KabarJakarta.com — Di Pulau Sabira, Kepulauan Seribu, upaya menjaga laut tidak hanya dilakukan dengan menanam mangrove atau memulihkan terumbu karang. Anak-anak sekolah pun mulai diajak memahami bahwa kehidupan di laut memiliki hubungan erat dengan masa depan mereka.
Pada Rabu (30/9), sejumlah pelajar di Pulau Sabira mengikuti kegiatan edukasi konservasi penyu di Rumah Singgah Pulau Sabira. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pelestarian penyu yang didukung melalui tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dengan melibatkan 6 (enam) relawan.
Di tempat itu, para pelajar tidak sekadar mendengar cerita tentang penyu. Mereka dikenalkan pada siklus kehidupan satwa laut tersebut sekaligus alasan mengapa keberadaannya perlu dijaga.
Perwakilan Karang Taruna Kelurahan Pulau Harapan, Agung, menjelaskan edukasi tersebut sengaja diarahkan kepada anak-anak agar kepedulian terhadap lingkungan tumbuh sejak dini.
“Pelajar dikenalkan dengan penyu. Mulai dari siklus kehidupan hingga pentingnya menjaga kelestarian penyu dan ekosistem laut di Kepulauan Seribu,” ujar Agung, Rabu (30/9).
Penyu merupakan bagian penting dari ekosistem laut. Keberadaannya tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan kondisi habitat tempat satwa itu mencari makan, berkembang biak dan bertelur. Karena itu, menjaga penyu pada dasarnya juga berarti menjaga laut tempat kehidupan berbagai jenis biota.

Bagi masyarakat Pulau Sabira, persoalan tersebut memiliki arti yang lebih dekat. Laut bukan sekadar bentang alam di sekitar permukiman. Laut merupakan ruang hidup sekaligus sumber penghidupan masyarakat, terutama nelayan.
Karena itu, konservasi tidak cukup hanya berbicara mengenai perlindungan satwa. Ekosistem yang sehat juga harus mampu menopang kehidupan masyarakat yang bergantung kepadanya.
Upaya tersebut juga terlihat dari program konservasi Sabira Green and Digital Lighthouse Island yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu bersama PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Jakarta Raya pada awal Agustus 2026. Program yang berlangsung sejak 2022 itu diarahkan untuk menjaga ekosistem laut sekaligus meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan nelayan.
Salah satu bentuknya adalah bantuan rumpon konservasi dan transplantasi terumbu karang.
Lurah Pulau Harapan, Muhammad Nuralim, mengungkapkan keberadaan rumpon membantu nelayan menemukan lokasi penangkapan ikan dengan lebih terukur. Dampaknya bukan hanya terhadap efektivitas melaut, tetapi juga penggunaan bahan bakar.
Jika sebelumnya nelayan membutuhkan sekitar 30 liter BBM untuk sekali melaut, konsumsi tersebut dapat ditekan menjadi sekitar 10 liter setelah lokasi rumpon ditentukan secara terukur.
“Kami sangat mengapresiasi kepedulian PLN terhadap lingkungan dan masyarakat nelayan di Pulau Sabira ini. Bantuan tersebut menjadi bentuk dukungan nyata dalam menjaga kelestarian laut, sekaligus membuat aktivitas penangkapan ikan lebih efektif dan lebih ramah lingkungan,” kata Nuralim.
Di sinilah konservasi menunjukkan wajah yang lebih luas. Melindungi laut tidak harus dipertentangkan dengan kebutuhan ekonomi masyarakat. Justru, ketika ekosistem dikelola dengan baik, konservasi dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat penghidupan warga.
Terumbu karang yang sehat menyediakan habitat bagi berbagai biota laut. Mangrove membantu menjaga kawasan pesisir sekaligus menjadi tempat hidup dan berkembang berbagai organisme. Sementara rumpon konservasi membantu mengarahkan aktivitas penangkapan ikan agar lebih efisien.
Dalam pelaksanaan program tersebut, PLN mencatat telah menanam 2.000 bibit mangrove dan melakukan transplantasi 1.600 bibit terumbu karang di kawasan Pulau Sabira.
General Manager PT PLN UID Jakarta Raya, Andy Adchaminoerdin, menilai keberhasilan program tersebut tidak hanya ditentukan oleh jumlah tanaman atau terumbu karang yang dipulihkan. Kemandirian masyarakat menjadi bagian penting dari keberlanjutan konservasi.
“Kami berharap model konservasi terintegrasi ini bisat terus berkembang, dan menjadi contoh bagi wilayah lain,” ujarnya.
Karena itu, masyarakat juga dilibatkan dalam penguatan kapasitas. Pemuda Karang Taruna mendapatkan pelatihan sebagai pemandu ekowisata. Pelaku usaha kecil dan menengah mendapat pendampingan untuk memodernisasi pengolahan hasil laut.
Pendekatan tersebut membuat konservasi tidak berhenti di bawah permukaan laut. Ia masuk ke ruang ekonomi masyarakat, membuka kemungkinan bagi pemuda untuk terlibat dalam ekowisata dan membantu pelaku usaha meningkatkan nilai hasil laut.
Pendidikan kepada pelajar menjadi bagian lain dari mata rantai tersebut.
Kepala SDN Pulau Harapan 02 sekaligus Kepala SMPN Satu Atap 02 Pulau Sabira, Ispianah, menilai kegiatan konservasi memberikan pengalaman belajar yang tidak selalu diperoleh di dalam kelas.
“Kegiatan ini bermanfaat, karena para siswa memperoleh pengetahuan langsung tentang penyu dan pentingnya menjaga lingkungan. Kami harap kepedulian mereka terhadap kelestarian laut semakin meningkat,” tegasnya.
Bagi para siswa, persoalan konservasi yang selama ini mungkin terdengar sebagai isu besar menjadi sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Asti Ananta, siswi SMPN Satu Atap 02 Pulau Sabira, mengaku senang setelah mengetahui lebih jauh tentang kehidupan penyu.
“Saya senang bisa mengikuti kegiatan ini. Saya bisa mengetahui bagaimana penyu hidup dan berkembang. Saya juga jadi tahu bahwa penyu merupakan satwa laut yang harus dilindungi dan laut harus dijaga kebersihannya,” ujarnya.
Pengetahuan sederhana itu penting karena konservasi pada akhirnya membutuhkan perubahan perilaku. Penyu tidak akan terlindungi hanya karena ada program pelepasliaran atau edukasi sesekali. Habitatnya juga harus tetap terjaga, laut tidak dipenuhi sampah, dan aktivitas manusia tidak merusak ruang hidupnya.
Hal serupa berlaku untuk terumbu karang dan mangrove. Menanam bibit dan melakukan transplantasi merupakan langkah awal. Setelah itu, masyarakat perlu memastikan ekosistem yang dipulihkan tidak kembali rusak.
Agung berpendapat, keterlibatan pelajar diharapkan menjadi bagian dari proses tersebut.
“Kami ingin anak-anak mendapatkan pengetahuan yang baru dan mereka tumbuh menjadi bagian dari upaya menjaga penyu serta lingkungan laut di Pulau Sabira,” tuturnya.
Pada akhirnya, masa depan konservasi Pulau Sabira tidak hanya bergantung pada program pemerintah, perusahaan, atau lembaga tertentu. Keberlanjutannya sangat ditentukan oleh warga yang hidup berdampingan dengan laut.
Nelayan membutuhkan laut yang produktif. Penyu membutuhkan habitat yang aman. Terumbu karang dan mangrove membutuhkan perlindungan. Sementara generasi muda membutuhkan lingkungan yang masih mampu menyediakan sumber kehidupan ketika mereka dewasa nanti.
Karena itu, menjaga penyu di Pulau Sabira bukan sekadar menyelamatkan satu jenis satwa. Ia merupakan bagian dari usaha yang lebih besar untuk mempertahankan keseimbangan ekosistem laut, sekaligus memastikan masyarakat pesisir tetap memiliki ruang hidup dan sumber penghidupan.
Di pulau kecil itu, konservasi akhirnya menemukan maknanya yang paling nyata: laut yang sehat untuk satwa, laut yang produktif bagi nelayan, dan laut yang tetap dapat diwariskan kepada anak-anak yang hari ini sedang belajar mengenalnya.






