KabarJakarta.com — Air laut kembali menjadi ancaman yang harus dihadapi warga pesisir Jakarta Utara. Di Jalan Mandala Bahari, Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Utara membangun tanggul mitigasi sepanjang 80 meter untuk menutup titik yang selama ini menjadi jalur masuk air laut ke daratan.
Kepala Sudin SDA Jakarta Utara Heria Suwandi, menyebut pembangunan tersebut bukan tanpa alasan. Saat pasang laut ekstrem, ketinggian air dapat mencapai 2,8 meter. Sementara tanggul baru dirancang setinggi 3,15 meter, atau sekitar 35 sentimeter lebih tinggi dari ketinggian pasang ekstrem tersebut.
“Saat pasang laut ekstrem, tinggi air telah mencapai 2,8 meter dan tanggul yang dibangun saat ini 3,15 meter, sehingga air laut tak dapat masuk,” kata Heria, Selasa (6/10).
Selama ini, kawasan tersebut memang menjadi salah satu titik rawan limpasan rob. Tanggul yang sebelumnya hanya sekitar dua meter tidak selalu mampu menahan air ketika laut pasang tinggi. Air kemudian masuk ke jalan, kawasan pergudangan milik Sudin Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Utara, hingga permukiman warga.
Pembangunan 80 meter ini merupakan bagian dari penyempurnaan tanggul mitigasi yang sebelumnya sudah mencapai sekitar 200 meter. Pekerjaan tersebut ditargetkan selesai pada akhir Desember 2026.
Rob dan kehidupan warga pesisir
Bagi warga Mandala Bahari, rob bukan sekadar istilah dalam peringatan cuaca. Air laut yang masuk ke permukiman dapat mengganggu aktivitas harian, akses jalan, hingga kegiatan ekonomi.
Gambaran itu terlihat dalam laporan detikX pada 23 Desember 2024. Ketika rob menerjang Kampung Mandala Bahari pada 17 Desember 2024, air yang awalnya hanya setinggi mata kaki perlahan naik hingga lutut. Di beberapa lokasi bahkan mencapai pinggang orang dewasa. Rumah-rumah warga ikut tergenang.
Idris, warga Kampung Mandala Bahari, mengungkapkan bahwa warga sudah terbiasa menghadapi rob. Namun, kondisi tersebut bukan berarti mereka memiliki banyak pilihan.
“Ini kenyataannya orang kalangan bawah, ya memang kayak gini. Mau diapain lagi?” ujar Idris dikutip detikX pada 17 Desember 2024.
Kondisi itu memperlihatkan bahwa persoalan rob tidak berhenti pada urusan air laut. Ada warga yang tinggal sangat dekat dengan garis pantai karena keterbatasan pilihan hunian. Rumah sekaligus menjadi tempat tinggal dan bagian dari sumber penghidupan mereka.
Pengamat tata kota Yayat Supriyatna, dalam wawancara dengan Media Indonesia pada 29 September 2026, mengungkapkan masyarakat pesisir sebenarnya sudah terbiasa menghadapi rob. Namun pemerintah tetap harus memberikan informasi yang lebih jelas mengenai ketinggian dan durasi genangan.
“Berapa lama dan berapa tinggi, itu yang memang harus diinformasikan. Karena bagaimanapun, hal itu akan mempengaruhi kegiatan ekonomi masyarakat,” kata Yayat.
Menurut Yayat, kelompok berpenghasilan rendah menjadi salah satu kelompok paling rentan karena tidak selalu memiliki kemampuan untuk pindah dari kawasan berisiko. Karena itu, persoalan rob berkaitan pula dengan kemiskinan, tata ruang, dan akses terhadap hunian yang layak.
Tanggul lokal dan NCICD
Tanggul 80 meter di Mandala Bahari juga tidak berdiri sendiri. Di kawasan pesisir Jakarta telah dibangun tanggul pengaman pantai melalui program National Capital Integrated Coastal Development (NCICD).
Dinas SDA DKI menjelaskan NCICD Fase A berfungsi sebagai perlindungan pesisir, garis pantai, dan muara sungai dari ancaman rob. Pembangunannya juga diintegrasikan dengan sistem polder, pompa, waduk pesisir, serta jaringan drainase.
Dengan demikian, tanggul mitigasi di Mandala Bahari berfungsi sebagai pelindung pada titik tertentu, sementara NCICD menjadi bagian dari sistem perlindungan pesisir dalam skala yang lebih luas.
Pemerintah mencatat persoalan ini masih membutuhkan pekerjaan bertahap. Sejumlah titik di Jakarta Utara memiliki tanggul yang lebih rendah dibandingkan ketinggian air maksimum saat rob.
“Ini yang sedang coba kami perbaiki pelan-pelan, sehingga nantinya seluruh titik dapat teratasi dengan baik,” ujar Heria.
Tantangannya memang tidak sederhana. Jakarta Utara menghadapi penurunan muka tanah sekaligus kenaikan muka air laut. Dinas SDA menyebut NCICD dirancang sebagai strategi jangka panjang menghadapi dua tekanan tersebut.
Karena itu, keberhasilan tanggul 80 meter di Mandala Bahari nantinya tidak hanya diukur dari apakah air kembali masuk atau tidak. Yang lebih penting adalah apakah pembangunan tersebut benar-benar mampu memutus jalur limpasan, melindungi permukiman dan aktivitas warga, serta menjadi bagian dari sistem perlindungan pesisir Jakarta yang saling terhubung.
Di tengah ancaman rob yang terus berulang, bagi warga Mandala Bahari, tanggul baru itu pada akhirnya bukan sekadar beton setinggi 3,15 meter. Ia adalah batas antara laut yang sedang pasang dan kehidupan sehari-hari yang ingin tetap berjalan.






