Di Bawah Laut Pulau Tidung, Terumbu Karang Menemukan Kehidupannya Kembali

Hasil pemantauan Unit Pelaksana Teknis Pusat Budidaya dan Konservasi Laut (UPT PBKL) Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, menunjukkan upaya rehabilitasi terumbu karang kawasan perairan Pulau Tidung mengalami perkembangan positif. Foto: Dinas KPKP DKI

KabarJakarta.com —  Di bawah permukaan laut Pulau Tidung, pekerjaan pemulihan tidak berlangsung dengan suara mesin atau hiruk-pikuk pembangunan. Ia berjalan perlahan, hampir tanpa suara.

Para pemantau harus menyelam untuk melihat langsung bagaimana fragmen-fragmen karang tumbuh di atas media substrat. Satu per satu diperiksa. Apakah masih melekat kuat? Apakah mulai tumbuh? Bagaimana karang menghadapi arus?

Dan yang tidak kalah penting, apakah lingkungan di sekitarnya masih cukup mendukung untuk membuat karang bertahan? Dari penyelaman dan pemantauan itulah kabar baik datang.

Di kawasan perairan Pulau Tidung Besar, tutupan terumbu karang kini mencapai 59,70 persen. Angka tersebut masuk kategori baik dan menjadi salah satu tanda bahwa upaya rehabilitasi mulai memperlihatkan hasil.

Di Pulau Tidung Kecil, tutupan karang tercatat 33,93 persen, yang berada dalam kategori sedang.

Bagi ekosistem laut, angka itu bukan sekadar persentase. Di baliknya terdapat proses panjang untuk membuat karang kembali tumbuh dan bertahan di lingkungan yang terus berubah.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Pusat Budidaya dan Konservasi Laut (UPT PBKL) Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Andi Dala Jemma, mengungkapkan pemantauan dilakukan secara berkala untuk memastikan karang yang telah direhabilitasi berkembang dengan baik.

“Pemantauan sengaja dilakukan secara berkala dan berkelanjutan. Kegiatan itu dilakukan untuk memastikan terumbu karang yang sudah direhabilitasi bisa tumbuh dan berkembang dengan baik,” ujar Andi, Kamis (8/10).

Cerita pemulihan di bawah permukaan

Tidak ada pemulihan ekosistem yang selesai hanya karena bibit sudah ditanam. Setelah transplantasi, karang harus melewati tahap yang jauh lebih menentukan: bertahan hidup dan tumbuh.

Tim UPT PBKL melakukan pemeriksaan langsung di bawah permukaan laut menggunakan peralatan pendukung penyelaman. Kondisi substrat, pertumbuhan karang, tingkat tutupan, hingga lingkungan di sekitar lokasi rehabilitasi menjadi bagian dari pemantauan.

Kondisi sebelumnya secara kuantitatif tidak disebutkan dalam data yang tersedia. Karena itu, angka 59,70 persen tidak dapat disebut sebagai kenaikan sebesar sekian persen dibanding kondisi awal. Namun, kondisi karang yang kini mulai tumbuh dan melekat kuat menunjukkan adanya perkembangan positif dalam proses rehabilitasi.

Pemantauan juga diarahkan untuk melihat kemampuan karang menghadapi tekanan lingkungan.

“Konservasi tidak berhenti hanya di penanaman bibit. Pemantauan diperlukan untuk melihat ketahanan karang terhadap sedimentasi dan perubahan suhu air laut. Dengan begitu, pemulihan ekosistem bisa berlangsung optimal,” kata Andi.

Sedimentasi menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan karena material yang mengendap dapat menutup permukaan karang. Perubahan suhu air laut juga menjadi tekanan bagi ekosistem terumbu.

Karena itu, karang yang terlihat tumbuh belum otomatis berarti pekerjaan selesai. Ia masih harus diuji oleh kondisi perairan dari waktu ke waktu.

Ketika karang mulai bertahan

Cerita serupa terlihat di kawasan lain yang menjadi lokasi rehabilitasi. Ketua DPL-BM Ekopuri Pulau Pari, Ibe, menjelaskan fragmen karang yang ditransplantasikan mulai melekat kuat pada media substrat.

Karang tersebut juga mulai mampu beradaptasi dengan arus perairan setempat. “Bibit karang tampak mulai tumbuh stabil. Kehadiran tim PBKL yang memantau langsung menjadi penyemangat kami untuk terus konsisten merawat laut,” tegas Ibe.

Tahap ini penting karena transplantasi pada dasarnya baru merupakan awal. Fragmen karang harus mampu bertahan pada substrat sebelum berkembang dan membentuk struktur terumbu yang lebih kuat.

UPT PBKL sendiri telah mendistribusikan 10.684 bibit karang ke sejumlah Daerah Perlindungan Laut Berbasis Masyarakat (DPL-BM) di Pulau Tidung, Pulau Pari, Pulau Payung, dan Pulau Lancang.

Namun, sebanyak apa pun bibit yang ditanam tidak akan banyak berarti apabila kawasan tersebut kembali mengalami kerusakan. Pada situasi itu, masyarakat pesisir perlu hadir untuk mengambil peran.

Laut dijaga bersama

Ketua DPL-BM Lestari Indah Pulau Tidung, Lah Mudin, membeberkan pemantauan rutin telah membantu kelompok masyarakat dalam mengetahui perkembangan terumbu karang, sekaligus menentukan perawatan yang diperlukan.

“Kami sangat bersyukur ada perkembangan yang cukup baik. Substrat dan bibit yang diberikan terus kami pantau dan dirawat bersama,” ucapnya.

Menurut dia, fase pertumbuhan karang membutuhkan perhatian serius. Pemeliharaan intensif setidaknya selama tiga tahun diperlukan agar karang memiliki waktu yang cukup untuk berkembang.

Peran masyarakat juga penting untuk mencegah aktivitas penangkapan ikan yang merusak atau destructive fishing. Praktik semacam itu dapat menghancurkan karang yang membutuhkan waktu panjang untuk tumbuh kembali.

Itu sebabnya, konservasi tidak hanya berbicara mengenai apa yang dilakukan pemerintah di dalam laut. Ia juga berbicara tentang kesediaan masyarakat menjaga kawasan setelah program rehabilitasi berjalan.

Andi mengungkapkan keberhasilan konservasi laut memang tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Kelompok pengelola DPL-BM diharapkan semakin berdaya dan konsisten menjaga kawasan perairan.

Karang sehat, ikan bertambah, warga mendapat manfaat

Jika terumbu karang mampu tumbuh dan bertahan, manfaatnya tidak berhenti di bawah laut. Terumbu karang merupakan habitat bagi berbagai biota laut.

Ekosistem yang lebih sehat dapat mendukung kelimpahan stok ikan, yang pada akhirnya berkaitan dengan kehidupan masyarakat pesisir.

Di sisi lain, terumbu karang yang terawat juga membuka peluang pengembangan ekowisata bahari. Laut yang sehat dapat menjadi sumber penghidupan sekaligus ruang pendidikan bagi masyarakat.

“Karang yang sehat dipastikan berdampak pada kelimpahan stok ikan. Sekaligus membuka peluang ekowisata bahari bagi warga,” papar Andi.

Bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, pemulihan terumbu karang juga berarti menjaga aset ekologis Kepulauan Seribu. Pemerintah berperan menyediakan bibit, pendampingan dan pemantauan, sementara masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga kawasan sehari-hari.

Pulau Tidung kini memberikan satu pesan sederhana: memulihkan laut membutuhkan waktu, kesabaran, dan kerja bersama.

Angka 59,70 persen memang menjadi kabar baik. Tetapi pekerjaan belum selesai. Di bawah permukaan laut, fragmen-fragmen karang itu masih harus terus tumbuh, menghadapi sedimentasi, perubahan suhu, arus dan berbagai tekanan lainnya.

Sebab, keberhasilan rehabilitasi terumbu karang bukan hanya ketika karang berhasil ditanam. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika karang itu mampu bertahan, tumbuh menjadi ekosistem, menyediakan ruang hidup bagi biota laut, dan pada akhirnya kembali memberi manfaat bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *