KabarJakarta.com — Lahan kosong seluas sekitar 1.000 meter persegi di Jalan Haji Radin, RT 02/04, Kelurahan Petukangan Utara, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, kini memiliki wajah yang berbeda.
Sebelumnya, lahan tersebut terbengkalai dan kerap menjadi tempat warga membuang sampah secara sembarangan. Tidak jarang, sampah yang menumpuk kemudian dibakar. Kondisi itu membuat lahan tidak hanya kehilangan fungsi, tetapi juga berpotensi mengganggu kenyamanan dan kualitas lingkungan warga sekitar.
Kini, lahan tersebut mulai berubah menjadi kawasan ketahanan pangan produktif. Tanah yang sebelumnya nyaris tidak memberikan manfaat itu dimanfaatkan untuk pertanian dan perikanan warga.
Perubahan tersebut dilakukan melalui Penataan Kawasan Unggulan Triwulan III oleh Kelurahan Petukangan Utara. Pemerintah kelurahan menggandeng pemilik lahan dan warga sekitar untuk mengubah kawasan yang sebelumnya identik dengan sampah menjadi ruang produktif.
Lurah Petukangan Utara Ahmad Hasan Husaini mengungkapkan penataan dilakukan dengan mengusung tema peningkatan ketahanan pangan.
“Penataan kawasan dilakukan dengan mengusung tema peningkatan ketahanan pangan. Caranya dengan memanfaatkan lahan milik warga yang sebelumnya tidak digunakan dengan baik,” ujar Hasan di Jakarta, Selasa (6/10).
Mengubah kebiasaan di lahan terbengkalai
Mengubah lahan yang sebelumnya menjadi lokasi pembuangan dan pembakaran sampah liar tentu bukan pekerjaan sederhana. Selain membersihkan kawasan, warga juga perlu mengubah kebiasaan agar lahan yang sudah ditata tidak kembali menjadi tempat pembuangan sampah.
Kelurahan kemudian membentuk Kelompok Tani Karya Hijau bersama pemilik lahan dan masyarakat setempat. Selama sekitar 2,5 bulan, kawasan itu ditata sekaligus dilengkapi berbagai fasilitas pendukung.
“Kita mengerjakan selama 2,5 bulan, sehingga manfaatnya kini sudah bisa dirasakan langsung oleh warga,” terang Hasan.
Kini terdapat kolam gizi untuk budi daya ikan, fasilitas komposting, serta lubang biopori yang dapat digunakan untuk mengolah sampah organik. Sebuah saung multifungsi juga dibangun sebagai ruang bersama warga.
Kehadiran fasilitas tersebut menunjukkan bahwa penataan lahan tidak sekadar mengubah tanah kosong menjadi kebun. Konsepnya dibuat lebih menyeluruh, dengan menghubungkan produksi pangan dan pengelolaan lingkungan.
Tantangan berikutnya adalah memastikan kawasan itu tetap terawat dan produktif. Tanpa keterlibatan warga, lahan yang sudah dibersihkan berisiko kembali terbengkalai.
Karena itu, keberadaan kelompok tani menjadi penting. Warga tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi ikut bertanggung jawab merawat tanaman, kolam ikan, fasilitas pengolahan sampah, dan lingkungan sekitar.
Dari urban farming hingga ruang belajar
Hasan berharap kawasan tersebut berkembang menjadi tempat belajar warga mengenai pertanian perkotaan atau urban farming. Di tengah keterbatasan lahan Jakarta, pertanian tidak harus selalu dilakukan di wilayah pedesaan. Lahan kosong di tengah permukiman pun dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan.
Saung multifungsi di kawasan itu juga dirancang untuk memperluas manfaat. Selain menjadi tempat pertemuan kelompok tani, fasilitas tersebut dapat digunakan untuk latihan seni bela diri beksi dan tempat belajar anak-anak yang dibina warga.
Dengan demikian, lahan yang sebelumnya menjadi sumber persoalan lingkungan perlahan berubah menjadi ruang sosial.
Dari sisi pangan, manfaatnya juga mulai terlihat. Tanaman seperti terung, cabai, dan berbagai sayuran ditanam untuk memenuhi sebagian kebutuhan warga.
Ketua RW 04 Petukangan Utara, Khairudin, menjelaskan keberadaan kawasan ketahanan pangan tersebut membantu warga RT 02 dan RT 10.
“Warga sudah bisa belajar bertani bersama dan memetik hasilnya, seperti cabai, terung, dan sayuran lain untuk kebutuhan pangan harian,” ucap Khairudin.
Sebagian hasil panen nantinya dijual kepada warga sekitar. Pendapatan tersebut akan digunakan untuk membantu kebutuhan operasional lingkungan, termasuk pembayaran listrik. Sementara hasil lainnya disalurkan untuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat.
Hasan membeberkan hasil budi daya ikan dan pertanian juga diarahkan untuk membantu penanganan anak stunting. Ini membuktikan, pemanfaatan lahan kosong ini tidak berhenti pada persoalan penghijauan.
“Ada manfaat ekonomi, sosial, lingkungan, sekaligus ketahanan pangan yang coba dibangun secara bersamaan,” tuturnya.
Berkah untuk pemilik lahan
Bagi pemilik lahan, perubahan tersebut telah memberikan nilai baru terhadap tanah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan. Lahan yang semula berpotensi menjadi titik kumuh, kini dapat digunakan bersama untuk kegiatan produktif tanpa kehilangan fungsi kepemilikannya.
Pada akhirnya, keberhasilan kawasan di Jalan Haji Radin bukan hanya diukur dari berapa banyak tanaman yang tumbuh atau ikan yang dipanen. Ada hal yang lebih penting, yakni apakah kebiasaan warga ikut berubah.
Sampah yang sebelumnya dibuang dan dibakar mulai diarahkan untuk diolah. Lahan yang sebelumnya kosong mulai menghasilkan pangan. Warga yang sebelumnya hanya melihat lahan terbengkalai, kini memiliki ruang untuk belajar dan berkegiatan bersama.
Di tengah Jakarta yang terus berkembang dan menghadapi keterbatasan ruang, pengalaman Petukangan Utara menunjukkan bahwa lahan kosong tidak selalu harus menunggu pembangunan besar. Dengan pengelolaan yang tepat dan keterlibatan warga, sebidang tanah yang semula menjadi masalah bisa diubah menjadi sumber pangan sekaligus ruang hidup yang lebih bermanfaat.






