjungan tidak justru menambah beban pelayanan masyarakat.

Tidung dan tantangan menjadi kawasan wisata

Persoalan yang berbeda terlihat di Pulau Tidung. Di pulau ini, Rano meninjau sejumlah infrastruktur pariwisata yang telah tersedia.

Pulau Tidung selama ini dikenal sebagai salah satu tujuan wisata di Kepulauan Seribu. Keberadaan pantai, aktivitas wisata bahari, serta fasilitas pendukung menjadikannya memiliki potensi untuk terus dikembangkan.

Namun, potensi tersebut membutuhkan infrastruktur yang memadai. Rano menegaskan, arah pengembangan Pulau Tidung ke depan akan difokuskan sebagai kawasan wisata.

Dengan demikian, pembangunan tidak berhenti pada mempercantik kawasan. Pemerintah perlu memastikan fasilitas wisata, akses, pelayanan publik, hingga infrastruktur dasar mampu menopang aktivitas masyarakat dan wisatawan secara bersamaan.

Rano mengakui masih belum seluruh pulau di Kepulauan Seribu dikunjungi untuk melakukan pemetaan. Banyaknya pulau membuat pemerintah perlu menentukan tahapan pengembangan dengan mempertimbangkan kondisi dan jumlah penduduk.

“Saya bersyukur bisa ke Tidung melihat segala macam fasilitas, dan mungkin juga kekurangan apa yang harus kita evaluasi. Kemudian ke Untung Jawa, coba melihat, apa yang kita punya, dan yang harus kita evaluasi,” ujar Rano di Jakarta,  Jumat (25/9).

Pariwisata tak bisa berdiri sendiri

Kunjungan ke Untung Jawa dan Tidung memperlihatkan satu persoalan yang saling berkaitan. Destinasi wisata yang berkembang membutuhkan layanan dasar yang kuat. Sebaliknya, investasi pada infrastruktur dasar akan semakin penting ketika aktivitas ekonomi dan pariwisata meningkat.

Selain air bersih, Rano mencatat kebutuhan penguatan pasokan listrik dan jaringan internet. Ketiganya menjadi bagian penting dari ekosistem pariwisata modern.

Pengelolaan infrastruktur juga tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah. Masyarakat pulau memiliki peran penting karena mereka merupakan bagian langsung dari kehidupan sekaligus aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.

Rano menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Pulau Tidung dan Untung Jawa yang selama ini ikut membangun Kepulauan Seribu.

“Pemerintah akan sulit merealisasikan pembangunan apabila tidak ada partisipasi dari masyarakat,” katanya.

Karena itu, belanja masalah yang dilakukan Rano bukan sekadar kunjungan lapangan. Temuan mengenai keterbatasan SWRO di Untung Jawa, kebutuhan penguatan infrastruktur wisata di Tidung, hingga persoalan listrik dan internet menjadi bahan untuk menentukan prioritas pembangunan.

“Nah, inilah kita hadir untuk belanja masalah. Nanti setelah itu, baru kita bahas dalam Ratas, apa saja yang mesti menjadi prioritas,” tandasnya.

Bagi Kepulauan Seribu, pengembangan pariwisata pada akhirnya bukan hanya tentang mendatangkan lebih banyak orang. Tantangan sebenarnya adalah memastikan setiap tambahan wisatawan dapat dilayani dengan infrastruktur yang cukup, tanpa mengurangi kualitas hidup masyarakat yang tinggal di pulau-pulau tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *